#BanalitasHarian: semacam ulasan singkat

Simpelnya adalah cuma soal apa-apa yang saya nikmati akhir-akhir ini, tidak lebih dan tidak kurang ~ Bacaan: [1] The Searchers, artikel indah yang ditulis oleh Alex Ross dan tayang di The New Yorker, tentang betapa kerennya unit musik bernama Radiohead. “Ed O’Brien, Colin Greenwood, Phil Selway, Thom Yorke, and Jonny Greenwood: combining boyish riddles with …

Continue reading #BanalitasHarian: semacam ulasan singkat

Advertisements

#BanalitasHarian: sepenggal demi sepenggal yang masih bisa diingat

Tidak ada satu sumber penerangan apa pun di sekeliling saya. Semuanya hitam. Segalanya gelap. Beberapa saat kemudian, sayup-sayup terdengar suara perempuan: familier, tapi jauh dan pelan. Saya berjalan mencari sumber suara itu, atau setidaknya saya merasa seperti sedang berusaha berjalan menuju suara samar-samar itu. Dengan perlahan, suara itu terdengar semakin jelas dan sedang berbicara kepada …

Continue reading #BanalitasHarian: sepenggal demi sepenggal yang masih bisa diingat

#BanalitasHarian: masih yang itu-itu juga

Sederhananya, beberapa hal yang saya konsumsi dalam tujuh hari terakhir ini. Apa yang saya dengarkan? [1] x (2014) dari Ed Sheeran: emosi setiap orang, lirik gamblang, dan rasa sakit yang bisa dikaitkan ke semua orang. Itulah cetak-biru Ed Sheeran di album ini, dan kita -- saya dan kamu -- pernah merasakan apa-apa yang dinyanyikan oleh …

Continue reading #BanalitasHarian: masih yang itu-itu juga

#BanalitasHarian: sesimpel itu, huh?

Dengan cara yang paling sederhana, hari-hari berlalu begitu saja dalam sepekan terakhir… Horor pada akhir pekan pertama bulan Juni ini masih menyisakan trauma yang mengental di batok kepala dan luka yang setengah kering di dada, sementara aktivitas membudak masih menyita nyaris separuh rutinitas harian. Di sela-sela kesederhaan yang kelewat biasa-biasa saja itu saya berhasil menamatkan …

Continue reading #BanalitasHarian: sesimpel itu, huh?

#BanalitasHarian: pascafinal

Momen menyebalkan dan menyesakkan dada itu terjadi pada Sabtu kemarin. Setelah seharian diserang rasa gigil dan kecemasan berlebih, final Liga Champions Eropa menutup Sabtu dengan cara yang paling kejam dan mengerikan. Juventus, kesebelasan kesayangan saya, diperkosa secara biadab oleh Real Madrid. Gol demi gol yang bersarang di gawang Gianluigi Buffon menjelma memori suram yang mengendap …

Continue reading #BanalitasHarian: pascafinal

#BanalitasHarian: remah-remah horor Pilkada Jakarta

Pertengahan pekan kemarin, salah satu kawan saya yang berdomisili di Jakarta mengirimkan pesan singkat yang menyatakan kelegaannya karena Pilkada Jakarta telah rampung. Pilkada Jakarta memang terkesan seperti drama horor yang dimainkan oleh nyaris semua orang. Saya menyamakan “pesta demokrasi” itu layaknya film horor lokal lawas yang ending penyelesaian konfliknya selalu melibatkan simbol-simbol agama. Saya merasa …

Continue reading #BanalitasHarian: remah-remah horor Pilkada Jakarta

#BanalitasHarian: sebelum dan sesudah reuni tipis, serta remontada yang gagal

Hari Selasa kemarin saya menuntaskan janji temu kangen dengan salah satu kawan (yang dulu sama-sama sok idealis dan sama-sama congkak dengan mendaku diri sebagai) anarkis bernama Bella. Selepas membudak, saya memacu motor matic pinjaman ke tempat ketemuan yang telah kami sepakati sebelumnya: sebuah warung kopi lumayan asyik yang dipenuhi dengan anak-anak muda yang sibuk dengan …

Continue reading #BanalitasHarian: sebelum dan sesudah reuni tipis, serta remontada yang gagal