Kita: serapah pitanggang kepada terang

/1/ Di ujung salah satu gang perumahan, deret nomor tiga teras rumahmu bertembok putih membuncah dengan lantai keramik biru tua yang lupa usia muda dengan pagar besi warna senja rekah bertaman bunga yang dipepatkan dalam pot-pot plastik dipajang berjejer laiknya serdadu antik dari sela-sela keheningan bernada matamu padaku sederhana serupa teduh pohon di musim kemarau. …

Advertisements

Jalan kenang di kota sialan

Derap langkah kembali membawa diri ke jalan itu, jalan kenang di kota sialan. Aku mencium aromamu yang pernah kukubur dalam-dalam di sana: sorot mata yang selalu meneduhkan senyum yang begitu menyenangkan jari-jemari yang mampu menenangkan kerinduan dan membelah kebencian segalanya kembali mewujud nyata, membuka kotak yang telah lama membunuhku secara perlahan. Di sudut jalan itu, …

Sialan!

Sisa ingatan selalu menggenang saat bercerita bersama malam ada kenangan yang berlinang purnama sialan, aku selalu sulit terpejam! Aku mengingat dan menulis sendirian berlembar-lembar hasrat yang ditinggal kenyataan sepotong demi sepotong usia yang ditenggak kesunyian tumpukan mimpi yang ditebang rutinitas harian! Tunggulah beberapa purnama aku bakal menyusul, segera dalam dekapan moksa yang memesona. {}