#BanalitasHarian: masih yang itu-itu juga

Sederhananya, beberapa hal yang saya konsumsi dalam tujuh hari terakhir ini.

Apa yang saya dengarkan?

[1] x (2014) dari Ed Sheeran: emosi setiap orang, lirik gamblang, dan rasa sakit yang bisa dikaitkan ke semua orang. Itulah cetak-biru Ed Sheeran di album ini, dan kita — saya dan kamu — pernah merasakan apa-apa yang dinyanyikan oleh Sheeran di sini. Sayangnya, secara keseluruhan, ini adalah album semenjana tanpa ada percik kejutan dan kenikmatan yang tersembunyi di dalamnya. Hal-hal banal dinyanyikan oleh Sheeran dengan cara yang juga banal, apa menariknya? “Tell me when it kicks in,” Sheeran bernyanyi-setengah-memohon di lagu Bloodstream. Dan setelah kelar mendengarkan 12 lagu di album ini, saya cuma bisa bilang: “Please, tell me when this shit kicks in.

[2] ÷ (2017) dari Ed Sheeran: kumpulan lagu pop meriah yang radio-friendly dan balada malas yang bikin ngantuk. Intinya, Sheeran tidak mendorong karya musiknya ke wilayah baru untuk memberikan suatu kepuasan dan kenikmatan. Meski harus diakui bahwa album ini bakal membawa Sheeran ke panggung konser yang lebih besar dengan jutaan orang yang meneriakkan namanya dan ikut bernyanyi bersamanya. Sheeran bakal lebih kaya dan bisa hidup tenang dengan menjual kepolosannya; dia menggunakan musik yang tidak imajinatif dan kata-kata bijak yang hambar untuk merenungkan dasar keburukan dan kebaikan, sembari mengeruk profit, dari orang-orang di sekitarnya. Sheeran bisa saja merilis lagu-lagu yang lebih buruk setelah ini dan viewers di halaman YouTube-nya tetap bakal mencapai jutaan. Ini aneh — jika bukan menyebalkan dan kurang ajar — mengingat Sheeran seharusnya bisa jauh lebih menarik ketimbang saat ini.

[3] All We Know Is Falling (2005) dari Paramore: sejauh yang saya tahu (dan saya ingat), ini adalah debut album yang cukup mengesankan. Setelah saya dengarkan kembali, album ini ternyata punya masalah pada struktur lagu-lagunya yang terlalu linier dan datar. Suara vokal Hayley Williams perlu diimbangi dengan alunan musik yang dinamis. Bahkan dengan menggunakan standar rekaman pop-rock atau emo yang sama, distorsi gitar di album ini tidak bersemangat, pukulan drumnya terdengar malas, sementara dentum basnya nyaris tidak ada sama sekali. Paramore di album ini adalah band untuk remaja yang menganggap Pink tidak cukup keren namun My Chemical Romance terlalu menyeramkan untuk didengarkan. Paramore di album ini adalah idola bagi remaja yang ingin memberontak, ingin keluar dari kekangan, tapi mereka harus tidur jam sembilan malam sebab besok pagi harus pergi ke sekolah jika tidak ingin dimarahi papa-mama.

[4] Brand New Eyes (2009) dari Paramore: kronik perpisahan Williams dan Josh Farro; suara vokal Williams dan instrumentasi Farro saling tumpang-tindih bertarung untuk memamerkan pendapat dan pandangan masing-masing, menghasilkan ledakan yang megah dan dahsyat. Di album ini, Paramore tidak sekadar tumbuh dewasa dan mengalami kematangan tertentu, melainkan juga tumbuh menjadi band sinis yang mencoba mengambil-alih dunia. Lagu-lagu di album ini mungkin bernada kelam, namun Paramore masih bisa menyampaikannya dengan sinisme yang menyenangkan. Sudah terlalu banyak musisi pop-rock perempuan yang menyanyikan keluhan tentang lelaki, cinta, dan semacamnya; yang benar-benar dibutuhkan saat ini adalah lebih banyak perempuan yang meneriakkan isi hati mereka karena dikecewakan dan kemudian mencoba mengatasinya, seperti yang dilakukan oleh Williams di album ini. Mungkin ini bukanlah rekaman alternative rock yang sempurna, namun masih cukup menghentak-nikmat di kuping saya.

[5] Paramore (2013) dari Paramore: kumpulan lagu yang mengombinasikan tempo upbeat pop-rock yang cukup segar dan mendesak dengan deretan lirik yang berpusat pada luka yang mendefinisikan tahun-tahun formatif Williams. Di sini Paramore mencoba mencari dan menumbuhkan identitas baru dengan meninggalkan kesan yang cukup memuaskan bagi penggemar setianya.

[6] After Laughter (2017) dari Paramore: menyoroti renungan Williams yang sedang gundah-gulana dalam balutan gaya pop-rock era ‘80an yang cukup menyegarkan dan meruah. Setelah bertahun-tahun menjaga sinar terang dan aura Paramore, Williams di album ini mencoba meninjau-ulang hidupnya dan melepaskan senyum cerianya. Ah iya, album ini ditutup dengan cukup manis oleh lagu Tell Me How.

[7] Revolver (1966) dari The Beatles: rekaman klasik yang renyah, sebuah album musik yang membutuhkan lebih dari 300 jam waktu studio dalam proses rekamannya, yang menandai perubahan pendekatan The Beatles dalam menciptakan karya-karya monumental mereka. Di album ini The Beatles benar-benar menggunakan kebebasannya untuk mendorong seni mereka lebih jauh lagi dan, secara keseluruhan, membawa musik pop ke lanskap sonik yang lebih tinggi. Dari segi musik, The Beatles mulai menciptakan karya eksperimental dan padat; sementara dari segi lirik, mereka terdengar lebih dewasa, bergerak dari mimpi sekumpulan remaja urban menuju pencarian makna yang lebih serius, yang secara aktif tercermin dan ikut membentuk zaman. Sejak album ini, The Beatles bukan lagi sekadar anomali dalam blantikan musik pop; mereka adalah ikon untuk gerakan budaya transformatif.

[8] Yellow Submarine (1969) dari The Beatles: satu-satunya album minor dalam kanon The Beatles. Album ini merupakan soundtrack untuk film kartun berdurasi lumayan panjang dengan judul yang sama, sebuah proyek di mana The Beatles hanya sedikit terlibat di dalamnya. Saya bisa menikmati lagu-lagu di album ini jika sedang berada dalam suasana hati yang tepat: petikan senar gitar yang tidak biasa tapi terekam dengan indah, perkusi “eksotis” yang sadar diri, motif tematik berulang yang berfungsi sebagai semacam kapsul waktu. Sebagai suvenir film, album ini terasa tepat-guna. Namun sebagai karya musikal, album ini benar-benar buruk dan layak dilupakan, sesuatu yang sangat jarang terjadi jika membincangkan rilisan The Beatles.

[9] Ocehan epik dari sang kekasih yang mengeluhkan naiknya harga komoditas mendekati momen lebaran. Dia semestinya sadar bahwa kelegaan dan kebahagiaan mendapatkan THR beserta bonus-bonus lainnya baka menguap dengan cepat, sebab kenaikan harga gombal menyambut lebaran adalah suatu keniscayaan. Selembar hijab dengan harga seratus lima puluh ribu rupiah adalah kewajaran. Sepotong outer dibanderol dua ratus ribu rupiah adalah kelaziman. Satu model gamis ditebus dengan uang lima ratus lima puluh ribu rupiah merupakan sebuah kebutuhan untuk kembali fitrah. Itu sudah.

Apa yang saya tonton?

[1] Return to Nim’s Island (2013) garapan Brendan Maher yang didasarkan pada buku berjudul Nim at Sea karangan Wendy Orr dan merupakan sekuel dari Nim’s Island (2008). Plot cerita film ini melibatkan, er well, kamu tidak perlu tahu. Saya tidak ingin muntah karena harus mengetikkan jalinan cerita yang memuakkan di sini.

[2] The East (2015), serial komedi situasi yang tayang di NET. dan menjadi semacam guilty pleasure bagi saya ketika menontonnya secara maraton selama dua hari dan mengabaikan sebagian besar tugas kantor.

Apa yang saya baca?

[1] Kenapa Cari Jodoh Itu Susah yang tayang di Kontemplasi Liar, blog keren yang dikelola oleh Mbak Niken Aridinanti Handamari. Sesuai dengan judulnya, Mbak Niken kasih penjabaran lumayan panjang dan masuk akal tentang mengapa mencari pasangan secara scientific itu susahnya minta ampun. Saya kutipkan paragraf penutupnya: “So yang namanya jodoh itu bagi saya seperti kepingan-kepingan yang jatuh dari langit, dan entah bagaimana kepingan-kepingan itu harus bisa jatuh pada tempatnya dengan tepat. Ini probabilitasnya rendah banget lho Sebagian orang bisa merasakan itu, mungkin sebagian orang tidak. Mungkin jodoh itu juga tidak ada, mungkin juga ada. Entahlah.

[2] MELURUSKAN SEJARAH !!! Kesultanan Islam Majapahit & Patih Muslim Gaj Ahmada (Gajah Mada), dipublikasi oleh Portal Islam, yang ~ ini apaan sih? Setelah gosip kuburan Adolf Hitler ada di Surabaya, lalu Candi Borobudur yang merupakan peninggalan Nabi Sulaiman, sekarang mengislamkan Gajah Mada. Sepertinya piknik, kebiasaan minum kopihitam di pagihari, dan mengisap rokok adalah tiga hal penting dan mendesak yang benar-benar dibutuhkan oleh orang-orang di sini. Setidaknya orang-orang di sini bisa memanfaatkan libur lebaran untuk mulai menjalani kehidupan yang lebih tenang dan nyaman, atau bisa juga memulainya dengan membaca artikel Gaj Ahmada dalam Pusaran Tragedi Pertanyaan “Kapan Kawin?” tulisan Cepi Sabre yang tayang di Mojok.co. Meluruskan sejarah, huh? Mending meluruskan nalar masing-masing saja, setelah itu terserah!

[3] Dresscode Band Indie Tuh Harusnya Gimana Sih?, artikel menarik dari Muhammad Ikhwan Hastanto yang membedah konsep berpakaian grup musik indie dengan mengambil contoh dari para personel Stars and Rabbit, Fourtwnty, dan Barasuara.

[4] Di Klojen, Kami Menyebut Sekolah 8 Jam itu “Kakean Cangkem” di mana Dandhy Dwi Laksono menyoal kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Muhadjir Effendy, tentang penerapan konsep sekolah lima hari dengan durasi delapan jam per harinya. Melalui tulisannya itu Dandhy menjelaskan secara detail alasan kenapa kebijakan itu malah memperburuk kondisi pendidikan Indonesia yang sudah cukup buruk. Sekolah kian menjadi lembaga membosankan yang tujuan utamanya cuma mencetak robot-robot kaku yang nantinya bakal menjadi sekrup kapitalisme, alih-alih menyiapkan pribadi-pribadi berkarakter mandiri yang mampu membangun sebuah dunia ideal yang lebih layak untuk ditinggali ketimbang dunia hari ini.

[5] Lapangan Perjuangan Sungai Lebur, sebuah esai yang sangat menarik dari Darmanto Simaepa dan tayang di blog belakang gawang tentang sebuah lapangan sepakbola yang memberikan makna melawan kesewenang-wenangan, makna perjuangan untuk mendapatkan lahan dan mengatasi sejarah kemiskinan, dan bayangan masa depan disematkan. Menanam tiang gawang dan menciptakan Lapangan Perjuangan merupakan imajinasi dan aksi politik yang sangat menawan dari epos perjuangan Serikat Petani Sungai Lebur melawan ketidak-adilan dari duet jahanam negara-kapitalisme. Orang-orang Sungai Lebur berhasil mengangkat derajat lapangan sepakbola: bukan lagi sekadar tempat untuk merayakan kemenangan, melainkan juga sebagai bagian dari perjuangan tanah yang belum selesai. Mencomot barisan kalimat terakhir yang ditulis oleh Darmanto: “Di balik penampilannya yang mengeringkan air mata, lapangan itu adalah bagian integral dari perjuangan tanah dan makna kehidupan sebagai warga negara, yang masih berlangsung hingga kalimat terakhir ini dituliskan.” Saya selalu suka membaca esai-esai tulisan Darmanto yang selalu berhasil menceritakan sepakbola dari sudut yang jarang dilihat oleh kebanyakan orang.

[6] Matinya Seorang Pemain Sepakbola, cerpen klasik karya Seno Gumira Ajidarma tentang seorang pesepakbola yang mati pada saat dirinya berada di puncak karier dan dielu-elukan oleh banyak orang, setelah sebelumnya dia telah mempertaruhkan segala hal yang ada di dalam hidupnya agar bisa mewujudkan impian masa kecil menjadi pemain sepakbola.

[7] Poligami, Proyek Terakhir Sukarno Setelah Nasakom tulisan Muhidin M. Dahlan yang tayang di Mojok.co untuk merayakan hari lahir Si Bung Besar, Soekarno, pada 21 Juni kemarin. Berbeda dengan tulisan-tulisan untuk memperingati hari lahir seorang tokoh besar pada umumnya yang biasanya cuma berisikan profil dan pencapaian-pencapaian sang tokoh yang ditambahi kata penghubung di sana-sini, Muhidin dalam tulisannya itu malah menceritakan drama di balik upaya Bung Karno menyelesaikan satu proyek besar pada saat pendulum politik sudah tidak lagi ada di genggamannya dan ajal sudah sampai di teras depan rumah untuk menjemputnya: persatuan dan perdamaian dalam keluarga Bung Karno alias upaya untuk merukunkan istri-istrinya.

[8] Agama Akatsuki Agama Warisan yang dipublikasi oleh redaksi Mojok.co. tentang respons Haris Firmansyah Hirawling terhadap kabar pembagian Zakat Fitrah oleh Komunitas Akatsuki Afkar di Lumajang, Jawa Timur.

[9] Kenapa Kita Cemburu Pada Masa Lalu? tulisan keren dari Mbak Putri di blog pribadinya. Saya kutipkan beberapa kalimatnya: “Yang unik dari masa lalu, menurut saya, adalah bahwa kita sebenarnya tak pernah benar-benar mengetahuinya dengan gamblang. Bahkan mungkin kita tidak benar-benar pernah mengalaminya; hanya separuh saja atau seberapun tapi tak pernah penuh. Dengan kata lain, masa lalu tak kurang misterius ketimbang masa depan. Seperti halnya fakta sejarah yang punya banyak versi narasi, masa lalu mungkin carut marut. (…) Lantas sebenarnya, romantik atau cemburu yang menjerat kita pada masa lalu? Bagi saya keduanya hadir berbarengan, sebagai kontradiksi yang niscaya.

Apa yang saya lakukan?

Selain tidur, makan, minum, membudak, menggoda kekasih, mencoba menyelesaikan Lelaki Harimau-nya Eka Kurniawan, dan hal-hal di atas ~

~ saya tidak melakukan apa-apa, kecuali bermalas-malasan. Ting-a-ling!

* * * * *

Dan, terakhir, #AksiBelaIslan dan #SaveChelseaIslan dan Aksi 166 itu bentuk kekonyolan, kebebalan, dan banalitas apalagi sih dari dunia maya? Linimasa media-sosial saya, sampai isi chat di grup-grup WhatsApp saya, penuh dengan begituan. Bangsat. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s