Monumen romantika

Suara menyapa meretas kata dunia seteguk duka, semburat airmata langit merajah luka pada kemolekan tubuh yang fana berteduh di bawah pohon khuldi aku dan kamu menjadi janji pandangan matamu isyarat madu menungguku menyesap manis bibirmu lemah-lembut lidahmu menjelma doa yang beradu dengan airmata kedua tubuh merapat saling menguat tanpa menggugat dosa melukis bahagia pada pangkuan …

Advertisements

Kita: serapah pitanggang kepada terang

/1/ Di ujung salah satu gang perumahan, deret nomor tiga teras rumahmu bertembok putih membuncah dengan lantai keramik biru tua yang lupa usia muda dengan pagar besi warna senja rekah bertaman bunga yang dipepatkan dalam pot-pot plastik dipajang berjejer laiknya serdadu antik dari sela-sela keheningan bernada matamu padaku sederhana serupa teduh pohon di musim kemarau. …

#DaftarPutar, part four: ode to celebrate Si Nyonya Tua V

This dance is like a weapon … of self defense … against the present.

Kita — saya dan kamu — seringkali memulai banalitas hidup harian dengan menikmati sesuatu, salah satunya adalah dengan mendengarkan musik sembari menyesap secangkir kopihitam dan mengisap beberapa batang rokokputih. Itu bisa dianggap sebagai salah satu cara kita untuk memersepsikan sesuatu. Mendengarkan musik adalah salah satu dari sedikitnya kenikmatan estetis yang bisa kita rayakan dengan sehormat-hormatnya dan sebaik-baiknya, sebab kenikmatan semacam itu adalah sebuah kesenangan dalam merenungkan sesuatu yang jarang sekali kita dapati di tengah-tengah perputaran roda zaman yang semakin cepat dan semakin gila ini.
Continue reading “#DaftarPutar, part four: ode to celebrate Si Nyonya Tua V”

Pecah seperti cangkir kopi yang jatuh dari meja makan — dan pagi bakal merapikanmu kembali…

Padamkan lampu kamar tidurmu kenakan kacamata hitam itu pejamkan matamu biar gelap menjadi lebih hitam lebih kelam dari malam ini saatnya menutup diri dari keramaian mengurai keluh, mengistirahatkan lelah kepadamu, aku mungkin bakal datang sebentar lagi dengan sisa kopihitam di pangkal lidah dan aroma rokokputih dalam pendar cahaya lilin kecil mengecupmu, mengajakmu menari menyesap ekstase …

Kepada perempuan yang menyelipkan doa di balik jendela

Saya melihatmu menyimpul luka dengan tatap hitam yang berdiam kelam, mengumpulkan kepak malam di wajah. Ada sayap yang kamu patahkan di sela-sela ikatan karena gema jantungmu terlahir untuk binasa. Pekat sungguh cerdik mendekapmu, menarikmu dalam kesunyian yang rumit, dan mengabadikan diri pada jantung persegi yang pandai memeluk rahasia dengan erat. Utuh cintamu tidak pernah cukup …