Sanstitre #27

Perempuan berdandan, langit menangis tidak keruan. Mani mencair -- tidak lagi kental, bumi menggeliat nakal. Gunung-gunung kerap mengamuk, anak-anak kehilangan bentuk. Persetubuhan begitu semarak, laut saling dekap tidak berjarak. Hawa membumi basah, Adam tidak sudi pisah. Tanah-tanah merata, buku-buku tidak terbaca. Waktu tidak lagi bersahaja, awan pun berjelaga. Mengapa setiap malam kita selalu gelisah, meski …

Continue reading Sanstitre #27

Advertisements

Pecah seperti cangkir kopi yang jatuh dari meja makan — dan pagi bakal merapikanmu kembali…

Padamkan lampu kamar tidurmu kenakan kacamata hitam itu pejamkan matamu biar gelap menjadi lebih hitam lebih kelam dari malam ini saatnya menutup diri dari keramaian mengurai keluh, mengistirahatkan lelah kepadamu, aku mungkin bakal datang sebentar lagi dengan sisa kopihitam di pangkal lidah dan aroma rokokputih dalam pendar cahaya lilin kecil mengecupmu, mengajakmu menari menyesap ekstase …

Continue reading Pecah seperti cangkir kopi yang jatuh dari meja makan — dan pagi bakal merapikanmu kembali…

Sanstitre #26

Aku mencintaimu, karena seringkali kusesap ranum tubuhmu kamu -- yang tidak bisa kusebut sebagai ibu kamu -- yang tidak bisa kusebut sebagai saudari seibu, namun bukankah kamu lebih dari itu? Kepada semua sapi dan kambing di Bumi aku juga menyayangi mereka layaknya saudara sebab pernah kucampurkan susu ibu mereka ke lipatan roti tawarmu atau pekat …

Continue reading Sanstitre #26

Tengah malam #3

Sore itu kita bisa saja terbang bersama menyusul senja di mana kita pernah mengira bisa bersama kita bakal mengenang malam-malam sesudahnya bahkan saat kita telah berada di pagi yang sama sekali berbeda rasa. Aku merenungi angin dengan penderitaan yang kurayakan bersama kembalinya senja di pelataran aku mengira kita bakal bertemu kembali setiap malam di jalanan …

Continue reading Tengah malam #3

Lelaki yang menua dipeluk rantau

Akulah lelaki yang menua dipeluk rantau di tanah asing banyak musim dan masa tenggelam ingatan dan kenangan yang tertinggal menjadi silam gagang sapuku patah, cangkir kopiku seringkali kering pintu dan jendela seolah menunggu bagaimana kabar ranah bagaimana kabar orang di rumah adakah pohon belimbing di halaman samping itu masih berbuah atau kumpulan bunga dalam pot …

Continue reading Lelaki yang menua dipeluk rantau

Subuh membiru

Ada yang menarik pelatuk di detik jam dindingmu jantungku pecah semburat merah di situ serupa hewan buruan, aku rubuh di luas wujudmu sebelum hujan subuh, sebelum tragis membiru. Tidak ada kupu-kupu terbang di luar sana -- hanya langit kusam seonggok kenangan menggigil dalam genggam sekerat demi sekerat rindu dicincang pisau sunyi ditumbuk batu sepi dibilas …

Continue reading Subuh membiru

Jika bukan ini, lalu apa? #4

Kita melahirkan dan dilahirkan oleh jiwa yang tidak kita kenal----- ----kita adalah teka-teki yang tidak teterka siapa pun kita adalah dongeng yang terperangkap dalam khayalannya sendiri kita adalah apa yang terus berjalan, tanpa pernah tiba pada pengertian. {}