Tiang lampu di depan rumah

Tiang lampu berdiri di depan rumah berwarna biru kepalanya menunduk lesu mengawasi lelaki yang gelisah menunggu di ambang pintu. Ketika cahaya lampu menyala setengah redup dan tersenyum lugu perempuan datang dari balik petang memanggul cenderamata: sebungkus cemas dan bimbang, sekarung emosi yang gampang meledak sesuka hati ~ ~ dan sebuah buku bersampul abu-abu tentang cara …

Continue reading Tiang lampu di depan rumah

Lelaki yang memasuki api

Ia memasuki api tak dijumpainya Eros, tidak pula segala dewa ia seutuhnya sendiri terlingkup udara jelaga. Ia memasuki api bukan untuk menemukan yang dicari ia telah memasuki api karena ia lelaki bersemadi mengakrabi diri sendiri. Ini sunyi, menjelma api. Inti puisi, menjelma api. {}

Lelaki paruh baya dan kerinduan terhadap air

/1/ Lelaki paruh baya itu tidak pernah mendengar kisah dongeng tentang seorang nabi yang mampu mengubah anggur menjadi air dengan sentuhan jari-jemarinya. Ia tidak pernah membaca hikayat anak tuhan yang menjelma air agar kehidupan di sekitarnya bisa terus berlanjut. /2/ Pun ia juga tidak pernah memerhatikan dengan sungguh percakapan segitiga antara sufi, penyair, dan alkemis …

Continue reading Lelaki paruh baya dan kerinduan terhadap air

Lelaki dan jembatan layang

Di jembatan layang, dekat terminal keberangkatan perempuan menikam jantung lelaki berbentuk persegi dengan belati di ujung lidahnya. Tidak ada yang menemukan tubuhnya bahkan lelaki itu pun tak jua menemukannya sebab ia kerasan mengawan berkawan Vega. Jatuh cinta. {}

Lelaki dan secangkir kopi

Lelaki itu lebih suka berkawan kopi menghabiskan sisa hari dalam balutan asap rokokputih percikan gerimis melumati kaki menyuguhkan melankolia di pelataran jantung berbentuk persegi kerinduan menumpuk di tangan kiri menyerupa belati lelaki itu lebih suka berkawan kopi, hingga malam benar-benar mati. {}

Lelaki dan gigil pagihari

“… Mentari pun bersalaman dengan purnama. Kala kita di peron kereta senja, dua tangan melambai di antara bising klaskon dan porter yang bergegas. Sambil beranjak kau patut bertanya, di stasiun mana seharusnya cinta ini berakhir.” -- Dea(th) Pagi melambai di antara gerbong kereta api masih sepi tidak terdengar peluit yang mengabarkan kedatangan, atau bahkan keberangkatan. …

Continue reading Lelaki dan gigil pagihari

Lelaki dengan rindu dan hujan yang bukan miliknya

Tibatiba angin datang membawa sekantong penuh rindu hujan turun memenuhi pelataran depan rumah berebut menjatuhkan harapan, membagikan berkah dan seorang lelaki sibuk memungutinya satu per satu. Sedih yang mengintai jantung pun pecah yang tersisa hanya keluh batin beradu waktu. “Rindu dan hujan ini bukan milikku,” katanya. {}