4 Oktober dan sepotong kenangan tentang “Kita”

Saya lupa entah kapan persisnya kamu memberikan kotak kaleng bekas biskuit yang berisi salah satu fotomu menggamit boneka beruang superbesar pemberian saya itu. Simpanlah dan isi dengan sesuatu tentang “Kita” nantinya, kurang-lebih itu ucapanmu ketika memberikan kotak kaleng (yang sekarang saya sebut sebagai “Kotak V”, meniru Kotak Pandora) itu. Namun saya ingat persis reaksi pertama …

Continue reading 4 Oktober dan sepotong kenangan tentang “Kita”

Advertisements

Au revoir

#Untuk Kanjeng Ratu F: saya akan baik-baik saja -- sepertimu. Surat ini tidak akan pernah sampai di alamat kotak suratmu, atau berakhir di inbox ponsel-cerdasmu. Saya lebih memilih menyimpannya di sini, bersama segala keruwetan bernama perasaan cinta untukmu. Mbak F, sayang. Jika kamu ingin pergi, silakan. Saya tidak memiliki niat untuk menahanmu hanya untuk saya …

Continue reading Au revoir

Karena saya makan nasi, bukan semen!

#Surat solidaritas untuk Ibu-ibu Pemberani dan Petani Pejuang Kendeng di Rembang. Dengan penuh cinta yang menggelora, saya menulis surat singkat ini untuk bersolidaritas dengan para pejuang yang menentang berdirinya pabrik Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah: untuk berterima-kasih karena telah menampar jiwa pengecut saya dengan menunjukkan bahwa api perjuangan dan perlawanan bakal selalu …

Continue reading Karena saya makan nasi, bukan semen!

Pagi tanpa puisi

#Untuk F: “kita” memang pernah ada, mbak. Katamu, pagi tanpa matahari adalah pagi tanpa puisi. Pada pagi tanpa matahari (atau tanpa puisi, entahlah) itu kita berada dalam kamar dengan diam yang mendominasi. Sesekali, kita hanya saling menatap diselipi beberapa anggukan kecil tanpa banyak berbasa-basi. Saya hanya ingin memastikan tidak akan pernah melupakan sorot matamu itu, …

Continue reading Pagi tanpa puisi

23 November: selamat Hari Rayga, Ga!

Beproseslah sebagai salah satu suplemen keriangan di selasela kehidupan yang semakin banal. Tetaplah nakal, teruslah bermain -- merayakan kehidupan. Jadilah bahagia, dan jangan pernah bosan untuk bertanya. Semoga jantung di dalam dadamu berkembang sekuat jati. Semoga udara, tanah, api, dan air memberkatimu. Semoga semesta selalu menjaga keceriaanmu. Saya dan cinta bakal selalu mengelilingimu! Selamat hari …

Continue reading 23 November: selamat Hari Rayga, Ga!

Genap dalam lenyap

Sayang… Mengapa kita saling bertukar kabar bila itu sudah tidak berarti apa-apa? Mengapa kita terus saja bersabda “baikbaik saja”, padahal tidak demikian adanya? Saya dan kamu adalah dua musim yang begitu berbeda: kemarau dan penghujan, sempurna di tempatnya masingmasing. Kita telah memutuskan melangkah sendirisendiri menuju lupa. Genap terlelap dalam lenyap, ditertawai oleh dialogdialog usang perihal …

Continue reading Genap dalam lenyap

14 November: elegi manusia tentang merindukan sesuatu yang tidak dimengertinya

Manusia yang terkubur itulah yang menurunkan saya. Dia mengalami berbagai macam percintaan -- cinta yang pernah mematahkannya dan cinta yang dipendam dikuburnya. Dia juga memiliki citacita yang begitu tinggi. Dan dia pun pernah mengalami ketakutan, kesengsaraan, kegembiraan, dan emosi lain yang ada di dalam setiap jantung persegi milik manusia. Namun semua itu sudah mati baginya. …

Continue reading 14 November: elegi manusia tentang merindukan sesuatu yang tidak dimengertinya