Kita: gugusan takdir dari gigil malam, dari silau pagi

Kamu tahu, V perempuan adalah percampuran rahasia dan keindahan menyeret lelaki ke dalam kegelisahan membiarkan lelaki ditelanjangi kerinduan yang berjejer di sepanjang jalanan bak tentara bersiap pergi perang menjemput kematian. Kamu pasti tahu, V bahwa masing-masing kita adalah serangkaian takdir dari gigil malamhari, dari silau pagihari lantas kita menyusun getir pada setiap senja yang dikebiri …

Continue reading Kita: gugusan takdir dari gigil malam, dari silau pagi

Pergi pagi, pulang petang

Pergi pagi pulang petang, menapaki liku jalan panjang tidak ke hutan, bukan pula ke ladang sebab ladang dan hutan telah lama hilang tertimbun bangunan tinggi menjulang. Pergi pagi pulang petang, di dalam bangunan itu ia membudak banting tulang di antara deru nyanyian mesin yang sumbang demi mempertahankan hidup yang gamang mulai dari pangan hingga sandang …

Continue reading Pergi pagi, pulang petang

Mari mempercepat malam dan menyetubuhi pagi: kali ini kita akan mencurangi waktu

#Untuk D. Kita pernah terikat dalam buaian malam menyaksikan bulan dan bintang menjadi muram meresapi dingin yang suram: terjebak dalam hati yang sepi, di antara nyanyian lampu kota yang tidak bisa dimengerti lupa bagaimana caranya merayakan pagi. Hening … Sunyi … Emosi mulai mengering, hampir mati, bersembunyi dalam jantung berbentuk persegi. Aku selalu saja mati …

Continue reading Mari mempercepat malam dan menyetubuhi pagi: kali ini kita akan mencurangi waktu

Pagi tanpa puisi #2

#Untuk Mbak F. Pagi … rindu mati setengah mengelupas, dan dikenang. Pagi … jeritan jantung yang pilu di tepian pantai membiru. Pagi … air mani membasuh kedua mataku rintih tertinggal di leher kiriku. Pagi … lumpuh tanpa suara di hidungku pun kamu tidak ada. Pagi … aku mengasapi matahari yang sebatang kara di dalam embusan …

Continue reading Pagi tanpa puisi #2

Bersama pagi

Sebagian dirimu seringkali datang bersama pagi saat otakku digelitik aroma tembakau rokokputih kusiapkan cangkir dan mulai menyeduh kopi kupersilakan sebagian dirimu yang lain tenggelamkan diri memunguti rindu sebagai bekalmu pergi bersama pagi. {}

Pagi tanpa puisi

#Untuk F: “kita” memang pernah ada, mbak. Katamu, pagi tanpa matahari adalah pagi tanpa puisi. Pada pagi tanpa matahari (atau tanpa puisi, entahlah) itu kita berada dalam kamar dengan diam yang mendominasi. Sesekali, kita hanya saling menatap diselipi beberapa anggukan kecil tanpa banyak berbasa-basi. Saya hanya ingin memastikan tidak akan pernah melupakan sorot matamu itu, …

Continue reading Pagi tanpa puisi

Sebab pertemuan tidak melulu soal menepati janji

// pagi // Kamu membawa secangkir kopi beraroma senja. Untuk pemuja malam, ucapmu seraya membenarkan letak rambut dan mengecup saya manja. Malam yang pekat, sepekat rindu yang diseduh luka. // ranum senja // Maka senyum itu menandakan cinta yang purna. Saya membalasnya serupa janji usang pecinta kepada kekasihnya. Juga sepotong gairah paling purba. Lalu sepenggal …

Continue reading Sebab pertemuan tidak melulu soal menepati janji