Rindu macam apa yang kita semai?

Kerinduan menjelma simbol dan angka dikirim sinyal lewat udara dan diterima oleh mesin-mesin tunai rindu macam apa yang sebenarnya kita semai? Kerinduan yang berupa nominal mengalahkan jantung yang mewujud lautan tidak terukur kedalaman dengan simbol dan angka. Kutampung rintik lemah hujan senja namun tetap saja tidak bisa membeli pulsa sebagai bekal untuk sekadar menyapa: “sayang, …

Continue reading Rindu macam apa yang kita semai?

Kita: gugusan takdir dari gigil malam, dari silau pagi

Kamu tahu, V perempuan adalah percampuran rahasia dan keindahan menyeret lelaki ke dalam kegelisahan membiarkan lelaki ditelanjangi kerinduan yang berjejer di sepanjang jalanan bak tentara bersiap pergi perang menjemput kematian. Kamu pasti tahu, V bahwa masing-masing kita adalah serangkaian takdir dari gigil malamhari, dari silau pagihari lantas kita menyusun getir pada setiap senja yang dikebiri …

Continue reading Kita: gugusan takdir dari gigil malam, dari silau pagi

Sanstitre #25

Perempuan itu pemilik senyum melodius itu menemukan kembali ingatannya dalam tarian senjakala. Betapa gerak kakinya yang lincah gamblang mengayun di tepian sore yang gerah seperti angin yang meruah. Sepasang matanya tak bergeming ditumbuki waktu keukeh menyangga ke-Esa-an rindu sedang di raut wajahnya terselip kesedihan mencari cinta sebagai hasrat penghabisan juga mencari persahabatan yang ditinggalkan entah …

Continue reading Sanstitre #25

Seperti dendam, rindu harus terbayar tuntas

/1/ Rindu membiru, sebiru deretan kata tak terucap yang terperangkap di langit-langit imaji sang pecinta. Perih memutih, seputih kumpulan janji yang menguap memenuhi lahan-lahan kosong sang kekasih. Lelah menghitam, sehitam tumpukan harap yang terus direproduksi dan tercecer di pelataran malam yang kelam. Saya telah menulis berlembar-lembar resah, mencoba menenangkan rindu yang masih saja gelisah. Saya …

Continue reading Seperti dendam, rindu harus terbayar tuntas

Misalkan cerita adalah secangkir kopihitam

/1/ Secangkir kopihitam kadangkala bicara terlampau banyak. Cairan hitam pekat itu seolah memiliki rahasia mendalam yang mengendap di dasar sebuah cangkir. Segala kesedihan, juga kenangan-kenangan yang kelewat pahit atau terlalu manis, peristiwa demi peristiwa yang datang dan pergi, melebur larut menjadi satu serupa hitamnya bubuk kopi dalam seduhan air panas dengan latar belakang asap rokokputih …

Continue reading Misalkan cerita adalah secangkir kopihitam

Sampai jumpa lagi, puan…

(satu malam di pertengahan Mei) Tanda-tanda itu sengaja saya abaikan: langit utara yang menghitam, tiupan angin yang membawa-serta aroma basah, dan petir yang konstan menyuarakan wujudnya. Sebaiknya menunda perjalanan, masih ada besok. Ah, pada dasarnya saya adalah lelaki bebal yang tidak percaya hari esok pasti datang. Kaus hitam, celana panjang hitam, dan sneakers hitam saya …

Continue reading Sampai jumpa lagi, puan…

Penanda perjumpaan dan luka

Tehmanis dan kopipahit; dua yang menjadi penanda perjumpaan kita yang sesaat, pelarian sembunyi-sembunyi dari “rutinitas harian menjadi sesuatu bagi orang lain”. Kamu memilih merah-legit, aku hitam-getir. Kamu datang dikawal senja, aku sibuk memereteli nyeri; tanpa omong kosong yang dipanjang-panjangkan selain diksi rindu dan teh dan kopi genggaman tangan yang mengamini hening: “kita” serta aku yang …

Continue reading Penanda perjumpaan dan luka