#BanalitasHarian: kolam kematian

Melakukan hal-hal banal di antara rutinitas membudak harian yang lebih banal lagi merupakan sebentuk kemewahan yang harus terus-terusan diasah, sebuah jeda yang sangat diperlukan untuk mencipta jarak dan menjaga kewarasan dalam upaya bertahan hidup di sebuah dunia yang semakin tidak baik-baik saja. Salah satu dari hal-hal banal yang saya maksud adalah membaca artikel-artikel daring (dalam jaringan / online) dengan memanfaatkan koneksi internet gratis di tempat membudak, dan beberapa di antaranya saya anggap cukup bagus untuk dipamer-bagikan dalam catatan banal kali ini.

Mari memulainya dengan kemenangan kaum perempuan India yang dikabarkan oleh Rana Ayyub melalui tulisan berjudul In India, women are no longer prepared to stay silent dan tayang di The Guardian. Bagi kaum perempuan India, keberanian untuk mengidentifikasi dan melawan seorang lelaki bejat tidaklah segampang membalikkan telapak tangan. Dalam sebuah budaya yang menormalisasi (bahkan cenderung meremeh-temehkan) aksi pelecehan seksual dan mengaburkan garis persetujuan atas-nama kepuasan patriarki / ide-ide kejantanan yang cacat, sebuah adat yang memosisikan perempuan sebagai “warga kelas dua rendahan”, dibutuhkan kekuatan eksternal yang luar biasa besar — konteks kali ini dalam bentuk Gerakan #MeToo — untuk melaporkan tindak pelecehan seksual. Kini kaum perempuan India sudah memutuskan untuk tidak lagi bersembunyi dalam kesenyapan: mereka telah memutuskan untuk memberontak terhadap norma-norma usang yang selama ini telah dipaksakan kepada mereka. Dengan pengunduran diri seorang menteri kabinet di sana beberapa waktu yang lalu, kaum perempuan India telah mengklaim kemenangan pertama mereka — namun perlawanan dan perjuangan demi kehidupan yang lebih baik masih belum usai.

Dalam esai menarik So, WAS Friends Homophobic? yang tayang di Literary Hub, Kelsey Miller mencoba mengomentari upaya pengarus-utamaan kehidupan LGBT (lesbian, gay, bisexual, and transgender) yang lambat dan canggung di beberapa program acara televisi Amerika Serikat, dan yang menjadi fokus utama Miller adalah serial komedi situasi yang fenomenal: Friends (1994-2004) ciptaan Marta Kauffman dan David Crane. Sementara Erinn Salge dalam artikel yang juga tayang di Literary Hub berjudul Stop Dismissing Inclusive Children’s Books as ‘Too Political’ mewanti-wanti bahwa upaya mengabaikan buku anak-anak inklusif sebagai suatu bacaan yang “terlalu politis” bisa merugikan bagi tumbuh-kembang semua anak kecil: “… if scholars and booksellers yield to the idea that representing all people makes books more leftist, or inherently political, they close the doors on these narratives and their importance. Proclaiming them to be of little use to ‘plenty’ of families tells the children who see themselves represented that they, too, are of little use to most people.

The Washington Post menayangkan Why a far-right extremist targeted a yoga studio for violence tulisan Natalia Petrzela yang menarik benang merah antara musim pemilu (pemilihan umum) di Amerika Serikat tahun ini dan aksi penembakan brutal di studio latihan yoga beberapa hari sebelum hari H pemungutan suara, sebab yoga — meski sekarang ini cuma dipandang sebagai latihan kesehatan semata dan kerap dikaitkan dengan celana legging ketat yang supermahal serta koleksi swafoto yang bisa diunggah ke Instagram demi menarik perhatian banyak orang — pada kenyataannya memiliki riwayat panjang sebagai aksi yang sangat politis, dan fondasi filosofisnya melampaui praktik asana fisik. Yoga sebenarnya tidak banyak berhubungan dengan postur atau gerak fisik, tetapi lebih kepada fleksibilitas kognitif dan emosional yang sangat diperlukan untuk mengkritik tatanan sosial masyarakat dan berupaya membikin hidup menjadi lebih layak untuk dijalani melalui ideologi filosofis purba. Saat ini yoga memang sepenuhnya berada di bawah kendali mantra kapitalisme, dengan banyak instrukturnya lebih mementingkan jumlah pengikut di Instagram dan memonetisasi praktik latihannya, namun — tetap saja — bagi sebagian orang yang waras, yoga merupakan penyelidikan yang jujur mengenai jati diri sendiri. Yoga setidaknya menawarkan jeda yang sangat diperlukan dalam sebuah masyarakat yang semakin terobsesi dengan kecepatan tanpa henti.

Kemudian ada Making drama out of the refugee crisis tulisan Charlie Phillips yang tayang di The Guardian tentang upaya beberapa sineas untuk mendokumentasi sekaligus mendramatisir krisis migran di Eropa yang ditutup dengan menarik: “Documentaries can provoke viewers and have relevance to Europe’s debate over refugees. However, if they don’t provide space to understand refugees’ experiences of being watched by us, they become just another news story.” Lalu ada tulisan lawas dari Michael Sokolove berjudul How a Soccer Star Is Made di situsweb The New York Times Magazine yang memerinci metode brilian akademi sepakbola milik AFC Ajax (dikenal secara megah dengan nama De Toekomst, atau “Masa Depan”) dalam menempa bakat-bakat sepakbola sejak usia dini: “There are two ways to become a world-class soccer player,” tulis Sokolove dengan keyakinan tertentu. “One is to spend hours and hours in pickup games — in parks, streets, alleyways — on imperfect surfaces that, if mastered, can give a competitor an advantage when he finally graduates to groomed fields. This is the Brazilian way and also the model in much of the rest of South America, Central America and the soccer hotbeds of Africa. It is like baseball in the Dominican Republic. Children play all the time and on their own. The other way is the Ajax method. Scientific training. Attention to detail. Time spent touching the ball rather than playing a mindless number of organized games.” Pula ada dua artikel tentang perubahan iklim yang ditayangkan oleh The Guardian: A youth activist on the climate crisis: politicians won’t save us, sebuah curahan hati dari Victoria Barrett sebagai pejuang lingkungan (“Politicians will never be the core of this movement. We need to highlight and uplift genuine grassroots movements that properly address the lived experiences of the people they protect. We need to turn our attention and our energy into communities that are helping themselves in the best ways that they can. […] This is why, to fight the powers that hand away pieces of our environment for profit, we must enlist the people who have lived on the margins of society. People power will always be stronger than the people in power.”); dan East Antarctica glacial stronghold melting as seas warm yang melaporkan pencairan gletser di Timur Antartika karena peningkatan suhu laut, dan tanpa upaya serius untuk mengurangi emisi karbon, pencairan semacam ini bakal terus berlanjut selama ribuan tahun dan bahkan Bahtera Nuh sekalipun tidak akan bisa menyelamatkan manusia kali ini (“The finding has very serious repercussions for climate change and particularly sea-level rise. It has the potential to mean that our sea-level projections could be [in] an order of magnitude higher than we’re anticipating.”).

Esai menarik lainnya adalah Apocalypse Later: The End is Always Near—and Here’s Hoping It Stays There tulisan Brendan Buhler di situsweb Cal Alumni Association yang mencoba menggambarkan berbagai macam skenario tentang Apokalips — atau Kiamat, atau Ragnarök, atau Periode Akhir, atau Harmagedon, atau Big Rip, atau Big Freeze, atau Big Crunch, atau Alfa dan Omega, atau terserah kamu ingin menyebutnya dengan apa. Dalam esainya, Buhler kasih-tunjuk “kiamat” yang pernah terjadi di dunia (Maut Hitam, yang mengklaim sepertiga populasi dunia pada pertengahan hingga akhir abad ke-14) dan melanjutkannya dengan mencatat beberapa ramalan “kiamat” selama setengah abad terakhir (mulai dari lonjakan populasi manusia, kelaparan, kelangkaan sumber daya, katastrofe ekologi, sampai perang nuklir).

Di antara semua ramalan menakutkan tentang Apokalips tersebut, Buhler menyampaikan sebuah penghiburan bahwa mungkin masih ada harapan bagi (ke)manusia(an) untuk bisa bertahan menghadapi Hari Akhir. Menurut Buhler setidaknya ada tiga pelajaran yang bisa membesarkan hati manusia tentang “kiamat”: [1] peristiwa semacam itu boleh jadi bukan benar-benar “akhir dari dunia”, [2] manusia secara mengejutkan ternyata adalah makhluk tangguh dan lihai beradaptasi untuk bertahan hidup, dan [3] andai “kiamat” memang tidak bisa dihindari, setidaknya hal itu masih bisa ditunda. Seperti yang diocehkan Buhler dalam esainya, Apokalips memang belum benar-benar terjadi — tetapi dengan segala perkembangan teknologi yang semakin mendekati mitos kereta juggernaut yang bakal menabrak dan menggilas apa pun yang ada di depannya dengan laju superkencang tanpa bisa dikendalikan, serta tabiat manusia yang congkak dan enggak pernah puas, saya merinding saat membayangkan masa depan suram-mengerikan macam apa yang bakal terjadi.

Saya akhirnya menginsafi sebentuk kecemasan tentang suramnya masa depan manusia setelah pada Senin malam kemarin menandaskan halaman terakhir buku Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia (terjemahan Yanto Musthofa dan diterbitkan oleh Pustaka Alvabet) yang tebal dan provokatif tulisan Yuval Noah Harari. Meskipun tidak memberikan pengalaman membaca yang orgasmik karena kualitas penerjemahan yang terasa kaku dan ada beberapa kesalahan teknis dalam pengetikan tanda baca atau huruf-hurufnya yang menguarkan rasa ketidak-nyamanan, petualangan selama 47 hari dengan buku ini memberikan saya pemahaman bahwa secara keseluruhan Harari mencoba melacak asal-usul dari kondisi banal hari ini demi mengendurkan cengkeramannya serta memungkinkan kita — saya dan kamu — untuk bertindak secara berbeda dan berpikir dalam cara yang jauh lebih imajinatif tentang masa depan, bukannya malah menyempitkan sudut pandang kita melalui satu skenario nubuat tunggal yang definitif. Buku ini justru mencoba untuk memperluas pandangan dan membikin kita menyadari spektrum pilihan yang lebih lapang untuk seenggaknya meredam kekhawatiran yang tidak mengenakkan tentang suramnya masa depan Homo sapiens.

Kemudian ada enam artikel lezat dari situsweb The New Yorker yang saya konsumsi dalam beberapa pekan ke belakang:

[1] The Lottery karangan Shirley Jackson, sebuah cerpen (cerita pendek) yang dibuka dengan syahdu dan berakhir dalam situasi horor yang sadis (“The morning of June 27th was clear and sunny, with the fresh warmth of a full-summer day; the flowers were blossoming profusely and the grass was richly green. […] The children had stones already. And someone gave little Davy Hutchinson a few pebbles. Tessie Hutchinson was in the center of a cleared space by now, and she held her hands out desperately as the villagers moved in on her. ‘It is not fair,’ she said. A stone hit her on the side of the head. Old Man Warner was saying, ‘Come on, come on, everyone.’ Steve Adams was in the front of the crowd of villagers, with Mrs. Graves beside him. ‘It is not fair, it is not right,’ Mrs. Hutchinson screamed, and then they were upon her.”), tentang ritual tahunan yang dikenal dengan sebutan “undian” dari komunitas masyarakat di sebuah kota kecil fiktif (aktivitas mengundi salah satu warga sebagai kambing hitam untuk dihukum-rajam sampai mati demi membersihkan kota dari segala bentuk malapetaka dan kemalangan sehingga memungkinkan datangnya berkah kebaikan) — kenikmatan cerpen ini juga berbicara tentang psikologi massa dan gagasan bahwa seseorang bisa bertindak kejam jika dia adalah bagian dari sekelompok besar / mayoritas orang yang berperilaku dengan cara yang sama, dan juga menunjukkan tentang orang-orang yang mengikuti sebuah tradisi secara membabi-buta tanpa memikirkan konsekuensi dari tradisi tersebut, sementara latar cerpennya yang indah menyiratkan bahwa kekerasan yang keji bisa terjadi di mana saja (bahkan di dalam “Surga” sekalipun) dan dalam konteks apa pun.

[2] cerpen tulisan Scholastique Mukasonga berjudul Cattle Praise Song (“Every man had something to say about the cows he’d once owned and those he would perhaps, one day, own again.”) tentang perjuangan Suku Tutsi dan Hutu moderat menyusun kembali remah-remah kehidupan mereka mengandalkan romantisme nostalgik dengan aktivitas gembala sapi setelah peristiwa Genosida Rwanda yang dilakukan oleh Organisasi Paramiliter Interahamwe.

[3] How Extreme Weather Is Shrinking the Planet tulisan Bill McKibben, sebuah esai yang cukup panjang tentang kondisi Ibu Bumi yang semakin tidak baik-baik saja akibat ulah manusia — dengan naiknya permukaan laut, kebakaran hutan, dan gelombang panas ekstrem, traktat besar di planet ini berisiko menjadi wilayah yang tidak bisa lagi untuk dihuni (namun industri bahan bakar fosil masih tekun melanjutkan serangan terhadap fakta-fakta mengerikan itu): “The poorest and most vulnerable will pay the highest price. But already, even in the most affluent areas, many of us hesitate to walk across a grassy meadow because of the proliferation of ticks bearing Lyme disease which have come with the hot weather; we have found ourselves unable to swim off beaches, because jellyfish, which thrive as warming seas kill off other marine life, have taken over the water. The planet’s diameter will remain eight thousand miles, and its surface will still cover two hundred million square miles. But the earth, for humans, has begun to shrink, under our feet and in our minds.

[4] wawancara imajinatif oleh Jeremiah Budin kepada Voltaire, Gottfried Wilhelm Leibniz, dan Edmond Halley tentang keberhasilan Isaac Newton menemukan teori gravitasi, yang dirangkum secara kocak dalam artikel berjudul An Oral History of Isaac Newton “Discovering” Gravity, as Told by His Contemporaries: “VOLTAIRE: I actually had my own discovery relating to apples, which was that when an apple falls out of a tree and hits you on the head, juice comes out of the apple. To me, that seems more interesting than whatever Newton was talking about.

[5] Zoë Heller melalui Why We Sleep, and Why We Often Can’t mencoba melacak apakah obsesi manusia kontemporer telah mengaburkan sesuatu yang pada awalnya membikin aktivitas tidur begitu istimewa.

[6] esai Salman Rushdie yang berjudul Truth, Lies, and Literature tentang pemaknaan realitas, seringnya melalui ciri khas yang tersirat dalam suatu karya sastra, yang selalu berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman: “The past is constantly revised according to the attitudes of the present. […] I have argued, for much of my life as a writer, that the breakdown in the old agreements about reality is now the most significant reality, and that the world can perhaps best be explained in terms of conflicting and often incompatible narratives.

Dari blog Arip Yeuh!: Kang Arip Abdurahman berbaik hati membagikan pendahuluan buku Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis-nya Eka Kurniawan, dan catatan perjalanannya ke Kampung Dobi — sebuah binatu komunal di dekat pusat Kota Bandung yang, mencomot tulisan Kang Arip, “ditinggal para dobi, atau tukang cuci, yang sudah terlalu kemarin untuk bersaing melawan mesin”.

Selain Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia-nya Harari, dalam dua-tiga bulan kemarin saya menggasak beberapa buku bacaan dengan agak rakus — dan, sungguh, ini bisa dianggap sebagai prestasi pribadi. Ting-a-ling! Pertama adalah Rahwana Putih: Sang Kegelapan Pemeram Keagungan Cinta (sebuah upaya dari Sri Teddy Rusdy untuk menyajikan gambaran alternatif tentang Rahwana setelah dia menelusuri-ulang epos Ramayana-nya Valmiki) yang diterbitkan oleh Yayasan Kertagama, lalu buku Ngudud: Cara Orang Jawa Menikmati Hidup (kumpulan pengalaman hidup Iman Budhi Santosa untuk menyelami peran rokok dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, terutama di kalangan “wong cilik”) terbitan Penerbit Manasuka, juga empat dari enam zine yang saya dapat dalam acara SDA Zine Fest Vol. 2 (Merendahkan Diri, Baru Kemudian Bertindak yang disusun oleh KUNCI Cultural Studies Center, Ingustrasi #3 dan Ingustrasi #4 karya Tanam Pasrah, serta Bisa Saja Kau Ini tanpa keterangan siapa yang menggarapnya).

Kemudian saya membaca Jorge Luis Borges dalam kumcer (kumpulan cerpen) karangannya yang berjudul Utopia Seorang Lelaki yang Lelah dan Kisah-Kisah Ganjil Lainnya, terbitan BasaBasi dan diterjemahkan dengan cukup bagus oleh David Setiawan: labirin; konfrontasi dengan muka ganda; kode etik yang dianut oleh petarung pisau, penjahat, dan gaucho; episode tentang kekejaman yang elusif sekaligus melankolis; adonan “yang nyata” dan “yang maya”. Saya selalu takjub dengan kepiawaian Borges meracik banyaknya unsur, sudut pandang, filosofi, dan konteks, untuk kemudian menyajikan semua itu dalam sebentuk kisah yang rapi, impresif, dan mengalir. Cuma sedikit orang yang punya kemampuan mengolah cerita seperti Borges dan, saya pikir, itu berkaitan-erat dengan pengalaman mengunyah berbagai variasi bacaan, imajinasi yang berjubel di batok kepala, dan kepekaan pancaindra, yang bersekongkol sedemikian rupa untuk mencitrakan gagasan cerita dalam keluasan dan keliaran. Saya pun akhirnya berdamai bahwa semua proses itu nyaris mustahil bagi saya — seonggok Sapiens dengan keterbatasan sumber bacaan, keringnya imajinasi, tumpulnya pancaindra, dan babak-belur dihajar kenyataan.

Buku selanjutnya yang tandas belakangan ini adalah Endorphin: Kumpulan Cerita & Rupa oleh R.E. Hartanto yang diedarkan Buku Mojok — setumpuk dongeng yang mengajak saya bertualang ke dimensi di luar nalar tentang vampir, tukang jagal, penyihir, perampokan, raja, pemerkosaan, malaikat, kemesuman, hantu, dan pembunuhan. Yang berikutnya: Tentang Kemiskinan Hidup Mahasiswa karya Mustapha Khayati yang dialihbahasa-indonesiakan oleh Pam dan diterbitkan Ikarus Press — pamflet yang menghajar kemiskinan mahasiswa (dalam segi seksual, politik, intelektual, dan ekonomi) dan menjadi salah satu pemicu awal meletupnya aksi pemberontakan mahasiswa yang merembet pada gerakan mogok massal para pekerja di seluruh Kota Paris, Prancis, yang sekarang lebih dikenal secara romantik dengan sebutan Paris Mei 1968; Tiga Sandera Terakhir-nya Brahmanto Anindito terbitan Penerbit Noura Books — bercerita tentang peristiwa penyanderaan berlatar-tempat Papua yang bisa saya rangkum dalam baris kalimat “penampilan selalu bisa menipu, cuma dibutuhkan sejumput ucapan keliru untuk memantik sebuah pembantaian, dan syukurlah papeda itu akhirnya muncul di ujung lazuardi”; Ketika Demokr—–

—-jancok, tangan saya kram!

Ketika Demokrasi Melahirkan Kudeta, sebuah antologi politik kiri terbitan Berdikari Book yang disusun oleh Coen Husain Pontoh, dkk. untuk menyelisik apakah kudeta adalah satu-satunya pilihan paling logis secara politik demi terciptanya perubahan yang demokratik, tuntas saya kunyah pada pertengahan Oktober kemarin; Anak Bungsu, yang bisa dibilang sebagai tafsiran / perenungan Soesilo Toer tentang kehidupan dan cinta terbitan Pataba Press, serta Seperti Roda Berputar: Catatan di Rumah Sakit-nya mendiang Rusdi Mathari (semacam bukti autentik betapa kreativitas dan hasrat untuk menulis memang sulit untuk dihentikan, bahkan oleh kanker yang membikin jari-jemari sulit digerakkan) yang diedarkan oleh Buku Mojok dan Kau Berhasil Jadi Peluru-nya Fitri Nganthi Wani (antologi puisi yang mencoba untuk tetap merawat ingatan bahwa segala bentuk perjuangan melawan ketidak-adilan masih belum menemui titik akhir) terbitan Warning Books saya tenggak pada satu hari yang malas di akhir pekan ketiga bulan Oktober kemarin; dan Anak-anak Masa Lalu, kumcer dengan formasi 14 cerita karangan Damhuri Muhammad (yang penuh dengan permainan paradoks dan kontradiksi secara bermuka-muka untuk kasih-tunjuk bahwa, di bawah impitan modernitas yang memabukkan, manusia pada kenyataannya tetap membawa dalam diri sekelumit masa lalu yang tidak terhapuskan) terbitan Marjin Kiri, tandas saya sesap sari-sarinya enam hari sebelum Oktober menemui ujung dan mati dalam pangkuan November yang agak muram. Sementara saat ini saya masih ajek di “BAGIAN II” bab 11 novel Frankenstein-nya Marry Shelley.

Rabu malam pekan kemarin Mbak AR–, dengan badan setengah kuyup karena kehujanan, muncul di depan pagar kandang kontrakan: “Aku lupa bawa mantel hujan,” katanya sambil tersenyum kecil dan mati-matian menahan gigil. “Kebetulan tadi habis dari rumah temen di sekitaran sini.” Setelah mengeringkan tubuh dan berganti baju seadanya, dalam suasana bingung harus ngapain untuk membunuh malam yang dinginnya sungguh jahanam, Mbak AR– membuka-buka koleksi film dan memutuskan — tanpa alasan khusus apa pun — untuk menyetel dwilogi pahlawan super Deadpool. “Nontonin orang gelut aja ya,” Mbak AR– tersenyum dan saya cuma bisa mengangguk lalu beranjak meracik dua cangkir kopihitam. Jadi, saya bakal mengisi catatan banal kali ini dengan ulasan singkat dua film yang kami (saya dan Mbak AR–) tonton pada pekan kemarin.

Yang pertama adalah Deadpool (2016) arahan Tim Miller, sebuah film yang mirip dengan remaja SMA (Sekolah Menengah Atas) yang selalu mengatakan betapa dia tidak peduli dengan apa-apa yang ada di pikiran orang lain, namun dia terlalu keras mengucapkannya sehingga semua orang dalam radius 500 meter bisa mendengarnya. Remaja cenderung bersikap sok keren dan berpura-pura tidak memedulikan apa pun, tetapi mereka sebenarnya haus perhatian. Karakter Wade Wilson / Deadpool (Ryan Reynolds) seringkali mengingatkan penonton, dengan gaya penceritaan “mendobrak dinding keempat” (fourth wall breaks), bahwa dia tidak peduli dengan semua aturan yang ada. Film ini bercerita tentang seorang lelaki yang terus-terusan menolak untuk dianggap sebagai pahlawan super — tetapi gagal menghidupkan potensi sumber materialnya, lebih memilih untuk memenggal agenda briliannya sendiri, dan berubah menjadi film biasa-biasa saja yang berisi tokoh-pahlawan-super-bercelana-ketat.

Mayoritas Deadpool tersaji dalam wujud kilas-balik setelah urutan adegan pembuka yang menampilkan Deadpool memorak-porandakan konvoi berisikan musuh bebuyutannya, Francis Freeman / Ajax (Ed Skrein). Ada dua sosok penting dalam kehidupan Deadpool: kekasih hati yang bernama Vanessa (Morena Baccarin) dan sahabat karibnya bernama Weasel (T.J. Miller). Hubungan asmara Wade dan Vanessa — yang pada awalnya begitu manis dan mengarah pada momen “bahagia selama-lamanya” tanpa halangan — karam ke dalam jurang yang paling gelap setelah Wade didiagnosis menderita kanker stadium akhir. Seseorang yang misterius kemudian muncul dengan penawaran untuk menyembuhkan kanker Wade asalkan dia mau menjadi kelinci percobaan dalam pengujian program Weapon X (sebuah proyek sains yang berhasil menciptakan Wolverine). Eksperimen terhadap Wade dilakukan oleh Ajax (dengan bantuan rekan jahat yang bernama Angel Dust [Gina Carano]) dan hal ini mengubah Wade menjadi mutan perkasa yang andal dalam baku-gelut serta diberkati dengan kekuatan regeneratif. Saat Ajax meninggalkannya di gedung laboratorium yang terbakar rata dengan tanah, Wade — yang telah berubah menjadi Deadpool — menghabiskan tahun-tahun berikutnya untuk memburu dan membunuh Ajax. Dua anggota X-Men — Negasonic Teenage Warhead (Brianna Hildebrand) dan Colossus (Stefan Kapičić) — hadir sebagai penjaga keseimbangan / perdamaian antara mutan & manusia, dan akhirnya membantu Deadpool untuk membalaskan dendam kesumat pada Ajax.

Deadpool tampil sebagai film yang sangat energik, dan menganggap film ini kurang mendalami materi sumbernya adalah sebentuk kesombongan yang terlampau kurang ajar. Film ini memang sengaja disajikan sedangkal mungkin yang secara rutin mencemooh eksistensinya sendiri dan film-film lain dalam genre superhero (ketika diajak ke X-Mansion [markas X-Men] untuk bertemu dengan Professor X, Deadpool bertanya “Stewart atau McAvoy?” dan konstan menyampaikan lelucon lain). Namun ada perbedaan mendasar antara “memberikan referensi genre” dan “menyindir genre”, dan penulis naskah skenario film ini (Paul Wernick dan Rhett Reese) seringnya sudah merasa puas dengan melakukan poin yang pertama ketimbang yang kedua. Kadang-kadang Deadpool terasa seperti parodi asal-asalan dan kurang memuaskan dari film X-Men (2000) arahan Bryan Singer.

Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa pendekatan bipolar Deadpool (sok nakal tetapi benar-benar cengeng dengan melodramanya) mencerminkan kepribadian ganda tokoh protagonisnya, tetapi hal itu tidak dikembangkan untuk menjadi sebuah keunikan yang sedap. Dan setiap kali film ini tampak menuju ke sebuah pertunjukan gelap yang menegangkan dan menarik, alur plot ceritanya malah menikung tajam menjadi komedi murahan di tengah-tengah pasar malam akhir pekan. Sebagian besar lelucon yang sama sekali tidak lucu dalam film ini adalah jenis kecerobohan yang kerap dibualkan oleh manusia-sok-asyik-dan-sok-keren untuk mendapatkan perhatian … pada era ‘90an.

Sewaktu menonton Deadpool untuk pertama kalinya dua tahun yang lalu, saya terpukau dengan keberanian filmnya untuk memerinci pengobatan kanker Wade dan kehidupan seksualnya dengan Vanessa, sekaligus sikap tidak taat aturan sebagai karakter pahlawan super dalam sebuah produksi film yang mahal. Sedangkan pada kesempatan kedua kali ini, rasa kagum saya gugur dan malah saya menganggap film ini sebagai produk sok keren dan sok asyik yang menyebalkan — film ini, seperti yang sempat saya singgung di awal, adalah gabungan antara remaja SMA dengan ketidak-peduliannya dan manusia-renta-sok-akrab yang haus perhatian, dan mereka berdua kerap melontarkan lelucon murahan yang tidak lucu sama sekali demi sebuah pengakuan eksistensi. Namun jika dibandingkan dengan film-film superhero yang mendahului dan mengikutinya, Deadpool terasa seperti penyeimbang yang memang diperlukan di jagat sinematik.

Apa-apa yang saya ketik di atas menjadi kumpulan kata yang tidak punya arti sama sekali mengingat Mbak AR– yang tampak selalu tertawa girang merespons setiap bit lelucon dan urutan adegan aksi yang disajikan Deadpool. Saat kredit akhir film mulai bergulir di layar laptop butut saya, Mbak AR– mengaku puas dan terhibur dengan semuanya: entah itu jalinan cerita filmnya maupun secangkir kopihitam racikan saya yang katanya sedap dan pas. Saya kemudian melinting tembakau dengan penuh rasa syukur, sementara Mbak AR– menyetel film kedua sambil berpesan bahwa dia besok mesti bangun pagi karena ada janji yang harus dituntaskan sebelum berangkat kerja.

Reynolds kembali tampil sebagai Wade alias Deadpool di film kedua yang kami tonton malam kemarin, Deadpool 2 (2018) garapan David Leitch: psikodrama suram dan memilukan yang,, saya yakin seyakin-yakinnya, pasti membingungkan dan memantik amarah orang-orang yang menyukai film pertamanya. Film ini dibuka dengan ledakan dahsyat: Deadpool tampak sedang melakukan ritual tidur-tiduran di atas ranjang kematian berupa enam (atau tujuh) tong bahan bakar yang ditindak-lanjuti dengan serangkaian kilas-balik untuk menceritakan trauma yang membikinnya gundah-gulana sehingga memutuskan untuk melakukan aksi bunuh diri dengan cara ekstrem. Jujur saja — saya sangat terkejut bahwa Reynolds, Leitch, dan tim penulis naskah skenarionya memiliki keberanian untuk membunuh pahlawan super mereka dengan cara menggemparkan semacam itu dalam lima menit awal filmnya, kemudian menghabiskan sisa durasi waktunya untuk menyangga kesedihan serta mendukung upaya move on karakter-karakternya, dan perjuangan tersebut disajikan dalam gambar noir yang lebih sering dikaitkan dengan film-film produksi DC Entertainment.

Puncak emosional Deadpool 2: urutan adegan panjang yang menampilkan Vanessa mengambil kostum mendiang Deadpool dari gantungan baju di lemari, menghirup remah aromanya dalam-dalam, dan meneteskan air mata memilukan, sementara versi akustik dari tembang Don’t Cry-nya Guns N’ Roses disetel sayup-sayup sebagai musik pengiringnya. Oke! Apa-apa yang barusan saya ketik tidak pernah terjadi, kecuali Deadpool memang meledakkan dirinya sendiri di awal film — dan jika kamu pernah membaca buku komik, atau menonton film, atau bernapas dengan baik dan benar dalam kehidupan ini, kamu pasti tahu dan paham bahwa film pahlawan super tidak bakal diawali dengan karakter protagonisnya mati bunuh diri kecuali plot ceritanya memang berencana sedemikian rupa untuk membatalkan kerusakan tragis semacam itu sesegera mungkin.

After surviving a near fatal bovine attack,” tulis bagian pemasaran 20th Century Fox di situsweb resminya untuk meringkas plot cerita Deadpool 2 yang memberikan sedikit indikasi tentang level ketenangan yang coba dijual oleh filmnya, “a disfigured cafeteria chef (Wade Wilson) struggles to fulfill his dream of becoming Mayberry’s hottest bartender while also learning to cope with his lost sense of taste. Searching to regain his spice for life, as well as a flux capacitor, Wade must battle ninjas, the Yakuza, and a pack of sexually aggressive canines, as he journeys around the world to discover the importance of family, friendship, and flavor — finding a new taste for adventure and earning the coveted coffee mug title of World’s Best Lover.” Ketika film ini sedang berlagak serius, atau mencoba membodohi saya — sebagai penonton — bahwa ini adalah film yang serius, ada secuil binar di sekujur plot ceritanya yang membikin kesan tersebut menjauh untuk kemudian menghilang sepenuhnya.

Naskah skenario Deadpool 2 — yang ditulis bareng-bareng oleh Wernick, Reynolds, dan Reese — mengizinkan Deadpool yang linglung dan gundah-gulana untuk mondar-mandir di X-Mansion dan kemudian bergabung dengan beberapa anggota X-Men (Yukio [Shioli Kutsuna], Negasonic Teenage Warhead, Domino [Zazie Beetz], Colossus) saat mereka mencoba untuk melindungi mutan remaja yang terasing dan nakal sekaligus banyak omong bernama Russell Collins / Firefist (Julian Dennison) dari ancaman mengerikan sesosok Terminator, er Prajurit Sibernetika Superkejam, er Penjelajah Waktu dan Ruang, er entahlah, yang dinamai Cable (Josh Brolin).

Ada kemiripan yang mencolok antara, um, beberapa elemen tertentu dalam Deadpool 2 dan film Avengers: Infinity War (2018) arahan Russo Bersaudara — mungkin ini cuma kebetulan saja karena pemilihan waktu rilis yang hampir bersamaan; toh dua film tersebut tidak bernaung (seenggaknya belum) di bawah rumah produksi yang sama. Kemiripan yang saya maksud, di antaranya: sebuah pengerjaan yang menyeluruh dari pertanyaan lawas dan kebanyakan retoris, “Bagaimana caranya merespons kematian?”. Seperti dalam Deadpool yang menggunakan diagnosis kanker sebagai tragedi utama dan Avengers: Infinity War yang menjadikan ancaman kepunahan nyaris seluruh makhluk hidup sebagai tulang punggung cerita, Wade dan karakter lain di Deadpool 2 mengalami kekecewaan dan menderita kesedihan akut, namun tidak ada yang tidak bisa diperbaiki atau diubah melalui intrik yang secara implisit sudah dijanjikan dalam narasi pembukanya. Ada juga beberapa ketidak-nyamanan, tetapi dialog-dialog nakal dan suara-suara sinis yang riang-gembira memastikan bahwa penonton tidak usah terlalu berupaya untuk membenamkan diri ke dalamnya. Lebih dari film pahlawan super lainnya, Deadpool 2 adalah film R-rated yang setara dengan salah satu dari tujuh film dalam seri Road to … (1940-1962) yang dibintangi oleh Dorothy Lamour, Bob Hope, dan Bing Crosby, yang kerap menyajikan urutan adegan percakapan panjang Hope dan Crosby, kemudian mereka berdua berhenti sejenak untuk “mendobrak dinding keempat” dan memberi tahu penonton bahwa momen tersebut adalah saat yang tepat untuk pergi keluar membeli sebungkus popcorn.

Hasilnya terasa seperti komedi tunggal yang terburu-buru dan boros tentang penjahat super vs. pahlawan super, dengan sisipan adegan baku-gelut dan ledakan dan kejar-kejaran yang dipintal ke dalam rekaman berisi sang pahlawan menceritakan pengalaman liarnya yang terjadi selama beberapa pekan sebelumnya. Reynolds mengulangi dinamika Deadpool untuk memberikan setidaknya lima kali lebih besar apa-apa yang sudah diberikan oleh Deadpool 2 kepadanya sebagai imbalan dengan cara mengubah kelemahannya, perasaan mengasihani diri sendiri, keputus-asaannya, dan narsismenya menjadi berbagai jenis bahan bakar komikal. Ada semacam pengakuan dan formulasi konstan untuk meyakinkan saya bahwa saya memang sedang menonton sebuah film di sini: tepat sebelum babak ketiga Deadpool 2 bermula, Deadpool memberikan ceramah kepada tim pahlawan super bentukannya bahwa andai rencananya berjalan mulus dan sukses, semua orang bisa pulang ke rumah lebih awal karena plot cerita babak ketiga tidak perlu ditampilkan. Pula ada referensi budaya pop yang tampak acak (meskipun sebenarnya telah dirancang secara rapi), termasuk perbandingan melodi Papa, Can You Hear Me? dari film Yentl (1983) karya Barbra Streisand dan Do You Want to Build a Snowman? dari Frozen (2013) karya Jennifer Lee & Chris Buck. Juga ada banyak sekali tipuan dan gaya komikal yang khas — termasuk dagelan kasar tentang bentuk tubuh, ditambah beberapa kritik retroaktif terhadap upaya merek dagang Marvel Entertainment yang menjual produk-produknya sebagai sesuatu yang paling penting di dunia. Bahkan ada sedikit momen menjelang akhir Deadpool 2 yang mengingatkan saya pada masa-masa awal Jim Carrey.

Kecuali untuk beberapa baris lelucon dan komedi visual, juga urutan adegan aksi-komedi yang cukup bagus di pertengahan film, dan beberapa kinerja akting yang kuat, sebenarnya tidak banyak momen yang bisa diingat dari Deadpool 2. Dengan keberanian yang layak diapresiasi, film ini memang tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menulis-ulang resep ciamik untuk seluruh genre superhero. Saya juga harus mengakui bahwa film ini telah berusaha sebaik mungkin untuk menggabungkan profesionalisme dan bakat, dan oleh karena itu, semakin cepat kita mengakhiri bagian ini, semakin cepat pula kita terbebas dari siksaan yang tidak mengenakkan dan mengeluh tentang hal itu di media-sosial.

Saat bangun tidur keesokan harinya saya mendapati sebungkus nasi pecel di sebelah galon air minum serta kandang kontrakan saya tertata rapi dan meruapkan bau agak wangi. Mbak AR– sudah pergi. Datang nggak dijemput, pulang nggak diantar — dasar jelangkung, saya mengumpat! Sebelum momen tontonan dwilogi Deadpool dadakan itu saya juga sempat merasai pengalaman sinematik yang cukup menggugah:

[1] Blade Runner (1982) garapan Ridley Scott yang saya tonton untuk kelima kalinya — salah satu cerita sains-fiksi terbaik menurut selera banal saya yang tidak hanya membahas tentang perkembangan teknologi di masa depan saja, melainkan juga berbicara tentang manusia dan bagaimana manusia memperlakukan satu sama lain, perihal kesombongan dan belas kasih manusia, mengenai semakin berkurangnya rasa kasih sayang dan pemahaman / toleransi di antara manusia.

[2] Palo Alto (2013) karya Gia Coppola yang menyajikan sirkulasi kehidupan harian dari sekelompok remaja yang lebih sering mabuk alkohol atau mengisap ganja dan keluyuran tanpa tujuan di sebuah kawasan yang bebas orang dewasa sekaligus kota yang terkenal kaya raya di Amerika Serikat — sebuah kekacauan puitis yang menyeimbangkan rasa takut dengan impuls ruam, dan berjuang untuk mengekspresikan diri tanpa kepura-puraan sambil terus mencoba mengafirmasi “yang tragis” dan “yang manis” secara utuh untuk bertahan hidup.

[3] A Girl at My Door (2014) karya July Jung, film thriller psikologis yang intensif dengan perasaan menggelisahkan berdenyut di antara lanskap pedesaan yang sederhana pada hari-hari musim panas — adonan menarik yang memadu-padankan drama karakter dan kisah noir yang teduh, dipenuhi dengan atmosfer latar belakang dan penampilan pemain-pemainnya yang luar biasa, dan ambiguitas di sekujur plot ceritanya bakal membikin siapa pun untuk berpikir setelah menontonnya.

[4] Mission: Impossible – Rogue Nation (2015) karya Christopher McQuarrie, komedi aseksual yang lucu dan aneh tentang dua agen rahasia rupawan yang mengekspresikan cinta tanpa cela satu sama lain melalui serangkaian momen kekerasan, keberanian, dan pengorbanan diri, sekaligus berhasil memastikan Tom Cruise tidak pernah berhenti beraksi.

[5] The Killing of a Sacred Deer (2017), sebuah film yang memesona sekaligus mengerikan dan menyesakkan dada karya Yorgos Lanthimos — tontonan langka yang berhasil memadu-padankan kepiluan, kengerian, histeria, dan absurditas di sekujur plot ceritanya, bahkan seringkali terjadi secara bersamaan dalam satu adegan, untuk mengajukan pertanyaan tanpa jawaban absolut dan menjebak saya dalam situasi yang mengerikan sekaligus aneh dengan sedikit harapan pada kemunculan akhir yang membahagiakan.

[6] Leave No Trace (2018) karya Debra Granik tentang seorang veteran perang yang menderita PTSD (posttraumatic stress disorder, atau gangguan stres pascatrauma) dan seorang gadis beranjak dewasa, yang mengupayakan hidup bebas di tengah hutan tanpa tetek-bengek masyarakat — sebuah karya sinematik-manis yang mengeksplorasi dan menyajikan wawasan yang luas tentang perjuangan manusia yang memilih untuk hidup “menyisih”, tentang orang-orang yang cuma ingin hidup menyendiri dengan tenang dan damai, tentang mereka yang benar-benar sudah muak dan tidak bisa membaur dengan tatanan sosial / kehidupan masyarakat di sebuah dunia yang semakin tidak baik-baik saja, serta film ini juga bisa dibaca sebagai sebentuk potret yang sangat menyentuh tentang seorang ayah dan anak perempuan yang saling mencintai satu sama lain, tentang relasi kasih sayang yang tulus dan tidak mau terpisahkan oleh apa pun.

[7] Ant-Man and the Wasp (2018) arahan Peyton Reed, sebuah lelucon apik dan aneh bermuatan beberapa pejuang pembela kebenaran paling simpatik di MCU (Marvel Cinematic Universe) yang menggetok saya dengan hal-hal besar namun berhasil membikin saya anteng di depan layar laptop butut demi getaran dan gurauan yang bagus — secara keseluruhan, film ini mungkin bukanlah karya sinematik-manis, tetapi masih bisa menjadi hiburan yang layak untuk mengakali kelelahan dan kebosanan membudak harian.

Dan saya masih belum bisa beranjak dari album musik We Are Paranmaum (Paranmaum, 2005), Woh (Sisir Tanah, 2017), A Moon Shaped Pool (Radiohead, 2016), Ibu Pertiwi (Annabel Laura, 2017), Being Verbose Is Easy, Being Verbose Ain’t Easy (Brilliant at Breakfast, 2011), dan Bahasa Hati (Sandrayati Fay, 2017). Terakhir — untuk memungkasi omong kosong yang sudah kelewat panjang ini — formasi daftarputar Winamp laptop butut saya yang tidak berganti sejak dua bulan lalu berisikan Sprained Ankle (Julien Baker, 2015), Seni Sebuah Memori (Dion & Kebun Tubuh, 2011), Opus Contra Naturam (GAUNG, 2017), Kembara (Pagi Tadi, 2016), Haseya (Ajeet Kaur, 2016), Constellation (Stars and Rabbit, 2015), Cigarettes After Sex (Cigarettes After Sex, 2017), Appetite for Destruction (Guns N’ Roses, 1987), dan Akibat Pergaulan Blues (Jason Ranti, 2017) ~

~ tabik. {ѧ}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s