Sanstitre #25

Perempuan itu pemilik senyum melodius itu menemukan kembali ingatannya dalam tarian senjakala. Betapa gerak kakinya yang lincah gamblang mengayun di tepian sore yang gerah seperti angin yang meruah. Sepasang matanya tak bergeming ditumbuki waktu keukeh menyangga ke-Esa-an rindu sedang di raut wajahnya terselip kesedihan mencari cinta sebagai hasrat penghabisan juga mencari persahabatan yang ditinggalkan entah …

Continue reading Sanstitre #25

Sanstitre #24

“Jika ingin menuntaskan rindu, datanglah sebelum senja!” Yang terlupa adalah pengecualian laju kenangan setapak demi setapak mimpi lainnya mulai ditinggalkan simbol kehangatan kini hanya ada di dalam angan ada cinta di ujung pemberhentian namun hasrat lebih dulu gugur di persimpangan jalan telapak kaki buta dihajar kenyataan. {}

Sanstitre #23

Karena hujan bukan hanya tentang air yang berebut jatuh ia juga serupa rindu yang selalu gaduh nyanyian merdu dari zaman yang telah lalu irama bebunyian yang tidak pernah mau mengalah pada sang waktu yang manis dan yang tragis genap menyatu, utuh. {}

Sanstitre #22

“Aku adalah pungguk yang hanya mampu mencumbu bayangan bulan sebelum purnama. Di tengahnya selalu dikisahkan seorang wanita tua bercinta dengan seekor kucing hitam, sementara aku menjelma sebuah kisah tanpa cerita untuk menidurkan seluruh impian, menenangkan semua harap di dada. Aku adalah selembar catatan yang penuh coretan dari segala ejaan yang tidak sempurna, nada tanpa irama, …

Continue reading Sanstitre #22

Sanstitre #21

Kamu merangkai ilalang sebagai bukti cinta kepada yang bersemayam di pojokan jantung persegimu sementara aku masih sibuk melenyapkan bangkai surga di dalam batok kepalaku. “Jangan ketuk pintuku lagi, aku letih, terkulai menunggu mati.” {}

Sanstitre #20

Jalan ini tidak kunjung selesai belokan tajamnya masih jauh dari akhir atau ini memang tidak akan pernah usai? Kumpulan mimpi terikat jadi satu mengkhayalkan lelap di pangkuan kanjeng ratu gelisah mencari taman yang pernah dijanjikan dulu. Tubuh ditopang kaki hitam tanpa sepatu cacat menjalar seluruh permukaan telapak kaki yang membiru ditumbuhi benalu yang serbakaku. Ketiak …

Continue reading Sanstitre #20

Sanstitre #19

Pohon-pohon tidak berdaya dikelilingi keangkuhan tembok-tembok raksasa dan arogansi manusia sementara air bingung harus pulang ke mana undang-undang terperangkap di bawah tanah ayat-ayat dan pasal-pasal menebarkan aroma darah. Aku, bersama gerimis, bersandar pada kaki malam di situ kami dipaksa diam terseret kelam tenggelam semakin dalam. Semakin dalam… {}