#BanalitasHarian: pascafinal

Momen menyebalkan dan menyesakkan dada itu terjadi pada Sabtu kemarin. Setelah seharian diserang rasa gigil dan kecemasan berlebih, final Liga Champions Eropa menutup Sabtu dengan cara yang paling kejam dan mengerikan. Juventus, kesebelasan kesayangan saya, diperkosa secara biadab oleh Real Madrid. Gol demi gol yang bersarang di gawang Gianluigi Buffon menjelma memori suram yang mengendap di pikiran dan luka perih menyesakkan dada yang tidak akan bisa sembuh dengan sempurna. Perut mendadak mulas pengin muntah, dan saya cuma bisa berdiri dengan gigil yang semakin jahanam dan menatap nanar ke arah layar nonton bareng (nobar) ibarat pecundang yang babak belur dihabisi oleh kenyataan dengan cara yang paling buruk.

Final Liga Champions Eropa merupakan sebuah momen peristiwa tahunan yang memilin sejarah, rivalitas, kerja keras, impian, dan drama dalam keindahan permainan sepakbola. Segala macam adjektiva yang bisa ditautkan ke dalam sepakbola level klub bisa ditemukan di pertandingan pamungkas macam itu. Bagi penonton netral, pengeruk profit, dan bandar judi taruhan bola, horor yang terjadi di Kota Cardiff pada Sabtu kemarin adalah final ideal yang cukup menghibur. Mereka tidak menikmati momen-momen penderitaan ketika tim kesayangan berada sejengkal dari risiko kehilangan impian. Mereka tidak perlu sibuk menata serpihan jantung yang berantakan sesaat setelah pertandingan buyar. Mereka tidak harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kekecewaan selama puluhan purnama ke depan. Mereka tidak mesti sesenggukan meneteskan air mata sendirian meratapi kegagalan dan berharap itu semua bakal membikin keadaan menjadi baik-baik saja ke depannya. Saya mengalami (dan berupaya menikmati) semua itu pascafinal kemarin: suatu periode yang menghadirkan ambang batas menggairahkan antara kemenangan yang menggembirakan dan kekalahan yang menyesakkan dada.

Saya mencoba melakukan hal-hal yang menyenangkan untuk mengakali kesedihan pasca-final Liga Champions Eropa. Namun yang jelas adalah saya bukanlah tipe lelaki pemurung yang mencari penghiburan dengan duduk anteng di depan layar televisi sendirian menonton orang-orang melakukan ketololan yang begitu banal dan memuakkan.

Hal pertama yang saya lakukan usai nobar final Liga Champions Eropa kemarin adalah menyantap sarapan dengan lahap selahap-lahapnya untuk kemudian merebahkan diri di atas kasur kamar kos yang tidak terlalu empuk dan tidur pulas sampai sianghari. Bangun dari tidur pulas, saya memacu motor matic pinjaman ke toko buku milik kawan saya untuk memborong lima buku sekaligus: Lelaki Harimau­-nya Eka Kurniawan, Dunia Sukab-nya Seno Gumira Ajidarma, Dunia Maya-nya Jostein Gaarder, serta Dunken Molen dan Drunken Marmut-nya Pidi Baiq. Dari kelima buku yang saya beli pada hari Minggu yang cukup terik itu, saya berhasil menghabiskan Drunken Molen dan Drunken Marmut. Sekarang ini saya masih sampai halaman 140 dari buku Dunia Sukab.

Sejak bisa baca, saya belum pernah membaca buku yang isinya sedemikian tangkas, lincah, dan gesit macam Drunken Molen sehingga sulit saya kejar dengan daya pikir lamban yang saya punya. Gaya tulisan di buku itu tergolong supersonic, mungkin karena tangan penulisnya lebih cepat menulis ketimbang caranya berpikir. Yang saya yakini: Pidi pasti sedang mabuk lem kertas ketika menulis buku humor (horor?) yang superkocak itu. Sementara Drunken Marmut adalah cerita kehidupan yang sederhana, ringan, dan menyenangkan: salah satu sisi kehidupan yang kerap saya lupakan namun selalu saya cari dan saya rindukan. Tawa merupakan antidot kesegaran jiwa yang paling efektif sebab harganya murah — setiap saat, saya pikir, semua orang butuh (ter)tawa. Tidak gampang untuk membikin manusia tertawa di tengah-tengah banalnya hidup harian. Melalui tulisan-tulisannya, Pidi selalu berhasil membikin saya tertawa ngakak, atau cuma tersenyum sinis, atau malah mengernyitkan kening karena bingung. Intinya, Pidi bisa membikin saya berekspresi dengan cara saya sendiri. Dan juga, Pidi memang tergolong pribadi yang nyentrik. Siapa coba yang berpikir untuk menyamar menjadi pengemis hanya untuk ngerjain ibunya sendiri, lalu mengucapkan “selamat Hari Ibu” jika bukan Pidi seorang? Sontoloyo!

Beberapa hari sebelumnya saya sempat menamatkan Larung, sebuah novel tulisan Ayu Utami yang berhasil meramu topik sosial, seks, supernatural, politik, dan feminisme dengan begitu syahdu dan emosional. Saya kutipkan salah satu frasa dari Larung yang sampai saat ini membekas di batok kepala saya: “Tak ada pahlawan di sini. Yang ada hanya pemenang dan pecundang. Sebab siapapun yang menang — ABRI, komunis, angkatan kelima, siapapun dengan ideologi apapun — akan melakukan kekejaman yang sama terhadap lawannya. Karena kejahatan dan kebaikan datang dalam satu paket.

Masih dalam rangka menghapus trauma horor final Liga Champions Eropa, saya bermalas-malasan di depan laptop untuk menonton secara maraton serial Game of Thrones mulai dari season dua sampai season enam dalam beberapa hari terakhir. Secara keseluruhan, saya menikmati jalinan plot cerita Game of Thrones yang menampilkan karakter-karakternya saling berebut kekuasaan untuk memuaskan berahi primordial mereka. Secara khusus, saya bersimpati kepada karakter Tyrion Lannister (Peter Dinklage) dan Arya Stark (Maisie Williams), serta Ygritte yang diperankan dengan kualitas akting mengesankan oleh Rose Leslie. Hanya karakter Sansa Stark (Sophie Turner) yang membikin saya pusing dan geregetan sebab terlampau naif dan tolol. Ah iya, saya juga menghibur diri dengan serial komedi-situasi lawas Friends (season 2) (1995-96). Saya bisa seharian memutar-mutar ulang setiap episode Friends dan tetap tertawa cekakan.

Saya baru tahu pekan kemarin dari postingan seorang kawan bahwa Stars and Rabbit sudah merilis video klip untuk lagu mereka yang berjudul Man Upon the Hill. Saya langsung terpesona ketika pertama kali menontonnya dan, sampai saat ini, saya sudah menontonnya sebanyak 15 — atau, er, 20 — kali dan tidak terasa membosankan. That video is too fucking beautiful! Jarang ada video klip Indonesia yang seindah dan sebagus itu. Komentar dari kawan saya lainnya untuk video klip Man Upon the Hill menjelaskan semuanya: “They Are Not Human.

Radiohead juga merilis sesuatu yang sangat indah. Pada 1 Juni kemarin, Radiohead ahirnya merilis materi lawas mereka yang berjudul I Promise melalui layanan streaming musik daring dan mengunggah video klipnya yang menawan di YouTube sehari kemudian. Tanpa reinterpretasi radikal seperti yang mereka lakukan terhadap True Love Waits setahun yang lalu, Radiohead merilis I Promise dengan komposisi yang kurang-lebih sama seperti ketika dibawakan dalam rangkaian tur konser mereka pada tahun 1996, dengan tema lirik dan atmosfer musik suram yang khas OK Computer (1997). I Promise adalah track yang sungguh menakjubkan dan indah, serta pada akhirnya, berhasil memenuhi janji awalnya.

Dalam sepekan terakhir, daftarputar Winamp di laptop saya isi dengan beberapa album yang dirilis pada tahun 1997 silam — semacam bernostalgia dengan lagu-lagu lawas yang sudah berumur 20 tahun dan merayakan ulangtahun OK Computer yang ke-20 — di antaranya: (1) Urban Hymns dari grup musik The Verve yang terdengar seperti perasaan seseorang setelah terbaring cukup lama di tempat tidur karena penyakit aneh mencoba untuk berjalan keluar rumah menuju pagi yang cukup segar di bulan Oktober untuk menikmati secangkir kopihitam, beberapa batang rokokputih, dan obrolan intim dengan sang kekasih; (2) Under the Western Freeway yang dirilis oleh Grandaddy dengan memasukkan atmosfer kesedihan di sepanjang album yang mampu menyentuh seluruh bagian jantung persegi saya dalam kenikmatan masokis — jika musik yang ada di album ini tidak bisa memberikan kenikmatan seperti itu untukmu, well, saya bisa bilang bahwa kamu tidak punya jiwa; (3) Mi media naranja-nya Labradford yang membawa saya berkeliling ke sebuah kota kecil yang sudah lama ditinggalkan secara misterius oleh penduduknya, di mana setiap engsel dari bangunan-bangunan di sana mengeluarkan bunyi derit yang aneh sementara sebagian besar jendela telah pecah dan angin terasa bertiup lebih kencang ketimbang biasanya, lalu saya menemukan sebuah foto usang yang menampilkan diri saya sendiri sewaktu masih muda di sebelah mayat busuk sang kekasih yang telah pergi sekian lama tanpa berkabar apa pun — ini adalah sebuah perjalanan mengerikan, yang anehnya, terasa menyenangkan dan melegakan; (4) Kumpulan Lagu-lagunya, sebuah album kompilasi dari Oppie Andaresta yang terdengar nyaman dan enak di kuping saya.

Dua hari yang lalu, tepatnya pada 6 Juni, adalah tanggal di mana salah satu tokoh Proklamator Kemerdekaan Indonesia dilahirkan ke Bumi oleh ibunya. Tokoh yang saya bicarakan adalah Soekarno, dan untuk merayakannya Mojok.co (situs bacaan alternatif yang sempat bunuh diri dan kini telah bangkit kembali dari kuburnya) menayangkan artikel yang cukup menarik berjudul Mau Keren Seperti Sukarno? Ikuti Lima Cara Ini tulisan Muhidin M. Dahlan. Lima hal yang menurut Muhidin patut untuk diteladani agar remaja progresif kekinian bisa sekeren Soekarno adalah sering diskusi dan membikin penerbitan buku indie, rajin membaca dan tajam menulis, ngekos, kuliah di fakultas teknik, dan membikin partai politik. (Dari lima hal itu, cuma poin terakhir yang membikin saya mengernyitkan kening dan menggelengkan kepala tanda tidak setuju.) Silakan dicoba jika kamu memang kepengin keren dan heroik seperti Soekarno.

Akhir-akhir ini jagat dunia maya digemparkan oleh tulisan berjudul Warisan dari remaja bernama Afi Nihaya Faradisa. Menyoal ingar-bingar apakah agama yang dianut oleh kebanyakan orang saat ini adalah warisan atau bukan, ada tulisan menarik dari Iqbal Aji Daryono berjudul Agama Saya Agama Warisan yang tayang di Mojok.co. Saya sendiri tidak terlalu memusingkan polemik yang dihasilkan oleh Warisan­-nya Afi. Saya pikir memang susah memahami orang-orang agamis — entah itu yang sok moralis-fundamentalis atau yang sok sosialis-liberalis — sementara saya masih ribet memikirkan hidup saya sendiri. Saya lebih tersadarkan oleh artikel Kehidupan Macam Apa Ini? yang tayang di blog MENGGELIAT DALAM TANYA. Iya, maksud saya — hidup bangsat macam apa ini?

Bulan Juni ini bertepatan dengan datangnya Ramadan yang dirayakan oleh umat Islam dengan berpuasa. (Selamat berpuasa bagi kamu yang menjalankannya dengan sepenuh hati, bukan karena keterpaksaan dan pencitraan belaka.) Blog Wong Edan Suroboyo menayangkan cerpen yang menarik dan lucu berjudul Poso untuk menyambut Ramadan kali ini. Wong Edan Suroboyo konsisten menayangkan cerpen yang sederhana dan terasa dekat dengan kehidupan harian, serta selalu lucu.

Di tengah-tengah kehidupan yang semakin kisruh dan banal ini, ragam bacaan kita — saya dan kamu — mestilah diperkaya. Dengan akses internet yang sudah sedemikian kencang, sudah seharusnya kita pergunakan untuk mencari bahan bacaan yang berkualitas. Membaca buku atau artikel bisa jadi hanya sekadar upaya membosankan untuk mengakali kebosanan di tengah riuh-rendah banalitas harian. Namun, yakinlah, bahwa membaca merupakan salah satu medium canggih yang bisa memberikan pencerahan dan kebahagiaan agar kita tidak edan di era media-sosial.

(Ah, tetap saja, saya masih harus membiasakan diri dengan memori suram dan luka perih dari horor final Liga Champions Eropa edisi 2016/17. Sialan!)

Tabik. {}

Advertisements

2 thoughts on “#BanalitasHarian: pascafinal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s