Tiang lampu di depan rumah

Tiang lampu berdiri di depan rumah berwarna biru kepalanya menunduk lesu mengawasi lelaki yang gelisah menunggu di ambang pintu. Ketika cahaya lampu menyala setengah redup dan tersenyum lugu perempuan datang dari balik petang memanggul cenderamata: sebungkus cemas dan bimbang, sekarung emosi yang gampang meledak sesuka hati ~ ~ dan sebuah buku bersampul abu-abu tentang cara …

Continue reading Tiang lampu di depan rumah

Kita menjadi tua, dan lupa memulangkan peluk serta merumahkan kecup

Kita menuju tua, sayang; mengayuh sepeda ke kota enggan pulang dan kembali menjadi “kita” seperti terlahir dan dibesarkan hanya untuk diasingkan rindu satu meja warung kopi dibiarkan berdebu di atasnya tergeletak tumpukan surat tertanggal zaman yang telah lalu memanggil nama kekasih bersayap kupu-kupu. Kita mewujud tua, sayang; mendadak kita sudah tidak punya kata-kata untuk mengukir …

Continue reading Kita menjadi tua, dan lupa memulangkan peluk serta merumahkan kecup

Teras rumah #2

Di teras rumah itu ribuan senja yang lalu kusentuh wajah dingin yang jahanam sampai batin terdalam di mana Semesta adalah satu hal sementara kita adalah partikel remeh lainnya yang tergelincir dari sabda Aphrodite. Kita tetap saling melempar tawa mengasah mata merayakan yang siasia : di dalam dada. Kita bebas berlari sampai letih menaklukkan satu per …

Continue reading Teras rumah #2

Teras rumah

Saya masih ingat teras rumah itu: tembok putihnya yang berpadu dengan lantai keramik berwarna biru tua, potpot kecil berisi bunga warna-warni, rak sepatu yang kosong karena sepatusepatu selalu berserakan di depan pintu yang warna cokelatnya dibiarkan memudar, dan kamu yang selalu mampu menutupi resah dengan tawa saat menyambut diri saya yang datang membawa sekarung rindu …

Continue reading Teras rumah