Menjadi manusia juga perkara menerima hal yang tidak bisa direngkuh

/1/ “Jadi kita tidak akan pernah menjadi suami-istri?” || “Apakah kita tidak bisa selamanya menjadi sepasang kekasih?” /2/ “Maksudnya?” || “Apa kita harus menjadi suami-istri?” || “Tidak, jika kamu tidak menginginkannya.” || “Tapi kamu ingin kita seperti itu.” || “Iya.” || “Dan kamu sudah tahu apa yang kupikirkan tentang hal itu.” || “Iya, tapi aku …

Continue reading Menjadi manusia juga perkara menerima hal yang tidak bisa direngkuh

Belanja terus hingga mampus!

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta: maaf karena saya terlalu sibuk sendiri dengan banalitas hidup harian yang sampai detik ini gagal menepati janji untuk memberimu buku bacaan yang bisa kita bagi bersama sebelum terlelap (serta kebahagiaan yang seutuhnya selagi kita dekat). Ah, kini saya harus memikirkan caranya melipat jarak dan waktu hanya untuk benar-benar menyapamu. “Atas …

Continue reading Belanja terus hingga mampus!

14 November: elegi manusia tentang merindukan sesuatu yang tidak dimengertinya

Manusia yang terkubur itulah yang menurunkan saya. Dia mengalami berbagai macam percintaan -- cinta yang pernah mematahkannya dan cinta yang dipendam dikuburnya. Dia juga memiliki citacita yang begitu tinggi. Dan dia pun pernah mengalami ketakutan, kesengsaraan, kegembiraan, dan emosi lain yang ada di dalam setiap jantung persegi milik manusia. Namun semua itu sudah mati baginya. …

Continue reading 14 November: elegi manusia tentang merindukan sesuatu yang tidak dimengertinya

Hidupi hidupmu: manifesto individualis

Mengapa kamu tinggalkan jalan yang lurus dan terbuka hanya untuk berada di jalan sempit yang sukar ini? Tahukah kamu, wahai bocah kecil, ke mana akan kamu bawa dirimu? Jurang yang tidak terhingga bisa saja menantimu di depan sana. Tidak seorang pun, bahkan para penjahat, berani menyusuri jalan itu. Tetaplah berada di jalan yang lebar dan …

Continue reading Hidupi hidupmu: manifesto individualis