#BanalitasHarian: sepenggal demi sepenggal yang masih bisa diingat

Tidak ada satu sumber penerangan apa pun di sekeliling saya. Semuanya hitam. Segalanya gelap. Beberapa saat kemudian, sayup-sayup terdengar suara perempuan: familier, tapi jauh dan pelan. Saya berjalan mencari sumber suara itu, atau setidaknya saya merasa seperti sedang berusaha berjalan menuju suara samar-samar itu. Dengan perlahan, suara itu terdengar semakin jelas dan sedang berbicara kepada …

Continue reading #BanalitasHarian: sepenggal demi sepenggal yang masih bisa diingat

Advertisements

Pada sepetak kenangan dan sejumput ingatan: rekahlah!

Untuk “rintik rindu”, sepetak kenangan, sejumput ingatan, dan “angan senja”; aku labuhkan bebunyian yang lebih senyap dari senyap sunyi-nya kesunyian bisikan paling gelap dari jiwa tak bertu(h)an. : Saat itu, aku temukan wajahku tergeletak diam tanpa pertanyaan tanpa ketakutan tanpa kegelisahan tenteram, tidak bergerak, tenang damai dalam keindahan cukup di dalam kesempurnaan terhimpun berkah semesta …

Continue reading Pada sepetak kenangan dan sejumput ingatan: rekahlah!

Pada ingatan tentang sebuah kota, kupukupu, dan senja

Di kota sialan ini saya mencintai kupukupu dan senja. Rindu yang tidak kunjung padam kembali mewujud dalam pergumulan asap rokokputih dan uap kopihitam. Dan perempuan dengan tatapan mata yang teduh beranjak pergi membawa sekoper harapan dan kenangan yang saling bunuh dalam genggaman jari-jemari tangannya. (Kamu dan kenangan.) Kerlip bintang di atas sana mengerjap mengingatkan saya …

Continue reading Pada ingatan tentang sebuah kota, kupukupu, dan senja