Kita bertemu pada waktu yang absurd

#Untuk D. Kita bertemu pada waktu yang absurd, dan (anggap saja) itu adalah sengsaraku. Betapa syairku pengin mengembara di lekuk tubuhmu namun lidahku kelu memanjat namamu tanganku lunglai untuk merapal aksaramu sebagai harap dalam keresahan selalu nikmat menikmati waktu dengan sisa senyummu sebab “kita” bukanlah milik kamu dan aku. Kita bertemu pada waktu yang absurd, …

Continue reading Kita bertemu pada waktu yang absurd

Advertisements

Mari mempercepat malam dan menyetubuhi pagi: kali ini kita akan mencurangi waktu

#Untuk D. Kita pernah terikat dalam buaian malam menyaksikan bulan dan bintang menjadi muram meresapi dingin yang suram: terjebak dalam hati yang sepi, di antara nyanyian lampu kota yang tidak bisa dimengerti lupa bagaimana caranya merayakan pagi. Hening … Sunyi … Emosi mulai mengering, hampir mati, bersembunyi dalam jantung berbentuk persegi. Aku selalu saja mati …

Continue reading Mari mempercepat malam dan menyetubuhi pagi: kali ini kita akan mencurangi waktu

Carpe diem

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta: kamu tidak sedang tergesa-gesa kan, sayang? Proses menumpuk rindu (untuk kemudian mempertemukannya) bisa berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Kita hanya perlu menikmati proses kemenjadiannya -- atau mungkin kita bisa mulai belajar tipu muslihat untuk melipat ruang dan mencurangi waktu. “Hidup hanya menunda kekalahan … sebelum akhirnya menyerah.” -- Chairil …

Continue reading Carpe diem

Pada detak jam yang lupa waktu

Bagaimana kecupan malammu: apakah masih terlampau dingin? Jejakmu masih bisu saat kusapa dengan rindu lalu, aku merangkumnya menjadi satu ke dalam sebuah Sabtu bersama nyeri dan hasrat yang enggan meragu kelelahan adalah masa lalu saat kamu tertidur di pelukanku pada detak jam yang melupa waktu satu per satu kenangan runtuh di tubuhku. Bagaimana pelukan pagimu: …

Continue reading Pada detak jam yang lupa waktu

Semua masih sama di waktu yang berbeda

Seluruh tubuh saya diselimuti kabut senja. Saya hanya dapat mewujud dalam secarik kenangan setelah menyusuri seluruh lekuk keindahan tubuhmu. Saya tetaplah sang pecinta tanpa ikatan tradisi seperti yang biasanya diwariskan sepasang kekasih di sini. Menjunjung rindu di atas pundak membikin saya seperti dungu yang menggigil bersidekap dengan hangat yang mulai terpejam di tepian cakrawala langit …

Continue reading Semua masih sama di waktu yang berbeda