Rangkaian ironi itu bernama negara

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta: kamu harus mulai mengetahui bahwa apa-apa yang ada di dalam (struktur) negara itu selalu berlawanan dengan kesetaraan, kebebasan, dan kebahagiaan.

Rayna sayang,.

Terkadang saya membayangkan apa-apa yang sedang tumbuh dan berkembang di dalam negara layaknya sebuah cerita yang sedang digarap dan dikembangkan oleh seorang penulis. Saya menyamakan kondisi negara — khususnya di Indonesia ini, Ray — sebagai sebuah plot cerita bergenre horor-thriller yang menegangkan dan menyeramkan. Ada beragam niat buruk di dalamnya, namun ada juga beberapa niat baik yang mengalir di sepanjang plot ceritanya. Persamaannya: niat buruk dan niat baik itu malah melahirkan masalah, mendatangkan kesengsaraan, serta upaya yang dilakukan untuk menyelesaikannya justru malah menjadikan masalah itu semakin ruwet dan memperbesar kesengsaraan yang sudah ada. Dengan cara seperti itu, intensitas konflik meningkat dan situasi berkembang menjadi semakin buruk sampai terjadi krisis.

Plot cerita bakal menjadi menarik untuk terus diikuti karena di dalamnya ada konflik, ada karakter-karakter yang terlibat dalam konflik tersebut, ada situasi krisis, dan setelah mencapai klimaks, ada semacam perubahan. Berbagai macam masalah diolah sedemikian rupa sehingga emosi orang-orang yang mengikuti jalannya plot cerita teraduk-aduk. Karakter protagonis mencoba menyelesaikan masalahnya, namun upayanya itu justru melahirkan masalah baru atau malah memperburuk masalah sebelumnya. Hal seperti itu terus-menerus terjadi sampai pada akhirnya karakter protagonis mesti menghadapi puncak tertinggi atau klimaks permasalahan, dan dia harus melakukan sesuatu yang radikal sebab itu adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh.

Dalam cara yang lebih sederhana, Ray, saya bisa menggambarkan plot cerita seperti ini: kamu bercanda dengan seorang temanmu dan dia ternyata tersinggung oleh banyolanmu, lalu kamu mencoba untuk meluruskan masalah namun temanmu itu malah salah paham; kamu mencoba cara lain untuk membikin temanmu itu memahami maksud leluconmu dan dia ternyata semakin marah; dan hal itu terus-menerus terjadi hingga persahabatan kalian berdua berada dalam situasi yang paling buruk.

Negara juga tumbuh dan berkembang seperti itu, Ray. Berbagai macam niat baik diucapkan, cita-cita mulia diserukan, dan sebagian besar di antaranya tidak terwujud, hanya menjadi omong kosong belaka. Segala hal dilakukan dengan landasan niat untuk mempermudah kehidupan orang banyak, namun pada kenyataannya hidup ini justru terasa semakin bangsat untuk dijalani. Fasilitas-fasilitas kesehatan dibangun semegah mungkin, obat-obatan mujarab diproduksi massal, namun semua itu tidak bisa dinikmati oleh kebanyakan warga negara.

Fasilitas pendidikan juga seperti itu. Ada banyak sekolah yang diklaim mampu memberikan kualitas pendidikan jempolan, namun banyak anak sepintar apa pun mereka tidak bisa masuk ke sana karena melarat. Juga terdapat banyak sekolah yang dibangun a la kadarnya, dengan kualitas pendidikan semenjana serta kemungkinan besar melukai murid-murid dengan dinding dan atap yang rapuh, namun jangan salah sangka Ray, sebab sekolah a la kadarnya itu juga dibangun dengan niat mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sementara itu, hukum juga dirumuskan dengan niat mulia dan negara menegaskan diri sebagai pelaku hukum yang paling adil. Lembaga peradilan dibentuk, tata tertib dan aturan dibikin, undang-undang diterbitkan, para hakim ditinggikan dengan sebutan “Yang Mulia”, dan semua tetek-bengek itu berakhir dengan fakta bahwa keadilan tetap sulit ditegakkan dan didapatkan.

Birokrasi menjadi ironi lainnya. Birokrasi diadakan dengan tujuan untuk melayani dan mempermudah kebutuhan publik, diisi oleh orang-orang terpilih karena ada seleksi yang ketat bagi siapa saja yang ingin masuk di dalamnya. Namun birokrasi adalah suatu hal yang bergerak superlamban, Ray. Alih-alih memberikan kemudahan, birokrasi cenderung mempersulit dan menyajikan masalah baru bagi orang-orang karena keruwetan dan kelambanan geraknya.

Ray, sayang. Kita hidup dikelilingi oleh ironi-ironi seperti itu yang menyuguhkan masalah dengan jumlah yang tidak terbatas. Saat membuka mata di pagihari, sampai menutupnya di malam hari, kita selalu dijejali dengan berbagai macam masalah yang kelewat ruwet: menonton televisi, kita ditubruk masalah; melewati pagar depan rumah, kita tersandung masalah; membuka media-sosial, kita dijejali masalah; membaca koran, kita dihantam masalah. Perkotaan, kamu tahu Ray, adalah sebuah tempat di mana manusia harus bisa menjalani kehidupan dengan dikepung berbagai macam ironi di segala penjuru. Orang-orang terus membangun fasilitas mewah, namun kebanyakan warga menghidupi hidup dalam situasi yang sulit di tempat yang kumuh. Mobil-mobil keren dan canggih — dengan mesin yang mampu berlari hingga ratusan kilometer/jam — menyesaki jalanan kota, namun ironisnya orang-orang tetap harus menempuh jarak sepuluh kilometer dalam waktu satu jam atau lebih karena macet.

Berbagai macam ironi seperti itu membikin negara tumbuh dan berkembang menjadi cerita yang lebih menyeramkan dengan kepedihan yang lebih terasa menyakitkan dan keputus-asaan yang menusuk sampai ke sumsum tulang. Negara menjadi semacam kisah horor-thriller yang cukup bagus, namun memiliki satu kelemahan: karakter-karakter yang bermain di dalamnya terlampau menyebalkan dan kelewat membosankan. Sangat sulit bagi kita, Ray, menjumpai karakter yang mampu membikin kita bersimpati. Sesekali muncul karakter yang mampu menarik simpati orang-orang untuk sementara waktu, namun beberapa saat kemudian malah membikin sebal. Tidak adanya karakter simpatik — entah itu ulama, presiden, polisi, gubernur, ilmuwan, atau tukang copet — bakal membikin kita mengabaikan perkembangan plot cerita dan karakternya. Kita tidak akan peduli apakah karakter tersebut mengalami nasib buruk atau nasib baik, kita tidak bakal rela membantunya jika karakter tersebut memerlukan bantuan, dan bahkan kita tidak ingin tahu apa-apa tentang karakter tersebut: cuma ada rasa sebal dan geregetan.

Setelah simpati, tahap berikutnya adalah empati. Berempati kepada seseorang berarti kita bakal ikut merasa sedih ketika dia mengalami nasib buruk, kita bakal ikut girang ketika dia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya. Dengan kata lain, Ray, kita bisa memahami apa-apa yang dirasakan oleh orang lain ketika kita berempati kepadanya. Tapi jika tidak ada satu pun karakter yang berhasil memenangkan simpati kita, maka kita tidak mungkin bisa merasakan empati, apalagi melakukan identifikasi diri.

Jokowi alias Joko Widodo pernah membikin orang-orang — terutama rakyat melarat — melakukan identifikasi diri dengan sosoknya. Jokowi berhasil mencitrakan dirinya sebagai figur yang identik dengan kebanyakan warga Indonesia — melalui kesederhanaan, kerja keras, senyum a la tukang mebelnya — dan dianggap mampu memahami perasaan rakyat. Karena itulah, Ray, banyak orang kemudian bergairah untuk mendukungnya ketika dia mencalonkan diri sebagai kandidat presiden pada pemilu lalu. Sekarang, setelah Revolusi Mental yang amburadul dan Nawa Cita yang malah menyusahkan hidup orang banyak, saya sangsi apakah rakyat masih melakukan identifikasi diri dengan Jokowi.

Ironi adalah nama lain dari negara beserta orang-orang yang memercayainya, Ray. Ketika hal itu dikawinkan dengan kapitalisme, maka kita mendapatkan cerita horor-thriller yang lebih menakutkan lagi. Sudah saatnya untuk mengambil-alih kendali atas hidup kita sendiri, menuliskan plot takdir kita sendiri, mewujudkan impian dan hasrat kita sendiri, mulai berani menjalani kehidupan tanpa negara (dan kapitalisme) agar bisa memproduksi hal-hal yang paling penting dalam hidup: kesetaraan, kebebasan, dan kebahagiaan. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s