Menggigil seperti aspal selepas hujan

Batin kita seumpama pekat hitam aspal pada musim hujan saat malam mengental dinaungi redup cahaya lampu jalanan menggigil kedinginan, sendirian sunyi dan sepi seolah mengabadi. Ada yang datang, untuk kemudian pergi kita tetap di sini dengan batin sendiri kedinginan dan sunyi lupa caranya menyalakan api atau tidak ingat bagaimana bentuk pagi. Batin kita serupa aspal …

Advertisements

Kita: gugusan takdir dari gigil malam, dari silau pagi

Kamu tahu, V perempuan adalah percampuran rahasia dan keindahan menyeret lelaki ke dalam kegelisahan membiarkan lelaki ditelanjangi kerinduan yang berjejer di sepanjang jalanan bak tentara bersiap pergi perang menjemput kematian. Kamu pasti tahu, V bahwa masing-masing kita adalah serangkaian takdir dari gigil malamhari, dari silau pagihari lantas kita menyusun getir pada setiap senja yang dikebiri …

Lelaki dan gigil pagihari

“… Mentari pun bersalaman dengan purnama. Kala kita di peron kereta senja, dua tangan melambai di antara bising klaskon dan porter yang bergegas. Sambil beranjak kau patut bertanya, di stasiun mana seharusnya cinta ini berakhir.” -- Dea(th) Pagi melambai di antara gerbong kereta api masih sepi tidak terdengar peluit yang mengabarkan kedatangan, atau bahkan keberangkatan. …

Apa yang gigil di bibirmu?

Gigil melintasi permukaan bibir mungilmu sebuah kecup, semoga meruntuhkan keraguan memukul kesepian mencipta ruang perjumpaan kita malam ini di balik banalitas kerlip lampu kota semacam perayaan. Gigil bergelayutan di permukaan bibir mungilmu kita berdiam, memeluk entah lantas katakata pecah dalam gemetar lidahmu, “rumahku rata dengan tanah yang tersisa hanya serpihan tanpa nama dan kenangan genap …