4 Oktober dan sepotong kenangan tentang “Kita”

Saya lupa entah kapan persisnya kamu memberikan kotak kaleng bekas biskuit yang berisi salah satu fotomu menggamit boneka beruang superbesar pemberian saya itu. Simpanlah dan isi dengan sesuatu tentang “Kita” nantinya, kurang-lebih itu ucapanmu ketika memberikan kotak kaleng (yang sekarang saya sebut sebagai “Kotak V”, meniru Kotak Pandora) itu. Namun saya ingat persis reaksi pertama …

Continue reading 4 Oktober dan sepotong kenangan tentang “Kita”

Advertisements

Pernah ada

#Untuk D: apakah hatimu sudah tidak lagi berani mencinta lantaran pernah begitu membenci luka? Di Terminal Lama kampung halaman, sebelas tahun yang lalu. Pernah ada dua jantung yang mengaku sebagai “kita” dan saling jatuh cinta. Kini, di tempat yang sama, hanya ada sepasang kenangan yang terlalu sibuk mengingkari lukanya masing-masing. Lima tahun lalu di sebuah …

Continue reading Pernah ada

Bangkai kenangan dari tubuhmu

Aku mencium bau bangkai kenangan dari tubuhmu beberapa orang pernah menelanjangi senyummu sebagian lainnya memasuki dan tinggal di lubang hitam matamu dan kamu masih mencari-cari letak rindu. Aku sengaja menciptakan senja biru untuk menggenapi bintangmu di langit paling utara agar pagi melalaikan tugasnya dan kamu masih mencari-cari letak rindu. Sekarang kita berjalan sendiri-sendiri menuju pulang …

Continue reading Bangkai kenangan dari tubuhmu

Pada sepetak kenangan dan sejumput ingatan: rekahlah!

Untuk “rintik rindu”, sepetak kenangan, sejumput ingatan, dan “angan senja”; aku labuhkan bebunyian yang lebih senyap dari senyap sunyi-nya kesunyian bisikan paling gelap dari jiwa tak bertu(h)an. : Saat itu, aku temukan wajahku tergeletak diam tanpa pertanyaan tanpa ketakutan tanpa kegelisahan tenteram, tidak bergerak, tenang damai dalam keindahan cukup di dalam kesempurnaan terhimpun berkah semesta …

Continue reading Pada sepetak kenangan dan sejumput ingatan: rekahlah!

Kenangan yang membekas

Saya kelewat keras kepala mengira semuanya baikbaik saja. Berapa senja lagi yang harus saya lewati, tanpamu? Kenyataannya saya saat ini hidup di kota dengan segala keruwetannya, dengan segala hal yang membikin saya (semakin) sakit. Saya tidak tangguh: saya terlalu banyak bermimpi dan terlalu takut terbangun. Saya kalah. Saya sekarang mengerti bahwa luka tidak ada hubungannya …

Continue reading Kenangan yang membekas

Kota (dan kenangan) #2

“Kenangan selalu berlebihan: ia mengulangi tandatanda yang ada agar sebuah kota mulai mengada.” Di balik lima sungai yang mengarah ke satu tempat, muncullah sebuah kota yang mungkin saja tidak bakal bisa kamu lupakan, bukan karena kota ini meninggalkan citra ganjil dalam ingatanmu -- seperti halnya kotakota kenangan lainnya yang pernah kamu singgahi. Kota ini memiliki …

Continue reading Kota (dan kenangan) #2

Kota (dan kenangan)

“Kamu bisa menjelajahinya di dalam pikiran, tersesat, beristirahat dan menikmati udara sejuknya, atau kamu bisa pergi melarikan diri darinya.” Pada akhir hari ketiga bulan sepuluh, pergilah ke arah utara dan kamu bakal tiba di sebuah kota dengan senja keemasan yang begitu melodius serta dipenuhi kupukupu yang beterbangan tanpa takut sayapnya terbakar di setiap pagi menjelang. …

Continue reading Kota (dan kenangan)