Kita: gaduh yang disebabkan kata

Kita, gaduh yang disebabkan kata yang ditanam bersama dengan waktu dan asa digempur udara, dikecup senja, dipeluk hujan diusap, dielus, dan dikabarkan oleh kenangan. Kita, pengemis murahan yang lupa ingatan sibuk mengamini caci-maki sembari meludah ke arah terik matahari. Kita, kupu-kupu kertas untuk sang pecinta yang semakin dibenamkan kata dipasung makna dijilati berahi paling purba. …

Continue reading Kita: gaduh yang disebabkan kata

Advertisements

Suatu ketika di antara gaduh malamhari

Kita hidup di bawah sini dalam endapan ampas kopi terlahir dalam wujud bayi belajar menghitung langkah kaki lalu menggelap pelanpelan menuju mati. Kita hidup di bawah sini dalam endapan ampas kopi lalu pelanpelan mati. Lalu … mati. {}

Terlalu gaduh

Sunyi ini terlalu gaduh menyumpah-serapahi rindu yang belum juga luruh melempar wajah dingin perempuan di atas meja makan. Debu mengental di dinding waktu seorang penyair lupa menuntaskan puisi puji-pujian kehilangan kata, dan makna. (Sebagian sibuk menyebarkan perang dan kemiskinan sebagian lagi membincangkannya sambil mengacungkan lengan semuanya bajingan, dinina-bobokan jabatan.) Ah sayang, sunyi ini terlalu gaduh …

Continue reading Terlalu gaduh