Syair kematian

Aku bakal memeluk kematian yang memesona menyeret kebenaranku sendiri yang sempat tercuri kebenaran yang sengaja diredupkan oleh mereka kebenaran yang diasingkan dan dikebiri semesta memelukku serupa bocah manja -- aku merdeka dari tipuan mahkota, kesopanan yang pura-pura dan iri hati. Oh ayah… Pada hari yang tidak kuharapkan engkau tidak menyisakan satu pun alasan aku menghidupi …

Continue reading Syair kematian

Advertisements

Mengeja harap pada sepotong syair suwung

#Untuk ayah: saya masih berharap kita bisa, untuk sekali saja, duduk berdua bersama dua cangkir kopihitam dan beberapa bungkus kretek favoritmu terhidang di atas meja -- saling mengeluh, saling bercerita, saling bercanda; berbicara tentang apa saja dengan cara yang paling sunyi, paling sendiri. Apakah rambutmu telah sempurna memutih saat jejakmu akhirnya sampai, untuk pertama kalinya, …

Continue reading Mengeja harap pada sepotong syair suwung

Ayah dan sepanjang jalan menujunya

Ayah,. Adalah tikungan yang selalu saya coba untuk telusuri lagi. Segala remah roti yang saya coba pungut sebelum lesap purna bersama asap rokokputih. Dengan lingkar foto menahun, saya coba merawat air mata yang curah dari setiap detik kehilangan yang tidak pernah habis saya tepis. Kenangan yang saya hidupi agar tidak hancur meski waktu telah mengubur. …

Continue reading Ayah dan sepanjang jalan menujunya

14 November: elegi manusia tentang merindukan sesuatu yang tidak dimengertinya

Manusia yang terkubur itulah yang menurunkan saya. Dia mengalami berbagai macam percintaan -- cinta yang pernah mematahkannya dan cinta yang dipendam dikuburnya. Dia juga memiliki citacita yang begitu tinggi. Dan dia pun pernah mengalami ketakutan, kesengsaraan, kegembiraan, dan emosi lain yang ada di dalam setiap jantung persegi milik manusia. Namun semua itu sudah mati baginya. …

Continue reading 14 November: elegi manusia tentang merindukan sesuatu yang tidak dimengertinya