Tengah malam #3

Sore itu kita bisa saja terbang bersama menyusul senja di mana kita pernah mengira bisa bersama kita bakal mengenang malam-malam sesudahnya bahkan saat kita telah berada di pagi yang sama sekali berbeda rasa. Aku merenungi angin dengan penderitaan yang kurayakan bersama kembalinya senja di pelataran aku mengira kita bakal bertemu kembali setiap malam di jalanan …

Continue reading Tengah malam #3

Advertisements

Lelaki yang menua dipeluk rantau

Akulah lelaki yang menua dipeluk rantau di tanah asing banyak musim dan masa tenggelam ingatan dan kenangan yang tertinggal menjadi silam gagang sapuku patah, cangkir kopiku seringkali kering pintu dan jendela seolah menunggu bagaimana kabar ranah bagaimana kabar orang di rumah adakah pohon belimbing di halaman samping itu masih berbuah atau kumpulan bunga dalam pot …

Continue reading Lelaki yang menua dipeluk rantau

“Pasangan Bebal dari Utara”

Tidak ada seorang pun yang menyalakan lilin untuk kemudian menyembunyikannya di balik pintu: keberadaan setitik cahaya adalah untuk menghasilkan lebih banyak cahaya, untuk membuka dan menerangi mata orang-orang, untuk menyingkap hal-hal menakjubkan yang ada di sekitar. Tidak ada seorang pun bakal mengorbankan hal terpenting yang dia miliki: cinta. Tidak ada seorang pun yang akan menitipkan …

Continue reading “Pasangan Bebal dari Utara”

4 Oktober dan sepotong kenangan tentang “Kita”

Saya lupa entah kapan persisnya kamu memberikan kotak kaleng bekas biskuit yang berisi salah satu fotomu menggamit boneka beruang superbesar pemberian saya itu. Simpanlah dan isi dengan sesuatu tentang “Kita” nantinya, kurang-lebih itu ucapanmu ketika memberikan kotak kaleng (yang sekarang saya sebut sebagai “Kotak V”, meniru Kotak Pandora) itu. Namun saya ingat persis reaksi pertama …

Continue reading 4 Oktober dan sepotong kenangan tentang “Kita”

18 September: anggap saja ini semacam doa

#Untuk mama, dan kasih sayangnya. Jujur, ketika bangun pagi tadi saya tidak memiliki firasat apa pun tentang bagaimana seharusnya hari ini berjalan. Maksud saya -- hari ini sama seperti waktu yang telah lalu: hari yang biasa saja, sama halnya dengan hari-hari sebelumnya pada deretan almanak yang telah membusuk terkubur rutinitas harian agar bisa sekadar bertahan …

Continue reading 18 September: anggap saja ini semacam doa

Subuh membiru

Ada yang menarik pelatuk di detik jam dindingmu jantungku pecah semburat merah di situ serupa hewan buruan, aku rubuh di luas wujudmu sebelum hujan subuh, sebelum tragis membiru. Tidak ada kupu-kupu terbang di luar sana -- hanya langit kusam seonggok kenangan menggigil dalam genggam sekerat demi sekerat rindu dicincang pisau sunyi ditumbuk batu sepi dibilas …

Continue reading Subuh membiru

Jika bukan ini, lalu apa? #4

Kita melahirkan dan dilahirkan oleh jiwa yang tidak kita kenal----- ----kita adalah teka-teki yang tidak teterka siapa pun kita adalah dongeng yang terperangkap dalam khayalannya sendiri kita adalah apa yang terus berjalan, tanpa pernah tiba pada pengertian. {}