#BanalitasHarian: sesimpel itu, huh?

Dengan cara yang paling sederhana, hari-hari berlalu begitu saja dalam sepekan terakhir…

Horor pada akhir pekan pertama bulan Juni ini masih menyisakan trauma yang mengental di batok kepala dan luka yang setengah kering di dada, sementara aktivitas membudak masih menyita nyaris separuh rutinitas harian. Di sela-sela kesederhaan yang kelewat biasa-biasa saja itu saya berhasil menamatkan Dunia Sukab, kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma. Namun bisa dibilang bahwa buku itu lebih dari sekadar cerpen-cerpen yang pernah ditulis oleh Seno — melainkan sejumlah kesaksian, sejumlah kisah, yang berhasil dirangkum oleh seorang penulis cum jurnalis dari beberapa persitiwa yang cukup dekat dengan peristiwa-peristiwa harian: ada suami pengangguran hobi tidur siang; ada sekretaris cantik, kakinya kapalan; ada perempuan memilih jalan kekerasan; ada penemuan ladang pembantaian; ada orang disiksa, ternyata salah sasaran; ada pejabat korupsi, hidungnya jadi panjang; ada orang dibuang karena beda pemikiran; ada banyak rakyat bingung memilih pemimpin.

Sebelum mengetik kumpulan paragraf di sini, saya baru sampai di bagian kedua dari Lelaki Harimau-nya Eka Kurniawan: masih ada 114 halaman lagi yang harus dihabiskan.

* * * * *

Dengan cara yang paling sederhana, hari-hari berlalu begitu saja dalam sepekan terakhir…

Entah ada yang merayakan atau tidak, tanggal 8 Juni kemarin merupakan hari lahir Soeharto: seorang diktator yang memberikan pelajaran kepada kita semua agar jangan pernah sekali pun meremehkan manusia. Seorang guru di Jerman, misalnya, pernah meremehkan salah satu murid yang dianggapnya paling idiot dan terancam gagal menjadi seniman, namun ternyata sang murid malah masuk dalam jajaran manusia paling berpengaruh sedunia di abad 20. Nama si murid idiot itu adalah Adolf Hitler.

Begitu pula dengan Soeharto yang “hanya” orang desa tamatan SMP dan menjalani karier semenjana sebagai tentara, namun siapa yang menduga bahwa dia bakal menjadi sosok penting di balik pemusnahan komunisme di Indonesia dan berhasil mendongkel Soekarno dari singgasana kepresidenan untuk kemudian mengukuhkan diri sebagai pemimpin junta militer dan “pengayom rakyat” paling lama dalam sejarah Indonesia. Dalam tulisan Mahabesar Pak Harto dengan Segala Akronim dan Singkatannya yang tayang di Mojok.co, Muhidin M. Dahlan mengenang warisan terpenting yang berhasil ditinggalkan oleh Soeharto dan Orde Baru-nya: singkatan dan akronim. Bagi Muhidin ada lima singkatan dan akronim yang melekat dalam karakter kekuasaan Soeharto selama tiga dekade silam yang akhirnya berhasil terserap ke dalam sanubari orang-orang Indonesia.

Berbicara soal diktator, ada artikel menarik di blog #Tjangkeman! berjudul Ilusi Diktator Budiman bagi Indonesia yang mencoba mementahkan pemikiran gila bahwa Indonesia bisa berkembang menjadi lebih baik jika dipimpin oleh seorang diktator budiman dan ditutup dengan rangkaian kalimat yang cukup menohok: “Kepada anda yang bercita-cita mempimpin Indonesia dengan tangan besi demi kemajuan bangsa, saya salut dengan keberanian anda, tapi saya beri saran: Pesona dan semangat nasionalisme yang berapi-api tidak cukup untuk menjadikan anda diktator budiman. Saya juga berpesan untuk berhati-hati dengan jiwa dan raga anda, apalagi semakin anda mempunyai kuasa, semakin sifat rakus itu muncul dalam diri anda. Saran terbaik saya untuk calon pemimpin bangsa yang ingin jadi diktator budiman: Carilah pembuat cincin Sauron atau peri pemberi Code Geass pada mata anda.

Sementara Made Supriatma dalam tulisannya yang tayang di Mojok.co mengeluhkan bahwa Indonesia saat ini sudah penuh sesak dengan “politisi — sipil dan militer — yang rajin menawarkan surga kepada rakyat”, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang “bersedia ‘berbaris ke neraka untuk memperjuangkan tujuan-tujuan surgawi’”. Ah iya, dari hasil penelusuran Prima Sulistya mengenai fakta-fakta Presiden Indonesia yang tayang di Mojok.co pula saya akhirnya tahu bahwa Indonesia ternyata telah dipimpin oleh sembilan presiden (bukan cuma tujuh presiden) dan bahwa bulan Juni ini bisa disebut sebagai “Bulan Presiden” sebab ada empat presiden yang lahir di bulan ini (Soekarno [6 Juni], Soeharto [8 Juni], Joko Widodo [21 Juni], dan Bacharuddin Jusuf Habibie [25 Juni]).

* * * * *

Dengan cara yang paling sederhana, hari-hari berlalu begitu saja dalam sepekan terakhir…

Kompetisi sepakbola Eropa telah mencapai konklusinya untuk musim ini dengan meninggalkan kekosongan di benak “fans sepakbola dunia ketiga”. Tidak ada lagi kafe-kafe yang ramai sebagai tempat nonton bareng pertandingan liga-liga sepakbola Eropa, tidak ada lagi adrenalin yang terpompa ketika menonton tim kesayangan berlaga di atas lapangan hijau melalui tayangan televisi, tidak ada lagi aksi dari pesepakbola favorit yang bisa dijadikan bahan obrolan sewaktu jam istirahat kantor. Para jomblo pun bisa meneruskan usaha kerasnya mencari pasangan yang hilang entah ke mana. Serta, pacar-pacar yang sebelumnya merasa disia-siakan bakal kembali mendapatkan malam minggu mereka. Ini berarti masa liburan telah tiba.

Bersamaan dengan itu, aroma atmosfer lebaran mulai tercium. Tunjangan Hari Raya (THR) mulai dibagikan sebab itu telah menjadi hak kaum pekerja — meski organisasi buruh yang paling gigih memperjuangkannya (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia [SOBSI]) telah dibubarkan, dilarang, dan kini terkubur dalam lipatan kusut sejarah karena dianggap sebagai bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Pekan depan bisa dipastikan jalanan bakal dibanjiri oleh para pemudik yang memanggul sekarung-dua rasa kangen terhadap keluarga di kampung halaman. Dan untuk menenangkan hati jelang mudik lebaran — yang bagi beberapa orang serasa seperti momen horor karena harus menghadapi pertanyaan klise menyebalkan yang itu-itu saja dari keluarga besar — kamu mungkin bisa menonton empat film rekomendasi Dian Dwi Anisa ini: Last Train Home (2009), Kapan Kawin? (2015), Sing Street (2016), dan film Barbie (apa pun judulnya).

Atau jika kamu sudah memantapkan diri untuk mempersetankan mudik dan memilih tinggal di kamar kos saja untuk menikmati momen lebaran sendirian — tanpa tayangan hiburan sepakbola Eropa dan tanpa kekasih — kamu bisa mulai mencoba mempraktikkan Tips Ciamik Menulis Cerpen dan Puisi yang disebar oleh redaksi Mojok.co itu. Atau kamu bisa salto-salto di dalam kamar kosmu sembari menelepon layanan konsumen telepon seluler. Terserah!

* * * * *

Dengan cara yang paling sederhana, hari-hari berlalu begitu saja dalam sepekan terakhir…

Dalam sepekan terakhir ini saya cuma menonton satu film: Nim’s Island (2008) garapan Mark Levit dan Jennifer Flackett yang didasarkan pada buku dongeng anak-anak dengan judul yang sama karangan Wendy Orr serta dibintangi oleh Jodie Foster, Gerard Butler, dan Abigail Breslin. Premis utamanya mengisahkan perjuangan seorang gadis kecil bernama Nim Rusoe yang mencoba menyelamatkan pulaunya dari serbuan korporasi kapitalis yang ingin mengubah pulau tersebut menjadi tempat wisata bagi kalangan borjuis dan kelas menengah ngehek. Nim’s Island adalah film receh dengan beberapa momen yang cukup menyebalkan dan mengganggu bagi siapa pun yang berusia di atas sepuluh tahun. Namun, saya masih bisa memaafkan film ini karena menyadari bahwa anak-anak kecil (macam si Rayna kesayangan saya) yang menjadi target pasarnya tidak bakal bersikap kritis seperti saya ketika menonton film ini, melainkan bakal tenggelam menikmati elemen petualangan fantasinya. Bahkan bisikan pelan kekasih saya masih samar-samar terdengar ketika saya merutuk usai menonton film ini: “Sudahlah. Film ini memang bukan untukmu, tapi ditargetkan untuk menjangkau anak-anak kecil seperti Ray, anak kesayanganmu itu.

Beberapa hari belakangan ini linimasa media-sosial saya tiba-tiba riuh-rendah dengan berbagai macam tulisan yang mencerca Gal Gadot, bintang utama dalam film Wonder Woman (2017), untuk merespons kesuksesan film terbarunya itu. Artikel-artikel yang menuduh dan menghakimi Gadot sebagai agen Zionisme pun bermunculan, macam Wonder Woman is Your Zionist, White Feminist Hero yang ditayangkan oleh Wear Your Voice atau Gal Gadot isn’t Wonder Woman. yang tampil di Medium. Bahkan Pemerintah Lebanon pun memboikot peredaran film ini. Pertanyaan saya menyoal gugatan dan seruan boikot itu pun sederhana: [1] apakah Gadot sebagai pemeran utama punya kontrol yang besar dalam proses produksi Wonder Woman?; dan, [2], apakah Gadot betul-betul menyelipkan propaganda Zionisme dan militerisme Israel dalam Wonder Woman?. Bagi saya, meletakkan political correctness di tempat yang tepat tanpa harus menjadi puritan politik adalah hal yang jauh lebih penting ketimbang menjadi politically correct ketika menonton sebuah film.

Bukanlah berita anyar jika ada seniman dan sastrawan yang memiliki sikap dan pandangan politik menyebalkan dan memuakkan, namun apakah karya-karya bikinan mereka niscaya brengsek dan tidak bermanfaat bagi keberlangsungan kehidupan di Bumi? Tidak selalu, anak muda! Frank Capra, sutradara keturunan Italia-Amerika, bisa dijadikan contoh. Capra merupakan pendukung politik ekstrem-kanan yang memuja kapitalisme dan fasisme sekaligus, serta mengidolakan Benito Mussolini dan Francisco Franco. Namun ternyata film-film yang pernah dibikin oleh Capra malah mengusung ide-ide progresif kiri, membela kaum papa miskin kota, dan penuh dengan ide anti-korporat kapitalis.

Masih perlu contoh lagi? Oke! Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir yang mendukung pembebasan Aljazair, serta Michel Foucault yang membela Revolusi Iran, adalah contoh pembela Israel pada zamannya. Sartre, Foucault, dan de Beauvoir bersolidaritas dengan kaum Yahudi Eropa yang hampir punah setelah diberangus Hitler selama The Holocaust pada tahun 1941-45. Bukankah itu sudah menjadi alasan yang cukup untuk memboikot karya-karya tiga intelektual Prancis itu, huh? Gimana, berani?

Maksud saya — pandangan putih-hitam terhadap konflik Palestina dan Israel, serta cercaan kepada Gadot, tidak bakal membantu siapa-siapa kecuali memuaskan berahi kemunafikan dan menegaskan kebebalan pola pikir. Atau bisa jadi mereka yang bertempik-sorak sebagai hakim moral dan puritan politik itu muncul karena ketiadaan agenda politik yang masuk akal, sehingga satu-satunya hal yang bisa dilakukan (dan itu menjadi semacam kebanggaan) adalah sekadar memolitisasi sentimen-sentimen sok suci dan sok benar, macam yang mereka lakukan kepada Gadot dan film Wonder Woman. Saya tidak ingin membela Gadot atau siapa pun di sini, saya sudah terlalu muak dengan orang-orang yang semakin sok politis dan, jujur, pada titik ini saya sedang bingung ingin mengetik apa untuk meneruskan tulisan kali ini, jadi ~

~ jancuk, hujan dan saya lupa ambil jemuran di loteng!

* * * * *

Dengan cara yang paling sederhana, hari-hari berlalu begitu saja dalam sepekan terakhir…

Saya selalu mencoba untuk menikmati waktu yang ada dengan mendengarkan musik, dan album-album rekaman musik yang saya konsumsi belakangan ini:

[1] When I Was Born for the 7th Time (1997) dari Cornershop yang ringkas dan kohesif dengan memadukan musik funk lo-fi dan lirik anti-rasis yang cerdas dan berapi-api.

[2] Vanishing Point-nya Primal Scream, rilis pada tahun 1997, yang bergerak dari melodi sederhana ke komponen instrumental yang menggelisahkan ke suara-suara tekno yang megah, dan seterusnya, dan seterusnya, dengan kepribadian skizofrenia di sepanjang album yang membikin saya tetap duduk anteng dan semakin tertarik ke dalam arus musikalnya.

[3] Screaming Bloody Murder yang dirilis Sum 41 pada tahun 2011, sebuah album musik yang terinspirasi oleh perceraian Deryck Whibley-Avril Lavigne dan dijejali dengan perpaduan buruk antara opera punk, hard rock, balada selepas tragedi, dan lirik menye-menye hanya untuk menunjukkan bahwa berpisah dengan kekasih adalah momen yang cukup menyebalkan — semenyebalkan lagu-lagu yang ada di album ini.

[4] Perfect from Now On (1997) yang menandai perubahan ritme musik Built to Spill dari keriangan dan kecepatan rock and roll menjadi kesuraman dan kelembutan indie rock yang menyeramkan, dipadu-padankan dengan lirik-lirik konyol yang sangat pesimis dan menyedihkan, namun mampu memberikan efek ketenangan yang melegakan. Album yang keren.

[5] Mogwai Young Team (1997) dari Mogwai yang berhasil mengasimilasi pengaruh sejumlah band sebelum mereka dan mengonfigurasi ulang suara musiknya menjadi sesuatu yang unik dan transenden, yang berbicara tentang hasrat dan keajaiban dalam logika intuitifnya sendiri, serta keputus-asaan manusia: sebuah kumpulan instrumental epik yang mengombinasikan keriangan gitar shoegaze, selingan piano yang sayu, cuplikan panggilan telepon, dan dengung gelombang sinyal radio. Album ini, bagi saya, merupakan representasi sonik paling akurat dari Teori Ledakan Dahsyat dalam sejarah musik. This album is so fucking good!

[6] The Lonesome Crowded West, rilisan Modest Mouse pada tahun 1997: gabungan menyenangkan dari suara akustik yang tenang dan merenung dengan bebunyian elektronik yang gelap dan berisik-mendebarkan, sementara tema utama lirik-liriknya (yang berbicara tentang kekecewaan) terdengar biasa-biasa saja tapi jujur, dan kejujuran itulah yang membikin album ini menjadi sesuatu yang cukup indah.

[7] Does This Look Infected?-nya Sum 41, rilis tahun 2002, yang meremas selusin lagu energik menjadi setengah jam ketergesa-gesaan untuk membangkitkan perasaan nostalgia yang aneh tentang kejayaan punk masa lalu: album ini adalah deru kematian pubertas yang buruk dan tidak praktis.

[8] Blur (1997) dari Blur yang mencampurkan raungan distorsi gitar, gemerisik elektronik, dan pengaruh psikedelik ke dalam elemen musik britpop.

* * * * *

Dengan cara yang paling sederhana, hari-hari berlalu begitu saja dalam sepekan terakhir…

Pada akhir pekan kemarin saya dan beberapa kawan yang dulu sempat terlibat dalam kolektif anarkis di Malang melakukan reuni kecil-kecilan di Kompleks Pasar Buku Wilis. Di situ, kami menertawakan dengan tulus kekalahan masing-masing dalam pertarungan melawan tuntutan peradaban modern hari ini yang sedikit demi sedikit berhasil mengubah kami menjadi sekrup dan bahan bakar sistem yang dulunya kami lawan dengan segenap jiwa dan raga. Masa itu — masa di mana kami masih terlihat unyu-unyu serta terlampau naif dan sok idealis — terasa semakin jauh tertinggal di belakang. Kini kami hanya sekadar sekumpulan remaja-yang-menolak-tua dengan remah-remah energi pemberontakan yang tidak sekencang dulu (dan, tentu saja, permasalahan cinta masing-masing), meski masih tetap berusaha mengakali dan menyabotase sistem jahanam hari ini agar bisa bertahan hidup di tengah keruwetan dan banalitas masing-masing.

Saya (dan mungkin kawan-kawan saya itu) masih percaya dengan pembebasan yang terus berkelanjutan tanpa akhir. Bukan hanya sekadar utopia belaka, namun pembebasan yang terus-menerus aktif bergerak dalam keadaan apa pun, dalam wujud apa pun, di keseharian yang kian banal. Suatu pembebasan yang mampu memberi saya kapasitas untuk menjadi lebih dari sekadar robot hierarkis tanpa kehendak. Tidak, saya tidak butuh revolusi besar-besaran. Yang paling penting adalah apa yang terjadi di sini dan saat ini juga. Saya sepenuhnya memeluk kegembiraan pembangkangan di antara pertempuran yang memberikan kesedihan menyesakkan dari kekalahan sekaligus juga sensasi menggairahkan dari kemenangan: amor fati! Sampai saat ini saya percaya bahwa anarki masih mungkin untuk diwujudkan, dan di sela-sela rutinitas harian yang semakin menyebalkan ini saya juga masih berusaha untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan itu setelah apa-apa yang pernah terjadi sebelumnya dalam hidup saya: kemungkinan untuk mengatasi kesunyian, kemungkinan untuk menoleransi kekalahan, kemungkinan untuk membangun sebuah tempat yang ideal, kemungkinan untuk mengafirmasi “yang tragis” dan “yang manis”, kemungkinan untuk merayakan ban ~

~ bangsat, saya lupa matiin kompor! {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s