Tiang lampu di depan rumah

Tiang lampu berdiri di depan rumah berwarna biru kepalanya menunduk lesu mengawasi lelaki yang gelisah menunggu di ambang pintu. Ketika cahaya lampu menyala setengah redup dan tersenyum lugu perempuan datang dari balik petang memanggul cenderamata: sebungkus cemas dan bimbang, sekarung emosi yang gampang meledak sesuka hati ~ ~ dan sebuah buku bersampul abu-abu tentang cara …

Continue reading Tiang lampu di depan rumah

Lebaran, atau apalah itu namanya

Di lebaran kali ini… Jangan lupa merangkai kalimat paling tulus dan indah untuk kamu kirimkan ke keluarga, kekasih, dan kawan-kawanmu, yang sekaligus pula untuk membungkus kebangsatanmu di depan mereka. Jangan lupa unggah swafoto-mu ketika makan ketupat bersama sang kekasih agar seluruh dunia tahu bahwa kamu tidak sendiri lagi pada edisi lebaran tahun ini. Oh iya, …

Continue reading Lebaran, atau apalah itu namanya

Lupa

Seisi kota lupa langit gulita sebab tidak ada bedanya toh siang-malam sama pekatnya tawa kian lantang di pesta-pesta lupa bahwa luka masih nganga. -- Ah, aku juga lupa bir dan bibirku sama-sama berbusa. {}

Nyeri

Nyeri bukan sebab luka sayat di jantung persegi ketika aku, tanpa ibu-ayah, menjalani hari-hari sendiri nyeri ada sebagai bekal kelahiranku di Bumi rasa sakit purba yang tidak seorang pun bisa memahami lebih asing ketimbang tuhan atau cinta itu sendiri. ~ Nyeri ini kunamai puisi. {}

Kepada tubuh

Kaki tiba-tiba patah tidak bisa dipakai melangkah. Tangan pun mendadak runtuh tidak bisa lagi merengkuh. Bibir malah lebih dulu pecah tak tersisa celah untuk bersumpah. Hanya pada mata yang rapuh ada rindu dan cinta terjaga utuh. {}

Lelaki yang memasuki api

Ia memasuki api tak dijumpainya Eros, tidak pula segala dewa ia seutuhnya sendiri terlingkup udara jelaga. Ia memasuki api bukan untuk menemukan yang dicari ia telah memasuki api karena ia lelaki bersemadi mengakrabi diri sendiri. Ini sunyi, menjelma api. Inti puisi, menjelma api. {}