Seperti dendam, rindu harus terbayar tuntas

/1/ Rindu membiru, sebiru deretan kata tak terucap yang terperangkap di langit-langit imaji sang pecinta. Perih memutih, seputih kumpulan janji yang menguap memenuhi lahan-lahan kosong sang kekasih. Lelah menghitam, sehitam tumpukan harap yang terus direproduksi dan tercecer di pelataran malam yang kelam. Saya telah menulis berlembar-lembar resah, mencoba menenangkan rindu yang masih saja gelisah. Saya …

Continue reading Seperti dendam, rindu harus terbayar tuntas

Dendam sore menuju senja

Imajinasi dan hasrat memeluk murka menagih tawa melantunkan nada semacam doa bersandar pada dendam sore menuju senja. Kita berdua berada di antara kata yang tidak terucap merajut harap untuk memperbarui sabda: “tidak akan berpisah selamanya”. Malam jadi saksi bahwa segalanya dimungkinkan, karena aku dan kamu masih jauh dari akhir: masa depan belumlah terukir! Kita akan …

Continue reading Dendam sore menuju senja

Terlahir dari dendam

Saya, terlahir dari serpihan dendam di antara kehangatan semu peradaban yang suram di antara kilauan kerlap-kerlip cahaya kota di antara gedunggedung yang berbaris rapi seperti tentara di antara nyanyian mesinmesin pabrik yang membosankan di antara tarian mobilmobil yang menyedihkan di antara mereka yang selalu meneriakkan “kebenaran” di antara mereka yang menghilangkan kreasi dan inisiatif di …

Continue reading Terlahir dari dendam