Hujan. Sebagaimana biasanya di sini pada Maret, bulan ketiga dalam almanak masehi. Saya menggigil di samping pengeras suara rombeng yang setengah-mati berupaya tidak merusak kemerduan lagu-lagunya Radiohead, sesekali bergerak rada gelisah macam hewan kurban yang mau disembelih, mencoba mengusir dingin yang sungguh jahanam. Kebetulan hari sudah menggelap sepenuhnya menuju sepertiga malam, dan selain kedinginan, saya juga kelaparan. Hujan belum turun sewaktu perut saya belum terlalu lapar, tetapi — seolah-olah sedang menanti momen yang tepat untuk mengolok-olok saya — guyuran mahaderas tercurah saat perut saya benar-benar mengirimkan tanda harus diisi sesegera mungkin. Semua teman di kandang kontrakan sudah leyehan di kamar masing-masing dalam kondisi kenyang yang menyamankan. Saya tidak, bukan karena jago, namun lebih karena bego, sebab demi bisa menyantap seporsi Nasi Pecel Buk Tien yang buka pada tengah malam, saya menunda jam makan malam padahal perut sudah separuh keroncongan dan langit beberapa kali mengirimkan sinyal akan turun hujan yang lebat dan lama. Jadi beginilah saya, seonggok lelaki tolol yang kurang lihai membaca pertanda. Bangsat!

Percuma, karena beberapa alasan yang tidak sanggup saya bayangkan, kopihitam yang baru saja saya seduh tiba-tiba mendingin, rasanya absurd di lidah, dan tentu saja tidak mampu menenangkan perut saya yang gelisah. Beberapa linting tembakau juga menguarkan aroma rumput bercampur ban-dalam terbakar. Jadi, di salah satu petak kandang kontrakan, saya merutuki kegoblokan diri sendiri.

Absurditas semacam itu sebenarnya tidak terlalu mengherankan. Lagipula, saya berada di Malang dan di sini hal-hal absurd sering muncul seperti hujan, terutama di kuartal pembuka tahun. Sekarang saya malah membenamkan diri di atas kasur, memangku laptop butut dan mengetikkan kondisi mengenaskan akibat kebodohan diri sendiri. Di luar kandang kontrakan, hujan masih menggila dan mengejek saya dengan telak. Saya mencoba melinting tembakau lagi dan menyalakannya, aromanya masih seperti rumput dan ban-dalam terbakar. Kemudian saya dan Thom Yorke meledak dalam duet khayalan — lebih tepatnya menumpangi vokal falsetto sedapnya Yorke yang disuarakan dengan susah-payah oleh pengeras suara rombeng — tembang Paranoid Android di hadapan pemirsa maya. Merasa gagal sebagai penyanyi jempolan, saya akhirnya menyerah dan membiarkan pengeras suara rombeng itu melakukan tugasnya sendirian. Jadi, masih menggigil dan lapar, saya yang haram jadah ini malah teringat sepenggal kisah tentang Riwayat Penopang Langit yang diceritakan oleh Pak Tua Antonio kepada Subcomandante Insurgente Marcos.

Menurut orang-orang kita yang paling awal, langit harus ditopang agar tidak jatuh. Langit tidaklah ajeg, sesekali ia melemah dan pingsan, merosot begitu saja seperti dedaunan gugur dari pohon, lalu maha bencana terjadilah, karena iblis mendatangi ladang dan hujan memecah segalanya dan mentari menghukum tanah ini dan peranglah yang berkuasa dan dustalah yang menaklukkan dan mautlah yang berjalan dan kepedihanlah yang bermenung.

Dan mereka yang paling mula berkata bahwa si penopang langit, agar tidak ketiduran, keluar masuk jantungnya sendiri, lewat jalan yang ia bawa-bawa di dadanya. Guru-guru yang paling awal itu berkata bahwa si penopang langit mengajari orang-orang lelaki dan perempuan kata dan aksara sebab menurut mereka ketika kata menjalani dunia, sang iblis bisa dibungkam dan dunia mungkin untuk jadi benar…

Kelihatannya saya mulai melantur di sini, sebab niat awal saya kasih-nyala laptop butut adalah mengetik catatan banal untuk memberitahumu (lebih tepatnya, sih, kasih-pamer) apa-apa saja yang saya konsumsi dalam beberapa pekan terakhir ini. Dan bukan cuma untuk memberitahumu saja, tetapi juga mencoba membualkan kelezatannya sebagai amunisi untuk mengakali rutinitas harian. Ya, begitulah: saya harap kamu bisa bersabar dan teruslah membaca.

Oke. Ada baiknya sekarang saya mulai mencoba mengingat apa-apa saja yang saya konsumsi dalam beberapa pekan ke belakang dan memamer-bagikannya sebagai catatan banal kali ini. Nyaris tidak ada aktivitas keren yang saya lakukan akhir-akhir ini karena, seperti yang sudah saya singgung di awal, hujan deras selalu menggempur setiap hari yang memungkinkan saya untuk bermalas-malasan saja di dalam kandang kontrakan. Rutinitas keseharian cuma berisi hal-hal banal untuk bertahan hidup: tidur, makan, ngopi, ngudud, defekasi, dan membudak. Banalitas lainnya yang menyelingi di antara itu semua adalah menonton (serial, klip video, atau film), mendengarkan (album musik, gonggongan anjing tetangga, atau ocehan pacar), dan membaca (buku, zine, atau artikel daring [dalam jaringan / online]). Sesekali pamer apa pun di media-sosial juga sih. Jadi, pada malam yang dinginnya sungguh keterlaluan jahanam ini dan tanpa ada hasrat untuk berbuat jahat, saya mencoba mengingat dan memamerkan berbagai macam hal yang saya konsumsi belakangan ini.

Mari memulainya dengan dua buku yang berhasil saya habiskan dalam satu bulan ini. Yang pertama adalah Masyarakat Tanpa Tuhan (terbitan BasaBasi) tentang pengalaman Phil Zuckerman saat tinggal selama 14 bulan di Skandinavia dan mendapati fakta bahwa “masyarakat tanpa Tuhan bukan hanya mungkin ada, melainkan bisa jadi cukup beradab dan menyenangkan”; dan buku Orang-Orang Gila (diedarkan oleh Mojok) karangan Han Gagas yang mengisahkan Marno (menggelandang sebab dianggap gila) dan Astrid (melacur karena dianggap gila) — keduanya teralienasi secara sosial oleh masyarakat “waras” — bertemu dan menjalin cinta di sejengkal tanah perkuburan, bercumbu saling pagut dan melenguh di atas nisan-nisan tua … sampai akhirnya logika kapital yang culas mengalahkan mereka berdua, untuk kesekian kalinya, dengan cara yang paling keji dan buruk: adakah yang lebih gila ketimbang kerakusan, kekejaman, dan keinginan untuk melenyapkan orang lain?

Saat ini saya mencoba menandaskan Kata Adalah Senjata-nya Marcos sebelum Maret menemui ajalnya dan digantikan oleh April.

Pada pengujung Februari kemarin saya mendaras keajaiban yang coba ditawarkan oleh Pekan Komik VICE 2019. Total ada sebelas kolaborasi visual dan teks lintas-negara yang dipajang oleh situsweb VICE Indonesia untuk merayakan realisme magis, fiksi, dan komik. Semoga ada keajaiban yang bisa kamu temukan di situ, keajaiban yang mampu membangkitkan harapan untuk menghentikan rupa-rupa kerumitan yang menjengkelkan di luar sana. Dari sebelas komik itu, Garut Lights, Drunken Ice meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi saya: hasil kolaborasi Yoshi Fe dan Sheila Rooswitha Putri yang mencoba menyelami penyesalan dan kenangan tragis dari semangkuk es krim.

Kemudian ada Teknik membaca cerita pendek tulisan AS Laksana yang tayang di situsweb Beritagar.id, yang sesuai dengan judulnya, membagikan teknik asoy agar kita — saya dan kamu — bisa membaca cerpen (cerita pendek) di kanal-kanal daring dengan cepat: [1] perhatikan nama pengarang cerpennya (“Perlu diingat bahwa setiap pengarang, entah ia lahir di desa atau di kota, selalu memiliki keunikan tersendiri. Bagi mereka berlaku pepatah tidak ada satu lemur yang sama di muka bumi.”), [2] baca paragraf pembuka dan langsung ambil keputusan (“Jika paragraf pertamanya buruk, yakinlah bahwa cerita itu tidak memiliki kemungkinan bagus. Paragraf pertama yang buruk mengandung makna bahwa si pengarang tidak tahu bagaimana penulis bagus bekerja.”), [3] cek dialog-dialognya (“Beberapa pengarang menggunakan dialog sebagai alat untuk berpidato atau berpetuah atau menyampaikan renungan-renungan hidup.”), dan [4] perhatikan komentar yang diberikan untuk cerpen tersebut (“Saya menyukai cerpen-cerpen yang mendapatkan banyak komentar. Tepatnya, saya menyukai komentar para pembaca atas sebuah cerpen. Menurut saya, bagian paling mendebarkan dari cerpen-cerpen yang saya baca di internet adalah komentar pembaca atas cerpen-cerpen tersebut.”).

Sebagai selingan ketika membereskan tugas membudak harian agar tetap waras, saya biasanya membaca cerpen yang ada di beberapa kanal daring. The Victim karangan mendiang Jun’ichirō Tanizaki (terjemahan Indonesianya berjudul Sang Korban digarap dengan begitu apik oleh Kang Arip Abdurahman, dari versi Inggrisnya oleh almarhum Ivan Morris yang muncul di situsweb The Paris Review) tentang integritas moral dan keindahan feminin dari transformasi seorang perempuan muda setelah tubuhnya ditato oleh seniman muda berbakat. Cerpen terjemahan di blog personal Kang Arip berjudul Seratus Tahun Pengampunan karya Clarice Lispector, perihal aksi pencurian setangkai bunga mawar yang mampu memberikan pengalaman membebaskan dari realitas eksistensial kemiskinan. The Confession karya Leïla Slimani yang diinggriskan oleh Sam Taylor untuk situsweb The New Yorker (dan saya iseng menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia dengan tajuk Pengakuan) mengenai tindak kejahatan yang namanya tidak berani diucapkan oleh sang narator cerpen tersebut. Lalu Color and Light tulisan Sally Rooney, juga tayang di The New Yorker, tentang cinta yang — percayalah, tuan dan puan — memang tidak pernah bisa sederhana.

Sementara dari koran mingguan yang saya ambil secara gratis di tempat membudak, saya menikmati beberapa cerpen (yang kemudian saya potong, koleksi, dan jadikan hiasan tembok kandang kontrakan) menarik dalam beberapa hari ke belakang. Radar Malang: Yang Menyenangkan di Sekolah karangan Nadia Salsabila Wahono, Paceklik Rakyat dan Proyek Pak Kasek tulisan Masbahur Roziqi, dan Grup WA dan Cucu Buaya di Pendapa karya Wawan Eko Yulianto. Kompas: Sepotong Tulang dengan Daging Kering yang Menempel di Sisinya karya Supartika, Mayat Masa Lalu tulisan Ken Hanggara, dan Amnesti karangan Putu Wijaya. Jawa Pos: Utang Darah Manusia Harimau karangan Guntur Alam, Pencegahan Bunuh Diri karya Jaroslav Hašek yang diterjemahkan oleh Anton Kurnia, Kabut Asap karangan Sam Edy Yuswanto, Hilang Ingatan karya Ramadira, dan Hanya Anjing yang Boleh Kencing di Sini tulisan Mashdar Zainal.

Mbak Dina Layinah Putri memenuhi janjinya kepada saya untuk memajang bacaan paling orgasmik yang mampu dia sesap selama tahun 2018 kemarin dalam 9 Buku Favorit 2018 di blog pribadinya, di antaranya Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda-nya Ernst Gombrich, Ratu Sekop: Dan Cerita-Cerita Lainnya-nya Iksaka Banu, dan Manifesto Komunis-nya Karl Marx & Friedrich Engels. Omong-omong tentang bacaan, ada artikel menarik tulisan Maia Szalavitz yang tayang di situsweb Time pada tahun 2012 lalu berjudul Do E-Books Make It Harder to Remember What You Just Read? yang mencoba mengupas tentang keunggulan dan kelemahan dari buku fisik & buku digital: “On many levels, e-books seem like better alternatives to textbooks — they can be easily updated and many formats allow readers to interact with the material more, with quizzes, video, audio and other multimedia to reinforce lessons. But some studies suggest that there may be significant advantages in printed books if your goal is to remember what you read long-term.” Masih dalam konteks yang sama, Michael S. Rosenwald melalui artikel Why digital natives prefer reading in print. Yes, you read that right. yang ditayangkan oleh situsweb The Washington Post pada 2015 kemarin membentangkan fakta bahwa masih banyak orang yang lebih memilih membaca buku fisik ketimbang format digitalnya: “Textbook makers, bookstore owners and college student surveys all say millennials still strongly prefer print for pleasure and learning, a bias that surprises reading experts given the same group’s proclivity to consume most other content digitally. A University of Washington pilot study of digital textbooks found that a quarter of students still bought print versions of e-textbooks that they were given for free.

Under Neoliberalism, You Can Be Your Own Tyrannical Boss, yang terpajang di situsweb Jacobin, merupakan tuturan menarik dari Meagan Day tentang menguatnya tendensi perfeksionisme pada zaman sekarang. Is Google Making Us Stupid?, tayang di situsweb The Atlantic, adalah sebentuk kecemasan dari Nicholas Carr tentang bagaimana kebiasaan berselancar di dunia maya telah mengubah cara berpikir otak manusia. Indonesia’s Next Election Is in April. The Islamists Have Already Won., tampil di situsweb The New York Times, merupakan opini Eka Kurniawan tentang “kemenangan” kelompok Islam konservatif — yang didukung oleh grup-grup radikal — di ranah politik Indonesia. How to cure the shopping addiction that’s destroying our planet, dari laman situsweb The Guardian, adalah upaya tulus Radhika Sanghani untuk menyadarkan publik bahwa adiksi konsumtif yang semakin menggila di bidang fashion juga punya andil besar dalam merusak Bumi. Concrete: the most destructive material on Earth, tayang di The Guardian, adalah wejangan Jonathan Watts yang panjang-lebar tentang ancaman membahayakan — yang bersembunyi di balik berbagai macam manfaat — dari beton bagi planet ini, bagi kesehatan manusia, dan bagi kebudayaan.

Keuntungan berlangganan The New Yorker adalah saya tidak pernah kehabisan amunisi sedap untuk dibaca setiap harinya. Versi daring majalah yang berbasis di Kota New York, Amerika Serikat, ini secara rutin mengirimkan daftar pilihan yang berisi artikel jurnalisme, kritik, ulasan, esai, fiksi, humor satire, kartun, dan puisi ke kotak masuk surel pribadi saya. Sebagian besar temanya memang membahas apa-apa yang sedang terjadi di Amerika Serikat, namun tidak jarang pula ada beberapa tulisan dengan pokok bahasan universal macam empat artikel yang saya pikir pantas untuk dipamer-bagikan di catatan banal kali ini:

[1] The Underground Worlds of Haruki Murakami — sebuah wawancara mengasyikkan yang dilakoni Deborah Treisman dengan salah satu novelis paling hebat dalam kanon susastra dunia, Haruki Murakami. Dalam wawancara ini Murakami mendiskusikan tentang gaya kepenulisannya dan kegelapan aneh yang kerap dia temui dalam proses penciptaan karya-karya tulisnya. “That is a very big theme of my fiction–missing something and seeking it and finding it,” ujar Murakami menanggapi pertanyaan tentang kekuatan pendorong utama dalam novel-novelnya. “My characters are often looking for something that has been lost. Sometimes it’s a girl, sometimes it’s a cause, sometimes it’s a purpose. But they are looking for something important, something critical, that was lost. But when the character finds it, there will be some kind of disappointment. I don’t know why, but that is a kind of motif in my fiction–looking for something and finding it, but it’s not a happy ending. You know, if the protagonist is happy, there’s no story at all.

[2] Heavy Metal Confronts Its Nazi Problem — foto esai oleh Colin Moynihan tentang Black Flags Over Brooklyn, festival musik akhir pekan di Brooklyn Bazaar yang ada di kawasan Greenpoint, Brooklyn, New York, Amerika Serikat, yang kasih-tampil 15 grup musik metal sebagai pertunjukan ekstrem anti-fasisme pertama di Kota New York. Gigs musik ini, mencomot tulisan Moynihan, “direncanakan sebagai bentuk perayaan musik bawah-tanah” dan “respons terhadap subgenre yang dikenal sebagai National Socialist black metal yang mendukung pandangan neo-Nazi … untuk tujuan supremasi kulit putih”.

[3] Do We Write Differently on a Screen? oleh Tim Parks tentang pergantian medium yang digunakan oleh manusia untuk menulis — mulai dari pulpen dan buku catatan, mesin tik, sampai komputer pada zaman modern — dan bagaimana hal itu ternyata mengubah segala sesuatunya: “The mind becomes locked into an obsessive, manic back-and-forth. When immediate confirmation is not forthcoming, there is a sense of failure. Suddenly, the writer, very close to his public, is tempted to work hard and fast to please immediately, superficially, in order to have immediate gratification for himself in return. Curiously, the apparent freedom of e-mail and the Internet makes us more and more conformist as we talk to each other unceasingly. While you sit at your computer now, the world seethes behind the letters as they appear on the screen. You can toggle to a football match, a parliamentary debate, a tsunami. A beep tells you that an e-mail has arrived. WhatsApp flashes on the screen. Interruption is constant but also desired. Or at least you’re conflicted about it. You realize that the people reading what you have written will also be interrupted. They are also sitting at screens, with smartphones in their pockets. They won’t be able to deal with long sentences, extended metaphors. They won’t be drawn into the enchantment of the text. So should you change the way you write accordingly? Have you already changed, unwittingly?

[4] An Art-Historical Analysis of Cersei Lannister Sipping Wine tulisan Adam Gopnik yang merayakan penayangan pertama trailer serial televisi Game of Thrones (season 8). Gopnik, yang menobatkan dirinya sendiri secara sepihak sebagai penggemar Game of Thrones paling taat, menganalisis “kebiasaan” karakter Cersei Lannister (Ratu Tujuh Kerajaan Westeros ini, bagi saya, adalah sebentuk ekspresi indah dari kelicikan sekaligus teror yang sewenang-wenang) menyesap wine di atas penderitaan orang lain — sebentuk tablo yang sudah menjadi kiasan visual ikonik dari serial televisi ini. Gopnik kasih-penjelasan secara singkat tentang pendidikan seni-sejarah antara kaum perempuan dan minuman anggur: pelanggaran norma, rayuan, partisipasi semu dalam budaya minum-minum di bar, otonomi atau pemberdayaan untuk menuntut kesetaraan gender, merebut kontrol, dan kepuasan diri. Bagi beberapa pemirsa setia Game of Thrones, gambar Cersei dengan senyum kecil liciknya sedang menyesap segelas wine adalah representasi teror yang sangat menyeramkan tetapi bikin ketagihan untuk ditonton. Ah, sama seperti Gopnik, saya berharap musim final ini menjadi spektakel yang luar biasa untuk memungkasi keistimewaan Game of Thrones.

Omong-omong tentang spektakel, atau tontonan, beberapa hari sebelum ini saya cuma menonton film-film hina yang tidak akan saya cantumkan di sini. Tontonan paling manis yang sempat saya nikmati — dengan penuh deg-degan, keringat dingin di sekujur tubuh, dan kondisi perut yang tidak keruan — pekan kemarin adalah pengejawantahan semangat fino alla fine Juventus di atas lapangan hijau setelah mampu menggasak Atlético Madrid untuk mencipta momen remontada.

Sebagai referensi, album debut proyek solo Elena Tonra bertajuk Ex:Re (2018) rasa-rasanya cocok untuk menemani momen-momen puncak musim penghujan. Album tersebut merupakan rekaman musik yang mempertemukan amarah dengan muslihat dan kemudian dibentrokkan dengan euforia ceroboh dalam formasi sepuluh lagu, sebentuk pendekatan metodis untuk berurusan dengan perpisahan — untuk menghadapi patah hati dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya. Saya juga bernostalgia dengan album kompilasi Death to the Pixies (1997) dari Pixies dalam beberapa hari di akhir bulan Februari kemarin: kumpulan syair lembut dengan iringan akustik pada bagian verse dan diikuti oleh ledakan distorsi untuk lintasan chorus-nya yang membikin saya terjebak dalam romantisme nostalgik masa lalu yang (sepertinya sih) indah dan mengingatkan bahwa saya semakin menua. Sementara itu, selain beberapa lagu dari Radiohead, formasi daftarputar MediaMonkey di laptop butut saya juga berisikan Woh (Sisir Tanah, 2017), Take Care – Single (Cantika Abigail & Adrian Khalif, 2018), Seed (Jeremy Roske, 2019), Salam Kenal (Daramuda, 2019), Kembara (Pagi Tadi, 2016), Constellation (Stars and Rabbit, 2015), Beberapa Orang Memaafkan – EP (.Feast, 2018), dan Bahasa Hati (Sandrayati Fay, 2017).

Sudah jamak diketahui bahwa kenyataan jauh lebih absurd dan menyimpan teror yang menakutkan — tidak jarang pula menyebalkan dan bikin gerah — di balik jubah fantastisnya. Kita sekarang ini hidup sebagai sekrup mesin superlaknat bernama kapitalisme yang sekaligus menempatkan kita semua di bawah ancaman katastrofe akibat pemanasan global, ketimpangan ekonomi yang semakin menganga lebar, media-sosial yang dibajak badut-badut politik konyol untuk menyebar kebencian dan kabar tipu-tipu, represi kebebasan berekspresi, dan lain sebagainya. Orang-orang di sini, di Indonesia, malah sedang dikepung oleh suasana pemilihan umum yang tidak mengenakkan. Janji politik yang muluk-muluk berhias agama diobral murah macam sempak lima ribuan dapat tiga di pinggir jalan.

Bukan cuma itu saja, pada awal tahun ini para pemangku kekuasaan dengan tabiat rakus yang tidak pernah bisa terpuaskan menawarkan beragam penindasan lain yang dikemas dengan kekonyolan absurd atas-nama “kebaikan bersama”, di antaranya adalah RUU (Rancangan Undang-Undang) Permusikan dan upaya menghidupkan kembali Dwifungsi TNI (Tentara Nasional Indonesia).

Respons terbaik terhadap dua hal menyebalkan yang menyulut polemik itu datang dari kawan saya di blog pribadinya, Rat Race Cycle. Tidak seperti Melly Goeslaw yang membuka dukungan terbukanya untuk pengesahan RUU Permusikan dengan “Gini ya adik2 sayang,sy dah gak muda lg”, sejumput kalimat senioritas yang begitu merendahkan, kawan saya dalam tulisannya yang berjudul RUU permusikan dan negara yang membosankan. dengan tegas langsung menolak akal-akalan para cartolas berpeci: “Baru beberapa hari memegang gawai, saya disuguhkan bualan konyol terbaru yang diusulkan para badut ini, RUU permusikan.

Sementara untuk wacana mengembalikan Dwifungsi TNI, kawan saya — melalui artikel Bakteri itu bernama dwifungsi ABRI. di blog pribadinya — memberikan pertanyaan yang sangat pas untuk direnungkan: “Apa yang akan terjadi jika TNI memiliki dwifungsi selain menjaga pertahanan negara juga mengurusi sosial, politik, ekonomi, bahkan keagamaan?” Saya menawarkan beberapa kata kunci untuk menjawabnya: Tragedi 1965, Tim Mawar, Petrus 1980an, Peristiwa Tanjung Priok, Penghilangan Paksa 1997/98, Operasi Seroja, Operasi Jaring Merah. “… dan semua kasus itu tidak sepenuhnya tuntas di meja pengadilan,” tulis kawan saya, “yang tuntas malah kasus simbah-simbah yang dipidana pencurian karena mengambil kayu dari lahan perhutani. Bahkan sampai saat ini, pasca reformasi, dua dekade setelah dwifungsi abri itu ditiadakan, pelanggaran hak asasi manusia dan penindasan di negara ini semakin masif dan aparat bersenjata tetap menjadi alat pemerintahan paling ampuh untuk ‘membunuh’ mereka yang melawan. […] aparat bersenjata itu hanya menjadi alat bagi negara untuk menindas rakyat atas nama keutuhan negara yang menjadi penjilat terdepan pantat pantat investor.

Di Indonesia masa kini, praktik politik dan budaya — serta pemaknaan sejarah — disesaki oleh mitos-mitos. Misalnya saja ada mitos yang berbunyi: “Isih penak jamanku to? Rego sembako murah, urip enteng…” Padahal kita sama-sama tahu bahwa yang murah pada “zaman itu” adalah harga nyawa, yang sangat enteng dihilangkan begitu saja. Jadi saya tidak bakal heran kalau banyak orang yang mati-matian mendukung kembalinya Dwifungsi TNI atau bentuk represi lainnya atas-nama dongeng “kesejahteraan rakyat”. Ah, saya teringat potongan surat Marcos kepada Fernando Yañez Muñoz yang pernah dipajang oleh koran harian La Jornada pada 18 November 2002.

Seorang pemberontak adalah — kalau kau mengizinkan gambaran ini — seorang manusia yang menabrakkan dirinya sendiri ke dinding-dinding labirin sejarah. Dan agar tak timbul salah-tafsir, ia membentur-benturkan dirinya bukan untuk mencari jalan pintas yang akan menuntunnya keluar.

Bukan, seorang pemberontak menabraki dinding sebab ia tahu labirin ini sebuah jebakan, sebab ia tahu tak ada jalan keluar lain selain dengan merobohkan dindingnya.

Dan bila seorang pemberontak memakai kepalanya sebagai pentungan, itu bukan karena kepalanya keras (yang memang tak usah diragukan lagi), tapi karena merobohkan jebakan sejarah, beserta semua mitos-mitosnya, adalah kerja yang harus dilakukan dengan kepala, artinya: sebuah kerja intelektual.

Maka konsekuensinya, seorang pemberontak akan menderita sakit kepala yang begitu gawat dan berkelanjutan yang membuatnya lupa akan migrainnya yang paling parah.

Sementara itu…

Bagi mereka yang menjual tenaganya untuk mendapatkan upah bulanan, bekerja keras dan terus-terusan sibuk merupakan lencana kebanggaan, dan ada begitu banyak industri yang menjanjikan sesuatu untuk membikin kita lebih produktif dan lebih efisien. Bagi sebagian orang, kerja keras diberlakukan melalui pemantauan konstan di tempat kerja, rehat sejenak yang dianggap tabu, atau kesanggupan untuk tetap siap-siaga, misalnya dengan merespons surel (surat elektronik) dan panggilan telepon di luar jam kerja. Rutinitas kerja harian diidealkan sebagai suatu hal yang memberikan makna dalam kehidupan, sementara pada saat yang bersamaan hal itu malah mengasingkan kita dari sumber arti hidup lainnya — macam keluarga, kekasih, kawan, komunitas kolektif, impian, hobi, hasrat — melalui jam kerja yang membosankan dan lembur yang terkadang tidak dibayar dengan pantas. Efek sosial, psikologis, dan fisik yang negatif dan merugikan dari narasi / asumsi sentralitas pekerjaan dalam kehidupan dan masyarakat hari ini mulai dipertanyakan. Visi utopis tentang kehidupan ideal yang lebih menyenangkan, yang menawarkan standar hidup yang lebih nyaman dan membahagiakan tanpa kerja upahan, masih mungkin untuk diwujudkan.

Dua-tiga pagi yang lalu, tenggelam di tengah-tengah kondisi kemacetan jalan yang sudah menjadi suatu kewajaran di sini, otak kopong saya tiba-tiba memikirkan beberapa hal acak dalam perjalanan berangkat ke tempat membudak. Beberapa renungan nyelonong begitu saja ke batok kepala saya tanpa permisi. Masalahnya, pikiran saya tidak selalu bisa diandalkan untuk mengingat-ingat sesuatu yang sudah lewat. Butuh upaya yang tidak gampang untuk mengingat apa-apa yang saya renungkan pada waktu itu secara runut, jadi di sini saya bakal mencatat hal yang bisa saya ingat saja dan, untuk menghindari gaya penulisan yang serius dan kaku khas antropolog, saya sedapat mungkin akan mencoba menulisnya dengan tidak urut dalam gaya penuh gairah dan main-main yang menyenangkan hati kaum muda dan golongan sepuh — tetapi kamu juga bebas membacanya sebagai sesuatu yang rada formal. Di sini imajinasi yang memerintah, dan setiap orang boleh berbuat sesukanya. Maka inilah renungan-renungan yang tidak terlalu istimewa itu:

Satu–. Saya cuma berjarak sekitar puluhan hasta dari pagar kandang kontrakan, tetapi saya tidak mungkin balik kandang untuk mengambil pengisi baterai ponsel-cerdas saya yang tertinggal di dalam kandang. Sial!

Dua–. Apakah ada baiknya saya menelepon ke tempat membudak untuk minta izin tidak masuk kerja karena sakit meski sebenarnya saya sudah mandi dan sekarang tampak konyol di tengah kemacetan jalan?

Tiga–. Saya selalu memakai setelan kemeja, kaus, dan celana jin, sekaligus sepatu dan kaus kaki, berwarna hitam dan siapa pun tidak boleh memprotes apalagi melarangnya.

Empat–. Peristiwa tragis apa yang mesti terjadi agar saya tidak perlu membudak pagi ini?

Lima–. Tidak ada salahnya memulai hari dengan menyelam ke dalam limbah manusia, yaitu media-sosial.

Enam–. Besok enaknya ngapain ya?

Tujuh–. Saya benar-benar merasa bugar dan perkasa meskipun begadang semalam suntuk: saya adalah budak yang tidak terkalahkan!

Delapan–. Haruskah saya memeriksa surel kerjaan di ponsel-cerdas dalam perjalanan berangkat, atau menggunakan komputer di tempat membudak?

Sembilan–. Apakah orang-orang bakal menghakimi dengan tatapan penuh hina andai saya membawa bekal nasi jagung untuk sarapan?

Sepuluh–. Apakah ada warung nasi jagung yang dekat dengan tempat membudak saya?

Sebelas–. Apakah hari ini merupakan momen yang tepat untuk ngasih-tahu bos supaya dia berhenti menggunakan kata “merubah” dalam tulisan maupun percakapan?

Duabelas–. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa kemacetan jalan raya ini disebabkan oleh sesuatu yang tidak penting sama sekali!

Tigabelas–. Adakah seseorang yang bisa kasih-penjelasan kenapa saya mesti terjebak dalam kemacetan jalan raya setiap harinya untuk menghabiskan delapan jam di sebuah ruangan ber-AC (air conditioning, atau penyejuk udara) dan secara simultan bertukar pesan teks atau surel dengan beberapa orang yang hanya berjarak sekitar lima sampai sepuluh kaki dari saya?

Empatbelas–. Jika saya tidak banyak tingkah sepanjang hari, saya ingin tahu apakah ada yang bakal memerhatikan kalau saya tidak pernah menyetrika kemeja dan celana jin saya selama ini?

Limabelas–. Hore, ada warung nasi jagung yang cuma berjarak beberapa kilometer dari tempat saya membudak. Ternyata aplikasi Google Maps di ponsel-cerdas saya ada gunanya juga.

Enambelas–. Berapa lama saya bisa berpura-pura serius di depan layar monitor sebelum ada yang akhirnya menyadari bahwa saya belum membereskan pekerjaan apa pun pagi ini?

Tujuhbelas–. Orang yang membawa pulang tugas-tugas membudak untuk dikerjakan di rumah adalah orang yang paling tidak efisien sedunia.

Delapanbelas–. Saya menyesal karena tidak bisa mengucapkan selamat tinggal kepada ayah dan kakek-nenek saya sebelum mereka bertiga mati.

Sembilanbelas–. Mengapa saya (dan, mungkin, kamu) perlu melakukan pekerjaan yang menjemukan setiap harinya demi bertahan hidup? Andai sumber daya didistribusikan secara adil dan merata, semua orang akan bisa menghidupi hidup secara gampang dengan sesuatu yang lebih sehat dan lebih menyenangkan. Bayangkan jika semua orang punya kesempatan untuk mengejar hasrat dan memuaskan cita-cita pribadi mereka, bukankah hidup ini bakal lebih layak untuk dijalani? Terobosan artistik, ilmiah, dan filosofis akan melambungkan spesies kita ke zaman baru yang penuh dengan kebahagiaan dan cinta. Oh, saya sudah tiba di tempat membudak.

Duapuluh–. Saya selalu tidak sabar menanti datangnya sore untuk balik ke kandang kontrakan, untuk bersantai menghabiskan hari dengan selonjoran sambil membaca buku atau menonton film ditemani beberapa linting tembakau cum secangkir-dua kopihitam, dan sejenak mempersetankan apa-apa yang ruwet di luar sana.

Setelah menaruh motor matic pinjaman di halaman yang sudah disediakan, saya beringsut dari tempat parkir ke bilik membudak dan menyalakan komputer. Sambil menunggu, saya sempatkan melinting tembakau bercampur ketidak-pastian sekaligus remah asa, membakarnya dan mengisapnya dalam-dalam. Kemudian saya mendengar diri sendiri berucap jernih: “Barangkali iya… Tetapi bisa juga tidak…

* * * * *

Subuh di luar kandang kontrakan. Perlahan, dengan gerakan yang santai dan kontinu, rembulan membiarkan selimut hitam malamhari melorot lepas dari tubuhnya, sampai akhirnya menyiratkan ketelanjangan erotis dari sela-sela jendela kandang: selonjor menelungkup luas langit yang beranjak terang, berhasrat melihat dan dilihat atau menjamah dan dijamah. Sewaktu saya mengetik kalimat pembuka untuk mengakhiri catatan banal kali ini — sumpah demi apa pun, ini benar-benar mendekati ujung penghabisan, kuatkanlah dirimu dan lanjutkanlah membaca sedikit lagi — perut saya sudah ditenangkan oleh seporsi Nasi Tempe Geprek setengah jam yang lalu sementara fajar sidik bersiap kasih-pamer cahayanya. Pagihari ini tidak hujan, dan mentari mampu terbit tanpa banyak masalah, muncul dari persembunyiannya di balik garis cakrawala. Hawa hangat menggerayangi lekuk kaku tembok-tembok kandang dan apa pun yang ada di dalamnya.

Pengeras suara rombeng teronggok menyisakan dengung yang anehnya malah menguarkan kesan syahdu. Komite ingatan — yang sesekali saja berfungsi secara benar — di dalam batok kepala saya memutar episode tawa sejoli yang familier sedang mengulangi ritus kuno asmara. Sang perempuan tersenyum seolah bernyanyi, dan si lelaki menggumamkan sesuatu. Kemudian hening, lalu erangan dan desah tertahan. Atau mungkin sebaliknya: pertama erangan dan desah, yang kedua adalah senyum dan gumam. Samar. Tetapi biarlah, tidak terlalu penting bebunyian mana yang muncul pertama dan suara apa yang mengekor sesudahnya, sebab cinta — meski tidak akan pernah sederhana — sebenarnya cuma butuh tatapan mata yang menubuh bercampur peluh.

Apa pun itu, kita semua sejatinya sedang (dan terus-menerus tanpa henti) belajar menjadi makhluk fana bernama manusia yang sanggup memeriahkan dan menghidupi hidup sebisa-bisanya. Di sini imajinasi yang memerintah, dan setiap orang boleh berbuat sesukanya. {ѧ}

Advertisements

Published by imajinasijoker

setengah manusia, separuh bangsat. benci otoritas. pembual kacangan yang lebih suka tembakau, kopihitam, dan arak lokal ~

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: