Librisida

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta: momen lebaran besok — saat kita berjumpa — harus menjadi petualangan berburu buku bacaan yang asyik-asyik dan menyenangkan. Oke?

Di mana pun mereka membakar buku, pada akhirnya mereka bakal membakar manusia.
— Heinrich Heine

Rayna, sayang,.

Cara paling mudah untuk menghancurkan suatu peradaban adalah dengan melenyapkan buku-buku yang dimilikinya. Posisi buku dan relasinya dengan manusia merupakan salah satu elemen penting dalam sebuah peradaban. Sejarah telah menuliskan bahwa penghancuran, pemberedelan, dan pembakaran buku pernah dilakukan dan berhasil membikin sebuah negara-bangsa kehilangan identitasnya, Ray. Dalam rangkaian peristiwa peradaban dunia, pemberedelan dan pembakaran buku punya lintasan sejarahnya sendiri — baik itu dilakukan secara sengaja atau tidak sengaja oleh pemerintah, lembaga, dan individu.

Praktik pembakaran buku sudah dilakukan pada masa pemerintahan Dinasti Qin di Cina Kuno oleh Kaisar Qín Shǐ Huáng dalam rentang waktu 213 sampai 206 SM. Sekitar 10.000 buku berhasil dibakar karena dianggap mengganggu keabsahan kekuasaan kaisar. Qín Shǐ Huáng juga mengusulkan agar orang-orang yang mendiskusikan buku-buku tersebut dihukum mati, agar orang-orang yang menggunakan literatur untuk menyindir politik kekuasaannya dihukum mati beserta keluarga, dan agar orang-orang yang tidak membakar buku tersebut dibuang ke wilayah utara untuk menjadi budak pembangunan Tembok Besar Cina selama 30 hari. Selain itu, Qín Shǐ Huáng juga mengubur hidup-hidup 460 cendekiawan (ada yang bilang bahwa jumlahnya mencapai 700 cendekiawan) yang tidak disukainya.

Muhammad bin Bakhtiyar Khilji, seorang muslim fanatik dan Jenderal Perang Kerajaan Turki, juga melakukan pembakaran buku di Universitas Vikramashila dan Universitas Nalanda, India, pada tahun 1193. Dua kampus tersebut menjadi pusat peradaban dunia yang menarik murid-murid dari berbagai negara selama lebih dari 600 tahun. Dalam kronik sejarah yang pernah saya baca, Ray, konon dikatakan bahwa tempat itu menyimpan jutaan buku — koleksinya bermacam-macam, mulai dari sastra, sains, ilmu logika, filsafat, sampai kedokteran — di sembilan gedung berbeda dan butuh lebih dari tiga bulan bagi Muhammad bin Bakhtiyar Khilji dan pasukannya untuk menghancurkan seluruh kompleks perpustakaan Universitas Vikramashila dan Universitas Nalanda beserta seluruh koleksi buku yang ada di dalamnya.

Salah satu praktik pelarangan buku yang paling terkenal adalah Index Librorum Prohibitorum, sebuah daftar yang berisikan judul-judul buku yang dilarang Gereja Katolik yang diinisiasi pertama kali oleh Paus Paul IV pada tahun 1559 silam. Umat Katolik dilarang membaca buku yang ada di dalam daftar itu karena dianggap bisa menimbulkan kerusakan takwa dan iman. Index Librorum Prohibitorum diteruskan secara konstan oleh paus-paus selanjutnya di mana dalam daftar tersebut terdapat buku-buku karya para penulis terkenal dalam bidang sastra, sains, dan filsafat macam Voltaire, Baruch Spinoza, Jean-Paul Sartre, Jean-Jacques Rousseau, John Locke, Immanuel Kant, Galileo Galilei, David Hume, Victor Hugo, René Descartes, Nicolaus Copernicus, dan masih banyak lagi.

Ray sayang. Kebijakan dan praktik penghancuran, pemberedelan, dan pembakaran buku merupakan buah dari rasa takut manusia terhadap ilmu pengetahuan. Kekuatan (yang dianggap) menyeramkan dari buku/bahan bacaan adalah kemampuannya membikin para pembaca berpikir kritis. Namun proses berpikir ini tidak selalu sejalan dengan pencerahan. Ada beberapa buku yang justru menjadi sumber malapetaka ketika salah diartikan, dijadikan dasar dan dalih pembenaran untuk melakukan perusakan, penindasan, atau pembunuhan. Hal-hal bengis yang terjadi membikin pemerintah, lembaga, atau individu merasa perlu untuk membatasi, melarang, bahkan sampai membakar buku-buku tertentu yang dianggap memiliki potensi menimbulkan malapetaka.

Asal kamu tahu, Ray, bahwa tidak semua praktik dan kebijakan pemberedelan buku dilakukan atas-dasar akal sehat. Buku Alice’s Adventures in Wonderland tulisan Lewis Carroll pernah dilarang di Provinsi Hunan, Cina, oleh Jenderal Ho Chien pada tahun 1931 karena dianggap merusak generasi muda. Bagi Ho Chien, buku Alice’s Adventures in Wonderland menceritakan hewan-hewan yang dapat bicara, menyiratkan bahwa manusia setara dengan hewan, sehingga membikinnya khawatir bisa merusak moral anak-anak muda.

Pelaku pemberedelan dan pembakaran buku, mencomot tulisan Fernando Báez dalam bukunya yang berjudul Penghancuran Buku Dari Masa Ke Masa, dijuluki “biblioklas” yang dicirikan sebagai “orang yang berpendidikan, berbudaya, (dan) perfeksionis, dengan bakat intelektual yang tidak biasa dan cenderung depresif, tidak mampu menoleransi kritik, egois, mitomania, dan cenderung berada dalam lembaya yang mewakili kekuatan yang sedang berkuasa, karismatik, dengan fanatisme berlebihan pada agama dan paham tertentu”. Nama julukan itu sejalan dengan fakta bahwa para pelaku penghancuran, pemberedelan, dan pembakaran buku adalah orang-orang dari kalangan berpendidikan.

Salah satu pelaku yang getol melenyapkan buku pada zaman modern adalah Nazi Jerman. Pada 10 Mei 1933, para pemuda dari German Student Union membakar lebih dari 25.000 buku yang dianggap tidak mencerminkan semangat Nazi Jerman. Buku-buku yang dibakar pada malam penuh bara itu kebanyakan ditulis oleh orang Yahudi, sosialis, pendeta, pasifis, liberalisme klasik, komunis, ilmuwan, dan anarkis seperti Leon Trotsky, Leo Tolstoy, Karl Marx, Vladimir Lenin, D. H. Lawrence, Franz Kafka, Helen Keller, Hugo, Ernest Hemingway, Maxim Gorki, Sigmund Freud, Friedrich Engels, Albert Einstein, Fyodor Dostoyevsky, dll. PEN International melansir bahwa Nazi Jerman setidaknya telah membakar lebih dari seratus juta buku selama Perang Dunia II.

Fasisme memang tidak bisa bersepakat dengan kebebasan berpikir yang diusung oleh buku. Selain Nazi Jerman, Ray, rezim fasisme Jenderal Francisco Franco di Spanyol juga melakukan hal yang sama pada tahun 1939. Tidak lama setelah kekalahan di Barcelona, sisa-sisa pasukan dan loyalis Franco membakar seluruh perpustakan Pompeu Fabra yang menyimpan berbagai macam buku berbahasa Katala sembari meneriakkan frasa “¡Abajo la inteligencia!” (“Down with intelligentsia!” atau “Matilah para pemikir!”). Rezim junta militer fasis pimpinan Jenderal Augusto Pinochet di Chili juga melakukan kontrol ketat terhadap buku-buku kiri yang dianggap tidak sejalan dengan politik yang diusung oleh pemerintahannya. Di Brasil, setelah terjadinya kudeta militer pada tahun 1964, Jenderal Justino Alves Bastos (komandan Angkatan Darat Ketiga Brasil) memerintahkan pembakaran semua “buku-buku subversif” di Rio Grande do Sul. Salah satu di antara banyaknya buku yang dibakar di Brasil pada saat itu adalah The Red and the Black karangan Stendhal. Sementara di Argentina, praktik pembakaran buku juga pernah terjadi dan menyasar buku-buku yang ditulis oleh Sartre, Marx, Georg Wilhelm Friedrich Hegel, Freud, dan Albert Camus.

Buku, yang merupakan benda mati, sangat ditakuti oleh rezim pemerintahan yang sedang berkuasa karena buku adalah sumber pengetahuan. Seseorang yang gemar membaca buku bisa dipastikan tidak bakal terjebak dalam kubangan ketololan. Buku juga merupakan bentuk lain dari ingatan, Ray. Pada beberapa kasus, buku berperan sebagai pendapat alternatif yang berbeda dari pandangan umum yang mengancam tatanan mapan atau status quo sebuah rezim atau peradaban. Selain itu, buku juga berfungsi sebagai pemantik: sebuah medium yang mampu memberikan perspektif baru yang kerap mengganggu tatanan saklek dan kekolotan tatanan sosial masyarakat yang terlampau malas. François Truffaut, dalam film garapannya berjudul Fahrenheit 451 (1966) yang didasarkan pada novel distopia dengan judul yang sama karangan Ray Bradbury, berhasil menggambarkan imaji masyarakat yang malas dengan sangat bagus. Guy Montag, tokoh utama dalam Fahrenheit 451, adalah representasi dari pemerintah yang bertugas membakar buku-buku yang dianggap dekaden oleh rezim totalitarian yang sedang berkuasa, sampai akhirnya dia bertemu dengan gadis eksentrik bernama Clarisse dan perkumpulan The Book People, sebuah sekte rahasia yang berisikan orang-orang yang setidaknya hafal satu buku. Yang coba ditekankan dalam kisah distopia ini bukanlah persoalan buku, melainkan tentang tatanan sosial masyarakat yang memilih diam dan sikap paranoid berlebihan dari negara.

Salah satu contoh upaya pemberedelan buku yang dilakukan oleh pemerintah adalah pembentukan Committee on Evil Literature pada 12 Februari 1926 di Negara Merdeka Irlandia. Komite ini bertugas menyensor, memberedel, dan memberangus segala macam buku atau bahan bacaan yang dianggap berpotensi merusak tatanan sosial. Buku-buku tentang sastra yang menyiratkan aktivitas seks vulgar, praktik aborsi medis, sampai selebaran iklan krim bulu tidak luput dari sensor Committee on Evil Literature. Salah satu buku terkenal yang diberedel oleh Committee on Evil Literature adalah Ulysses karya James Joyce karena menggambarkan salah satu karakternya melakukan masturbasi.

Rayna, sayang. Upaya pemberedelan dan pembakaran buku juga merupakan praktik yang umum terjadi di Indonesia. Pembakaran buku beserta ulama non-keraton telah dilakukan sejak zaman Kesultanan Mataram. Pemerintahan Hindia Belanda juga pernah menerapkan sensor ketat dan pelarangan buku atau bahan bacaan yang dianggap mengganggu stabilitas negara. Salah satu yang paling terkenal adalah pemberedelan pamflet berjudul Als ik een Nederlander was (atau Seandainya Saya Seorang Belanda) yang ditulis oleh Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara. Tidak hanya menyensor literatur bacaan saja, Pemerintahan Hindia Belanda juga memenjarakan dan mengasingkan penulis-penulis yang dianggap berbahaya macam Semaun, Marco Kartodikromo, dan Darsono.

Aksi pemberedelan buku tidak behenti setelah Indonesia merdeka. Sekumpulan mahasiswa Universitas Bung Karno pernah membakar buku sebagai bentuk protes terhadap budaya neokolonialisme dan imperialisme. Toko buku Gramedia pernah membakar koleksi buku-bukunya pada tahun 2012 karena mendapat desakan dari Front Pembela Islam (FPI). Sampai saat ini, ormas-ormas fundamentalis, pasukan paramiliter fasis, dan aparatus negara yang kelewat paranoid masih gemar menghancurkan buku-buku kiri yang dianggap memiliki kemampuan untuk membangkitkan hantu komunisme yang telah lama mati dan membusuk di dalam tanah. Ini adalah kebodohan menyebalkan dan kebebalan menyedihkan yang dilakukan dengan sistematis.

Dari semua aksi pelarangan dan pembakaran buku yang terjadi di Indonesia, tidak ada yang bisa menandingi “prestasi” dan “kejayaan” rezim fasis Orde Baru pimpinan Soeharto. Nyaris semua buku kiri diberangus tanpa sisa, salah satunya adalah buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer. Tulisan Pramoedya berjudul Hoakiau di Indonesia pernah dilarang beredar pada zaman Soekarno dan membikinnya dipenjara selama setahun. Setelahnya, nasib Pram tidak kunjung membaik: dia ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan selama 14 tahun oleh rezim Orde Baru serta sebagian besar buku karyanya dibakar dan diberedel oleh negara, di antaranya Wanita Sebelum Kartini, Panggil Aku Kartini Saja, Gadis Pantai, dan Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca). Pramoedya menjadi penulis yang dimusuhi oleh dua rezim pemerintahan sekaligus.

Pemberedelan buku masih terus-terusan terjadi di Indonesia, Ray, pasca lengsernya Soeharto dari kursi empuk kepresidenan. Yang masih segar di ingatan batok kepala saya adalah pelarangan buku yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) di penghujung tahun 2009 silam. Dasar hukum yang digunakan oleh Kejagung RI dalam hal pemberedelan buku di Indonesia adalah (1) UU No. 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan Barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum, (2) UU No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan, dan (3) pasal-pasal penyebar kebencian atau hatzaai artikelen di dalam KUHP. Ada lima buku yang diberedel oleh Kejagung RI pada tahun 2009 itu karena dianggap mengganggu stabilitas negara dan ketertiban umum, Ray: (1) Suara Gereja bagi Umat Tertindas: Penderitaan Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri karya Socratez Sofyan Yoman; (2) Mengungkap Misteri Keragaman Agama karya Syahrudin Ahmad; (3) Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 karya Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan; (4) Enam Jalan Menuju Tuhan karya Darmawan M. M.; dan (5) Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto karya John Roosa.

* * * * *

Untungnya, di tengah-tengah praktik pembodohan sistematis itu masih ada sekumpulan manusia pecinta buku yang tidak berdiam diri, masih ada berbagai macam upaya untuk melawan praktik pemberedelan, penghancuran, dan pembakaran buku. Sejumlah aktivis dari American Library Association bekerja-sama dengan Amnesty International secara rutin mengadakan acara tahunan bertajuk Banned Books Week tiap pekan terakhir di bulan September sejak 1982. Acara tahunan ini digelar sebagai respons dan bentuk perlawanan terhadap pemberedelan buku atau pelarangan membaca buku di sekolah oleh negara. Sejak pertama kali diselenggarakan tercatat sekitar lebih dari sepuluh ribu judul buku terlarang yang kini telah dibaca secara publik.

Emma Watson pernah memberikan kejutan kepada masyarakat Inggris dengan membagi-bagikan buku secara gratis. Watson melakukannya dengan cara menyembunyikan beberapa salinan buku Mom & Me & Mom karya Maya Angelou di salah satu stasiun kereta bawah tanah di London, Inggris, agar para penumpang kereta bawah tanah bisa menemukan dan membaca buku tersebut.

Perubahan pola pikir dari para klerik moderat juga ikut membantu aksi perlawanan terhadap pemberedelan buku. Paus Paul VI resmi menghapus Index Librorum Prohibitorum pada 14 Juni 1966 disertai catatan bahwa buku yang ada di dalam daftar tersebut masih tetap dianggap memiliki potensi untuk merusak takwa, iman, dan akidah umat. Namun orang-orang yang membaca buku-buku dalam daftar tersebut sudah dianggap “tidak berdosa dan tidak bakal dihukum”. Sementara di Indonesia sendiri sudah banyak relawan yang membuka perpustakaan jalanan, mengadakan pameran buku, dan menyebarkan sejumlah buku ke seluruh pelosok negeri agar semakin mudah diakses dan bisa merangsang minat baca publik.

Ray sayang. Perlawanan terhadap praktik pemberedelan dan pembakaran buku adalah sebuah upaya melawan lupa. Membaca buku atau literatur lainnya membikin kita tahu bagaimana sastra bisa bercerita tentang kebenaran dan merangsang hasrat perlawanan terhadap penindasan, atau bagaimana ragam rupa sejarah, atau bagaimana sains bisa menjadi racun yang membebaskan, atau bagaimana politik selalu dipenuhi dengan intrik dan aksi tipu-tipu, atau bagaimana filsafat mampu membunuh tuhan.

Rayna, kesayangan. Membaca buku bisa jadi cuma sekadar upaya membosankan untuk mengusir kebosanan di tengah riuh-rendah banalitas harian. Namun, percayalah, buku merupakan salah satu medium canggih yang bisa memberikan pencerahan. Minat baca yang luar biasa besar dan jumlah buku bacaan yang memuaskan lama-kelamaan bakal mendorong seseorang terbiasa berdiskusi dengan tujuan untuk mencari pemahaman-pemahaman baru yang tidak hanya berasal dari satu sumber saja. Dalam forum-forum diskusi, satu interpretasi akan bertemu dengan interpretasi lain sampai pada akhirnya memunculkan pemahaman dan kesimpulan yang sama sekali baru dan lebih segar. Rela atau tidak, ikhlas atau tidak, pemikir yang kreatif dan hebat selalu berawal dari pembaca yang rakus melahap buku bacaan apa pun.

Mulai saat ini, ragam bacaan kita — saya dan kamu — haruslah diperkaya, tidak ada lagi alasan bahwa sumber bacaan sekarang ini masih terbatas. Dengan akses internet yang sudah sedemikian kencang, sudah semestinya kita manfaatkan untuk mencari bahan bacaan yang berkualitas. Setelahnya, Ray, semoga kita bakal bisa berbahagia dan tidak edan di era media-sosial.

Sebab, mencomot kata-kata Najwa Shihab, “membaca itu (bisa) membuat kita bahagia”. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s