Kamu: kasih sayang

Di dalam kamar persegi aku bersabar penuh dengan deret buku, mencari “kebenaran” dari setiap eksistensi dada ditusuk kenyataan - pengkhianatan - kenangan perempuan mengingkari setiap betina “yang ada”: kasih sayang. Sebagian bayang-bayang menari di ambang pintu menggerakkan tangan dan kaki -- kelaparan, menagih haknya ide mondar-mandir di batok kepala bau apak keringat lengket di tubuh, …

Continue reading Kamu: kasih sayang

Kamu: sepotong cerita yang tidak perlu dipercaya

Yang selalu datang padaku tanpa pernah bertanya terlebih dahulu. Yang hanya dipahami oleh mekarnya senja. Yang mampu menarik keseluruhan eksistensiku. Layaknya sang kekasih yang selalu menarik Sabtu untuk perjumpaan -- Sabtu yang tidak pernah usai bercerita tentang rindu yang gaduh. Namun tahukah … bahwa aku kerap berupaya menghapus sebagian dari dirimu dengan diam-diam dengan susah-payah …

Continue reading Kamu: sepotong cerita yang tidak perlu dipercaya

Jika bukan ini, lalu apa?

Siapa Saya? Apa yang bisa Saya lakukan? Apa yang Saya inginkan? Apa yang selalu Saya pikirkan? Saya mengambil sebatang rokok. Saya merokok. Terasa tenang, Saya mengingat secuil kenangan. Seorang perempuan. Saya mengenang perempuan. Rambut, mata, telinga, mulut, dagu, leher, bahu, tangan, kaki, lutut, kulit, hangat. Peluk. Sebuah perasaan. Mendapati tubuh perempuan dalam dekapan … kecupan. …

Continue reading Jika bukan ini, lalu apa?

Tidak ada surga dan neraka, hanya kamu

Entah sudah berapa lama saya biarkan kamu menari di pelupuk mata. Saya suka melihatmu bergerak menjangkau setiap jarak, dan selalu meninggalkan jejak untuk saya pijak. Kamu tibatiba berhenti melangkah, senyummu tampak lelah. Saya hampiri kelelahanmu yang bersemayam dalam ketenangan tempat peristirahatanmu. “Tidakkah kamu ingin tahu bagaimana rupa surga itu?” “Seperti apa?” saya balas bertanya. “Kebahagiaan, …

Continue reading Tidak ada surga dan neraka, hanya kamu