Kita: serapah pitanggang kepada terang

/1/ Di ujung salah satu gang perumahan, deret nomor tiga teras rumahmu bertembok putih membuncah dengan lantai keramik biru tua yang lupa usia muda dengan pagar besi warna senja rekah bertaman bunga yang dipepatkan dalam pot-pot plastik dipajang berjejer laiknya serdadu antik dari sela-sela keheningan bernada matamu padaku sederhana serupa teduh pohon di musim kemarau. …

Advertisements

Pecah seperti cangkir kopi yang jatuh dari meja makan — dan pagi bakal merapikanmu kembali…

Padamkan lampu kamar tidurmu kenakan kacamata hitam itu pejamkan matamu biar gelap menjadi lebih hitam lebih kelam dari malam ini saatnya menutup diri dari keramaian mengurai keluh, mengistirahatkan lelah kepadamu, aku mungkin bakal datang sebentar lagi dengan sisa kopihitam di pangkal lidah dan aroma rokokputih dalam pendar cahaya lilin kecil mengecupmu, mengajakmu menari menyesap ekstase …

Lelaki dan secangkir kopi

Lelaki itu lebih suka berkawan kopi menghabiskan sisa hari dalam balutan asap rokokputih percikan gerimis melumati kaki menyuguhkan melankolia di pelataran jantung berbentuk persegi kerinduan menumpuk di tangan kiri menyerupa belati lelaki itu lebih suka berkawan kopi, hingga malam benar-benar mati. {}

Bapak penyeduh kopi

Di salah satu sudut kota yang pengap dan gelap gerimis membekukan keramaian dalam sekejap wajah lapar penyeduh kopi bungkam lidahnya getir terperangkap ilusi para jahanam bibir kelu menyesap pedih yang tiada habisnya pikiran hanya soal besok anak-istri harus makan apa. {}

Selalu ada sepasang kekasih di antara setan yang menyendiri — dan kopi itu hitam, sayang

/1/ Mencintaimu. Saya merasa seperti Pandora yang tergila-gila pada kotak yang menyimpan segala kutukannya sendiri. Menuju tersesat di mata teduhmu, bagi saya, adalah harapan untuk menyelesaikan kerumitan lagi, setelah saya gagal menuntaskan kerumitan yang lain. Saya bakal mencoba mencurangi waktu untuk membebaskan diri dari kerinduan yang sudah terlalu lama meremas jantung saya: untukmu. /2/ Sepuluh …