Berpulang ke dekap seorang ibu

Waktu seperti terus melilit apa-apa yang tersisa dari masa mudamu kerutan di roman, namun tidak sedikit pun engkau tampak menua ikhlas bahagiamu adalah pertemuan doa yang paling jauh dalam semestaku lantas engkau ceritakan masa kanak-kanak sebagai bekalku di hari tua. Aku yang membungkuk di pucuk senja selalu merapal harap atas namamu: Ibu. {}

Karena saya makan nasi, bukan semen!

#Surat solidaritas untuk Ibu-ibu Pemberani dan Petani Pejuang Kendeng di Rembang. Dengan penuh cinta yang menggelora, saya menulis surat singkat ini untuk bersolidaritas dengan para pejuang yang menentang berdirinya pabrik Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah: untuk berterima-kasih karena telah menampar jiwa pengecut saya dengan menunjukkan bahwa api perjuangan dan perlawanan bakal selalu …

Continue reading Karena saya makan nasi, bukan semen!

Ibu…

Ibu menggambar tatapanku yang bebal menghiasnya dengan tanda baca paling sakral membungkusnya dalam bekal menghanyutkannya bersama kasih sayang yang kekal. {}