Kita: gugusan takdir dari gigil malam, dari silau pagi

Kamu tahu, V perempuan adalah percampuran rahasia dan keindahan menyeret lelaki ke dalam kegelisahan membiarkan lelaki ditelanjangi kerinduan yang berjejer di sepanjang jalanan bak tentara bersiap pergi perang menjemput kematian. Kamu pasti tahu, V bahwa masing-masing kita adalah serangkaian takdir dari gigil malamhari, dari silau pagihari lantas kita menyusun getir pada setiap senja yang dikebiri …

Continue reading Kita: gugusan takdir dari gigil malam, dari silau pagi

Kita bertemu pada waktu yang absurd

#Untuk D. Kita bertemu pada waktu yang absurd, dan (anggap saja) itu adalah sengsaraku. Betapa syairku pengin mengembara di lekuk tubuhmu namun lidahku kelu memanjat namamu tanganku lunglai untuk merapal aksaramu sebagai harap dalam keresahan selalu nikmat menikmati waktu dengan sisa senyummu sebab “kita” bukanlah milik kamu dan aku. Kita bertemu pada waktu yang absurd, …

Continue reading Kita bertemu pada waktu yang absurd

Kita mengabadi dalam selangkangan masing-masing

Pada bayang senja yang tidak ingin ditukarkan dengan setumpuk kemewahan, pun kepastian sebab aku telah membungkus desah kecil kerinduan dengan memori tentang romansa picisan setiap kali kamu singgah di pelataran (sebelum kembali melanjutkan perjalanan). : Syair tanggung dalam pentas meriah akhir bulan berisi percakapan kita yang mengembara mencari tujuan bukan sekadar kepulangan. : Kita mengabadi …

Continue reading Kita mengabadi dalam selangkangan masing-masing

Kita yang kekal dalam ketiadaan

Pagi masih berkisah tentang rindu yang belum tuntas. Malam masih bercerita tentang dendam yang harus dibalas. Dan, pada satu masa, izinkan saya kecupkan hasrat kita pada keteduhan mata di wajah senja milikmu. * * * * * Saya mengumpulkan kembali sisa-sisa berkah semesta yang tercecer di pelataran depan rumah. Jangan pernah bertanya apa yang saya …

Continue reading Kita yang kekal dalam ketiadaan

Mari mempercepat malam dan menyetubuhi pagi: kali ini kita akan mencurangi waktu

#Untuk D. Kita pernah terikat dalam buaian malam menyaksikan bulan dan bintang menjadi muram meresapi dingin yang suram: terjebak dalam hati yang sepi, di antara nyanyian lampu kota yang tidak bisa dimengerti lupa bagaimana caranya merayakan pagi. Hening … Sunyi … Emosi mulai mengering, hampir mati, bersembunyi dalam jantung berbentuk persegi. Aku selalu saja mati …

Continue reading Mari mempercepat malam dan menyetubuhi pagi: kali ini kita akan mencurangi waktu

Kita: gaduh yang disebabkan kata

Kita, gaduh yang disebabkan kata yang ditanam bersama dengan waktu dan asa digempur udara, dikecup senja, dipeluk hujan diusap, dielus, dan dikabarkan oleh kenangan. Kita, pengemis murahan yang lupa ingatan sibuk mengamini caci-maki sembari meludah ke arah terik matahari. Kita, kupu-kupu kertas untuk sang pecinta yang semakin dibenamkan kata dipasung makna dijilati berahi paling purba. …

Continue reading Kita: gaduh yang disebabkan kata

Hanya kita, sebelum habis senja dan tersesat lupa

Ada hari yang akan terus berlari menggerus kata tanpa henti menghapus rencana, membungkam mimpi. Aku dan kamu menjelajah lekuk rimba kata terus bermimpi, sekadar berencana sebelum habis senja dan tersesat dalam lupa. Akhirnya… tidak ada lagi kata, hanya kita mengubah rencana mengakali asa mencurangi moksa menggenapi wacana meneruskan cerita. Tanpa kata, tanpa surga dan neraka. …

Continue reading Hanya kita, sebelum habis senja dan tersesat lupa