Sepakbola yang melahirkan aksi perjuangan melawan lupa

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta: perjuangan melawan ketidak-beresan dan ketidak-adilan bakal terus ada di mana pun dalam bentuknya masing-masing, dan hal paling sederhana yang bisa kita -- saya dan kamu -- lakukan adalah bersolidaritas dan mengabarkannya, meneruskan bara api perlawanannya agar terus membesar dan membakar habis kebengisan sampai tiada sisa. Rayna, sayang,. Tahun 1978. Argentina …

Advertisements

Lupa

Seisi kota lupa langit gulita sebab tidak ada bedanya toh siang-malam sama pekatnya tawa kian lantang di pesta-pesta lupa bahwa luka masih nganga. -- Ah, aku juga lupa bir dan bibirku sama-sama berbusa. {}

Hanya kita, sebelum habis senja dan tersesat lupa

Ada hari yang akan terus berlari menggerus kata tanpa henti menghapus rencana, membungkam mimpi. Aku dan kamu menjelajah lekuk rimba kata terus bermimpi, sekadar berencana sebelum habis senja dan tersesat dalam lupa. Akhirnya… tidak ada lagi kata, hanya kita mengubah rencana mengakali asa mencurangi moksa menggenapi wacana meneruskan cerita. Tanpa kata, tanpa surga dan neraka. …

Kita menjadi tua, dan lupa memulangkan peluk serta merumahkan kecup

Kita menuju tua, sayang; mengayuh sepeda ke kota enggan pulang dan kembali menjadi “kita” seperti terlahir dan dibesarkan hanya untuk diasingkan rindu satu meja warung kopi dibiarkan berdebu di atasnya tergeletak tumpukan surat tertanggal zaman yang telah lalu memanggil nama kekasih bersayap kupu-kupu. Kita mewujud tua, sayang; mendadak kita sudah tidak punya kata-kata untuk mengukir …

Pada detak jam yang lupa waktu

Bagaimana kecupan malammu: apakah masih terlampau dingin? Jejakmu masih bisu saat kusapa dengan rindu lalu, aku merangkumnya menjadi satu ke dalam sebuah Sabtu bersama nyeri dan hasrat yang enggan meragu kelelahan adalah masa lalu saat kamu tertidur di pelukanku pada detak jam yang melupa waktu satu per satu kenangan runtuh di tubuhku. Bagaimana pelukan pagimu: …