18 September: anggap saja ini semacam doa

#Untuk mama, dan kasih sayangnya. Jujur, ketika bangun pagi tadi saya tidak memiliki firasat apa pun tentang bagaimana seharusnya hari ini berjalan. Maksud saya -- hari ini sama seperti waktu yang telah lalu: hari yang biasa saja, sama halnya dengan hari-hari sebelumnya pada deretan almanak yang telah membusuk terkubur rutinitas harian agar bisa sekadar bertahan …

Continue reading 18 September: anggap saja ini semacam doa

Advertisements

Jika bukan ini, lalu apa? #4

Kita melahirkan dan dilahirkan oleh jiwa yang tidak kita kenal----- ----kita adalah teka-teki yang tidak teterka siapa pun kita adalah dongeng yang terperangkap dalam khayalannya sendiri kita adalah apa yang terus berjalan, tanpa pernah tiba pada pengertian. {}

Thukul

(Dalam diam engkau masih bersuara melalui goresan makna tersimpan dalam bait-bait aksara.) Aku tahu, aku tidak pernah ada dalam hidupmu namun sejarah telah membikinku takjub dan membangkitkan gairah nalarku juga amarahku untuk meneruskan nafasmu dengan jiwa yang bukan milikku sebab jasadmu tidak pernah kembali. (Dalam diam engkau masih bersuara melalui goresan makna tersimpan dalam bait-bait …

Continue reading Thukul

Tiang lampu di depan rumah

Tiang lampu berdiri di depan rumah berwarna biru kepalanya menunduk lesu mengawasi lelaki yang gelisah menunggu di ambang pintu. Ketika cahaya lampu menyala setengah redup dan tersenyum lugu perempuan datang dari balik petang memanggul cenderamata: sebungkus cemas dan bimbang, sekarung emosi yang gampang meledak sesuka hati ~ ~ dan sebuah buku bersampul abu-abu tentang cara …

Continue reading Tiang lampu di depan rumah

Lebaran, atau apalah itu namanya

Di lebaran kali ini… Jangan lupa merangkai kalimat paling tulus dan indah untuk kamu kirimkan ke keluarga, kekasih, dan kawan-kawanmu, yang sekaligus pula untuk membungkus kebangsatanmu di depan mereka. Jangan lupa unggah swafoto-mu ketika makan ketupat bersama sang kekasih agar seluruh dunia tahu bahwa kamu tidak sendiri lagi pada edisi lebaran tahun ini. Oh iya, …

Continue reading Lebaran, atau apalah itu namanya

Lupa

Seisi kota lupa langit gulita sebab tidak ada bedanya toh siang-malam sama pekatnya tawa kian lantang di pesta-pesta lupa bahwa luka masih nganga. -- Ah, aku juga lupa bir dan bibirku sama-sama berbusa. {}

Nyeri

Nyeri bukan sebab luka sayat di jantung persegi ketika aku, tanpa ibu-ayah, menjalani hari-hari sendiri nyeri ada sebagai bekal kelahiranku di Bumi rasa sakit purba yang tidak seorang pun bisa memahami lebih asing ketimbang tuhan atau cinta itu sendiri. ~ Nyeri ini kunamai puisi. {}