Sanstitre #30

Ketika bintang utara menjingga-merah laut dan langit terbelah yang benar dan yang salah tidak akan pernah bisa saling asah maka: bagi pekasih, semua luka adalah sedekah segala doa adalah sumpah serapah. {ѧ}

Advertisements

Sanstitre #29

Ini ruang tanpa nama: lahir dari rahim Ibu yang terlunta, lubuk api sabuk Semesta. Keagungan menyimpan pesona, dari mata serigala yang meninggalkan tanah airnya. Tarian tombak sederhana hingga derap mesin senjata. Sebuah kampung muncul dari dalam cerita. Menjadi sumber warisan, arena rebutan dan kubangan air mata. Kenapa wajah-wajah dipecah pada kumpulan mozaik? Air mengalir -- …

Sanstitre #28

Di kota, sebuah halaman yang luas namun sesak, apa kabar mitos-mitos? Seekor anjing lidahnya patah siapa yang menggonggong? Lima remaja tertidur di bangku taman siapa yang terbentur merayakan diam? Waktu membeku pada dinding batu jangan tanya nama-nama yang dikenang penduduk kota, sial adalah keniscayaan abadi bagi mereka. Di kota, sebuah halaman yang luas namun sendat, …

Sanstitre #27

Perempuan berdandan, langit menangis tidak keruan. Mani mencair -- tidak lagi kental, bumi menggeliat nakal. Gunung-gunung kerap mengamuk, anak-anak kehilangan bentuk. Persetubuhan begitu semarak, laut saling dekap tidak berjarak. Hawa membumi basah, Adam tidak sudi pisah. Tanah-tanah merata, buku-buku tidak terbaca. Waktu tidak lagi bersahaja, awan pun berjelaga. Mengapa setiap malam kita selalu gelisah, meski …

Sanstitre #26

Aku mencintaimu, karena seringkali kusesap ranum tubuhmu kamu -- yang tidak bisa kusebut sebagai ibu kamu -- yang tidak bisa kusebut sebagai saudari seibu, namun bukankah kamu lebih dari itu? Kepada semua sapi dan kambing di Bumi aku juga menyayangi mereka layaknya saudara sebab pernah kucampurkan susu ibu mereka ke lipatan roti tawarmu atau pekat …