Balada untuk rindu yang semakin jalang

/1/ Sedang dirundung mendungkah langitmu, puan betina? Sosokmu tampak membisu dalam sukacita yang saya upayakan. Mungkin sesekali sore lebih baik tanpa senja. Biar hujan yang ganti memeluknya. Gaduh air yang berebut jatuh bagus untuk tumbuhan di depan rumah. /2/ Tampaknya rumah telah membiasakanmu pada sesat -- menyembunyikanmu dalam labirin dengan altar pemujaan yang begitu banyak …

Continue reading Balada untuk rindu yang semakin jalang

Balada secangkir kenangan

Kita adalah asap yang mengepul dari sisasisa pembakaran kenangan. Kegaduhan masa lalu, dicerca segala macam kemunafikan. Hampir meradang kita pada hiruk-pikuk peradaban urban. Simpangsimpang keharuan tercipta dari air mata kerinduan; bercerita tentang perpisahan demi perpisahan. Senja dan kepulan asap kenangan melayang di udara memparadekan ilusi. Rasanya baru kemarin kita menjejakkan kaki di kota dingin ini. …

Continue reading Balada secangkir kenangan