Penanda perjumpaan dan luka

Tehmanis dan kopipahit; dua yang menjadi penanda perjumpaan kita yang sesaat, pelarian sembunyi-sembunyi dari “rutinitas harian menjadi sesuatu bagi orang lain”. Kamu memilih merah-legit, aku hitam-getir. Kamu datang dikawal senja, aku sibuk memereteli nyeri; tanpa omong kosong yang dipanjang-panjangkan selain diksi rindu dan teh dan kopi genggaman tangan yang mengamini hening: “kita” serta aku yang …

Continue reading Penanda perjumpaan dan luka

Untuk perjumpaan yang kesekian

Kamu… menyeduh kenangan bercampur rindu mengepulkan bau harapan yang membiru bersama waktu yang terus melaju. Aku… meneguk secarik kehangatan melipat jarak demi sebuah perjumpaan bersama senja yang terlihat enggan. Rokokputih, kopihitam, dan dialog usang tentang percintaan, : kesayangan. {}

Perjumpaan

Segalanya hanya upacara yang rutin dan formal: kesedihan. Mereka telah menata diri masingmasing untuk saling berhadapan, untuk sekadar menyusun remahremah percakapan. Linglung tatap mereka saling menelanjangi, gemetaran. Mereka purapura melupakan sedih, namun terlampau sombong untuk merangkul kebahagiaan. Lantas percakapan melebar namun belum terlalu melantur, mengunyah waktu yang tergelincir di pinggiran meja makan. Dengan khusyuk, mereka …

Continue reading Perjumpaan