Teras rumah #2

Di teras rumah itu ribuan senja yang lalu kusentuh wajah dingin yang jahanam sampai batin terdalam di mana Semesta adalah satu hal sementara kita adalah partikel remeh lainnya yang tergelincir dari sabda Aphrodite. Kita tetap saling melempar tawa mengasah mata merayakan yang siasia : di dalam dada. Kita bebas berlari sampai letih menaklukkan satu per …

Continue reading Teras rumah #2

Teras rumah

Saya masih ingat teras rumah itu: tembok putihnya yang berpadu dengan lantai keramik berwarna biru tua, potpot kecil berisi bunga warna-warni, rak sepatu yang kosong karena sepatusepatu selalu berserakan di depan pintu yang warna cokelatnya dibiarkan memudar, dan kamu yang selalu mampu menutupi resah dengan tawa saat menyambut diri saya yang datang membawa sekarung rindu …

Continue reading Teras rumah