Sepakbola sudah habis, maaf…

Warga Bumi yang terhormat,. Dengan kesedihan yang menyesakkan dada, saya menyatakan bahwa sepakbola sudah “habis”. Usai, selesai, kelar, berakhir. Sebuah permainan indah yang menyajikan kenikmatan, hiburan, kekaguman, dan eskapisme selama lebih dari satu abad itu sudah mati. Gianluigi Buffon telah berpamitan. Lelaki berusia empat dekade itu mendefinisikan sepakbola, dan sekarang dia telah pergi … dengan …

Advertisements

Lebaran, atau apalah itu namanya

Di lebaran kali ini… Jangan lupa merangkai kalimat paling tulus dan indah untuk kamu kirimkan ke keluarga, kekasih, dan kawan-kawanmu, yang sekaligus pula untuk membungkus kebangsatanmu di depan mereka. Jangan lupa unggah swafoto-mu ketika makan ketupat bersama sang kekasih agar seluruh dunia tahu bahwa kamu tidak sendiri lagi pada edisi lebaran tahun ini. Oh iya, …

#DaftarPutar, part three: comfortable songs from 1997

Tidak bisa tidak, selain momen Juventus merajai Serie A Italia untuk ke-24 kalinya, topik yang selalu ada di kepala saya ketika mengingat-ingat dan membincangkan tahun 1997 adalah OK Computer (1997): sebuah konsep album dari Radiohead dengan tema yang merefleksikan ketakutan dan kegelisahan terhadap sebuah dunia yang bakal dijalankan oleh komputer dan diungkapkan secara bertahap dengan sinis dan khidmat. OK Computer lebih dari sekadar kumpulan lagu: album ini adalah sebuah karya seni adiluhung yang memiliki kualitas (musik dan lirik) surealis dan sinematik dari sebuah unit musik rock yang tidak pernah takut untuk mengeksplorasi dan berproses menjadi suatu kemenjadian yang betul-betul ilahi. Tahun 2017 ini, untuk merayakan 20 tahun sejak OK Computer pertama kali dilepas di pasaran, Radiohead merilis ulang salah satu album art rock paling keren sejagat raya tersebut dalam empat bentuk (vinil, digital, CD, dan boxed edition) bertajuk OK Computer OKNOTOK 1997 2017.
Continue reading “#DaftarPutar, part three: comfortable songs from 1997”

Maaf

Saya lahir dari nilainilai yang tidak memberi tempat pada sebuah pemberontakan demi cinta. Saya dibentuk oleh sistem yang mengurung cinta atas nama moralitas dan normanorma sosial lainnya. Dan kesadaran ini datang terlalu lambat. Saya akhirnya hanya menjelma serumpun pohon bambu yang membiarkan hasrat tumbuh dan bersembunyi di balik kerimbunannya. Maaf, V. {}