Membunuh kata

Ada yang berdiam di balik setiap kata ketika satu per satu syair terbuka lantas kamu membacanya serupa doa. Lebam membekas di atas kertas. Dan kamu sibuk menyulam perjalanan membuka hujan yang pernah berlalu dari tubuhmu pada saat itu, kata seperti rekah menjelma kematian bertahan, menampung jejak murung hasratku. Tanpa mesti menghitung makna atau rajah kata …

Continue reading Membunuh kata

Advertisements

Kita: gaduh yang disebabkan kata

Kita, gaduh yang disebabkan kata yang ditanam bersama dengan waktu dan asa digempur udara, dikecup senja, dipeluk hujan diusap, dielus, dan dikabarkan oleh kenangan. Kita, pengemis murahan yang lupa ingatan sibuk mengamini caci-maki sembari meludah ke arah terik matahari. Kita, kupu-kupu kertas untuk sang pecinta yang semakin dibenamkan kata dipasung makna dijilati berahi paling purba. …

Continue reading Kita: gaduh yang disebabkan kata

Apakah ada kata selain rindu?

Ada satu suara yang ingin sekali kudengar di antara melodi harian yang kian membosankan. Aku baru saja bercerita tentangmu mengenalkanmu sebagai segalanya kepada senja namun langit enggan mengacuhkan malah menurunkan hujan. Rintik menderas membikin malam tertahan dalam sunyi kelam beserta kenangan. Aku mengasapinya, sembari tidak berhenti membayangkan : adakah kata selain kerinduan? {}