Kepada tubuh

Kaki tiba-tiba patah tidak bisa dipakai melangkah. Tangan pun mendadak runtuh tidak bisa lagi merengkuh. Bibir malah lebih dulu pecah tak tersisa celah untuk bersumpah. Hanya pada mata yang rapuh ada rindu dan cinta terjaga utuh. {}

Lelaki yang memasuki api

Ia memasuki api tak dijumpainya Eros, tidak pula segala dewa ia seutuhnya sendiri terlingkup udara jelaga. Ia memasuki api bukan untuk menemukan yang dicari ia telah memasuki api karena ia lelaki bersemadi mengakrabi diri sendiri. Ini sunyi, menjelma api. Inti puisi, menjelma api. {}

#BanalitasHarian: sesimpel itu, huh?

Dengan cara yang paling sederhana, hari-hari berlalu begitu saja dalam sepekan terakhir… Horor pada akhir pekan pertama bulan Juni ini masih menyisakan trauma yang mengental di batok kepala dan luka yang setengah kering di dada, sementara aktivitas membudak masih menyita nyaris separuh rutinitas harian. Di sela-sela kesederhaan yang kelewat biasa-biasa saja itu saya berhasil menamatkan …

Continue reading #BanalitasHarian: sesimpel itu, huh?

Rahasia

Rahasia merupakan kenyataan yang sengaja diasingkan menyendiri pada kesenyapan yang begitu akrab ~ (Dia serupa musik yang tidak merindukan suara,. Dia seperti malam yang melupakan pagi,. Dia menjelma luka yang gagap pada pedih,.) ~ maka biar saja menyendiri bersama kesenyapan yang begitu akrab karena rahasia adalah kenyataan yang sengaja diasingkan. {}

Kita: gugusan takdir dari gigil malam, dari silau pagi

Kamu tahu, V perempuan adalah percampuran rahasia dan keindahan menyeret lelaki ke dalam kegelisahan membiarkan lelaki ditelanjangi kerinduan yang berjejer di sepanjang jalanan bak tentara bersiap pergi perang menjemput kematian. Kamu pasti tahu, V bahwa masing-masing kita adalah serangkaian takdir dari gigil malamhari, dari silau pagihari lantas kita menyusun getir pada setiap senja yang dikebiri …

Continue reading Kita: gugusan takdir dari gigil malam, dari silau pagi

Sanstitre #25

Perempuan itu pemilik senyum melodius itu menemukan kembali ingatannya dalam tarian senjakala. Betapa gerak kakinya yang lincah gamblang mengayun di tepian sore yang gerah seperti angin yang meruah. Sepasang matanya tak bergeming ditumbuki waktu keukeh menyangga ke-Esa-an rindu sedang di raut wajahnya terselip kesedihan mencari cinta sebagai hasrat penghabisan juga mencari persahabatan yang ditinggalkan entah …

Continue reading Sanstitre #25