Seperti dendam, rindu harus terbayar tuntas

/1/

Rindu membiru, sebiru deretan kata tak terucap yang terperangkap di langit-langit imaji sang pecinta. Perih memutih, seputih kumpulan janji yang menguap memenuhi lahan-lahan kosong sang kekasih. Lelah menghitam, sehitam tumpukan harap yang terus direproduksi dan tercecer di pelataran malam yang kelam.

Saya telah menulis berlembar-lembar resah, mencoba menenangkan rindu yang masih saja gelisah. Saya gigiti setiap jengkal tubuhmu, meninggalkan berbagai macam rasa di lidah. Sisa-sisa tubuhmu rubuh diciumi senja yang rusuh. Tidak perlu tergesa untuk saling menyakiti dan menghakimi. Dunia kita sudah terlalu sesak untuk terus-menerus mendengar keluh dan mencoba saling menjauh.

“Matahari tidak akan pernah mampu menjelaskan cahaya yang terbit di jantung berbentuk persegi.”

/2/

Resah dalam mata saya belum reda ketika kamu bertanya mengapa rindu begitu biru. Saya hanya bisa menenggelamkan diri dalam malam. Sementara kemungkinan-kemungkinan selalu menjadi pelarian dari sederet ketakutan yang semakin pekat. Saya hanya mengenal ketidak-pastian, dan jawaban dari hal itu adalah meraih kesempatan yang tidak hanya datang sekali.

Rindu masih basah, sesegar kedatangan dan keengganan untuk beranjak pergi. Jangan dulu mengamini bahwa rindu yang basah bakal merekah, sebab ia juga merupakan butiran sejarah. Pada saat kita sibuk memperdebatkannya, rindu akan mengawini lelah dan melahirkan anak tiri yang terbang menuju senja.

Untuk saat ini biarkan rindu punyamu dan rindu milik saya berbaring pada wajah kita — menghuni salah satu sudut makam orang-orang yang mengaku kalah. Ia bakal mengabadi saat mata kita menyapanya.

“Karena kita lebih suka diperkosa olehnya.”

/3/

Akhirnya…

Saya setubuhi rindu yang hampir punah. Begitu merah, terseret sejarah, dengan lelah yang terperah. Mengingatkan kupu-kupu pada kematian senja, pada deretan kata yang tidak terucap ketika cinta memeluk kebahagiaan, sekaligus kesedihan, yang disimbolkan hujan sorehari.

Lalu, apalagi yang bisa diharapkan dari udara yang kini diselimuti imaji? Dengan kerendahan hati untuk menolak mati, kita akan sama-sama mengerti bahwa logika saja tidak bakal mampu untuk mengobati perih.

Saya masih terdiam pada sebuah dendam ketika kamu menaruh rindu di secangkir kopihitam. Rindu yang berdarah karena pertarungan antara kenyataan dan ekspektasi yang meluap-luap. Terpuruk dalam kalah dengan tubuh bermandikan peluh, dan kamu pun melepaskan resah dari sarangnya yang penuh dengan luka melepuh. Sebenarnya kita masih sempat untuk bercinta, atau setidaknya saling raba, jika tidak sibuk untuk saling mengeluh dan memohon iba. Dan juga, puan betina, sialnya kita tidak pernah tahu kriteria seperti apa yang bisa menyangga rindu yang semakin gaduh.

Kamu menangis saat saya mengiris kesedihanmu dan menyajikannya di atas kain tipis. Satu per satu air matamu jatuh bersama rindu dan hasrat yang mengapung tidak kunjung berlabuh. Dadamu naik-turun melengkapi momen demi momen ejakulasi — dan dengan kekhawatiran akan kehamilan yang tidak dikehendaki, kamu memilih untuk menelan mani. Setelah keringat dan hasratmu sudah terperas, kamu memburu rindu dengan ketajaman wajah Aphrodite. Saya melanjutkan untuk berdarah di dalam dirimu dengan segala berahi dan kenekatan Paris ketika mencumbui Helen.

“Rindu ini harus segera diakhiri meski harus membakar diri.”

/4/

Saya masih berdarah di dalam dirimu bersama sperma yang tumpah karena tarian yang menyerupai sumpah serapah.

Sang pecinta, bersama kekasihnya, sedang melipat jarak untuk disimpan dalam saku celana dan membangun ruang ketidak-mungkinan bagi penerimaan wajah-wajah rindu. Mereka tidak ingin sempurna punah menguap bersama nanah, meski mengaku kalah. Dua tubuh berjuang untuk menjadi utuh. Betina, tolong habisi lelah di tubuh saya.

“Seperti dendam, rindu harus segera dituntaskan.” {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s