Lupa

Seisi kota lupa langit gulita sebab tidak ada bedanya toh siang-malam sama pekatnya tawa kian lantang di pesta-pesta lupa bahwa luka masih nganga. -- Ah, aku juga lupa bir dan bibirku sama-sama berbusa. {}

Rindu macam apa yang kita semai?

Kerinduan menjelma simbol dan angka dikirim sinyal lewat udara dan diterima oleh mesin-mesin tunai rindu macam apa yang sebenarnya kita semai? Kerinduan yang berupa nominal mengalahkan jantung yang mewujud lautan tidak terukur kedalaman dengan simbol dan angka. Kutampung rintik lemah hujan senja namun tetap saja tidak bisa membeli pulsa sebagai bekal untuk sekadar menyapa: “sayang, …

Continue reading Rindu macam apa yang kita semai?

Nyeri

Nyeri bukan sebab luka sayat di jantung persegi ketika aku, tanpa ibu-ayah, menjalani hari-hari sendiri nyeri ada sebagai bekal kelahiranku di Bumi rasa sakit purba yang tidak seorang pun bisa memahami lebih asing ketimbang tuhan atau cinta itu sendiri. ~ Nyeri ini kunamai puisi. {}

Kepada tubuh

Kaki tiba-tiba patah tidak bisa dipakai melangkah. Tangan pun mendadak runtuh tidak bisa lagi merengkuh. Bibir malah lebih dulu pecah tak tersisa celah untuk bersumpah. Hanya pada mata yang rapuh ada rindu dan cinta terjaga utuh. {}

Lelaki yang memasuki api

Ia memasuki api tak dijumpainya Eros, tidak pula segala dewa ia seutuhnya sendiri terlingkup udara jelaga. Ia memasuki api bukan untuk menemukan yang dicari ia telah memasuki api karena ia lelaki bersemadi mengakrabi diri sendiri. Ini sunyi, menjelma api. Inti puisi, menjelma api. {}

Rahasia

Rahasia merupakan kenyataan yang sengaja diasingkan menyendiri pada kesenyapan yang begitu akrab ~ (Dia serupa musik yang tidak merindukan suara,. Dia seperti malam yang melupakan pagi,. Dia menjelma luka yang gagap pada pedih,.) ~ maka biar saja menyendiri bersama kesenyapan yang begitu akrab karena rahasia adalah kenyataan yang sengaja diasingkan. {}