Sampai jumpa lagi, puan…

(satu malam di pertengahan Mei)

Tanda-tanda itu sengaja saya abaikan: langit utara yang menghitam, tiupan angin yang membawa-serta aroma basah, dan petir yang konstan menyuarakan wujudnya. Sebaiknya menunda perjalanan, masih ada besok. Ah, pada dasarnya saya adalah lelaki bebal yang tidak percaya hari esok pasti datang.

Kaus hitam, celana panjang hitam, dan sneakers hitam saya pakai sekenanya. Laptop dan tumpukan rindu yang saya jejalkan ke dalam tas ransel sudah melekat di punggung. Siap menempuh perjalanan satu-dua jam menuju utara. Selepas membasahi wajah seperlunya, saya sudah mendapati diri dalam desakan hasrat untuk menuntaskan janji menikmati dirimu, puan.

Hujan mulai turun ketika kaki saya pertama kali menapak di jalanan kotamu. Teras toko berbagai aksesoris jam saya pilih untuk berteduh. (Andai saja tidak ada laptop dalam tas ransel ini.) Pemilik toko tempat saya berteduh tersenyum, namun percayalah, itu bukan senyum ikhlas. Gestur tubuh dan bibir si pemilik toko berada di titik keterpaksaan. Saya hanyalah duka bagi pemilik toko itu. Saya pun membalas senyum itu sewajarnya, sembari menyulut rokokputih dan mengisapnya dalam-dalam untuk menenangkan. Kami terjebak dalam situasi kepura-puraan yang kurang ajar. Ah, sudahlah.

Hujan perlahan mereda, meski tidak menunjukkan tanda bakal benar-benar berhenti; masih tersisa rintik. Saya memasukkan bungkus rokok dan ponsel ke dalam tas, lalu kemudian mulai menghitung langkah menuju titik temu dengan rindumu. Beberapa ruas jalan menjelma menjadi sungai dadakan — air hujan kehilangan hak untuk mengalir ke selokan. Kendaraan bermotor melambat membentuk sebuah parade, seolah menunggu giliran untuk menaiki kapal raksasa agar selamat dari ancaman banjir. Ada juga beberapa sumpah serapah yang terdengar, selain bebunyian klakson kendaraan yang menjadi polusi suara. Brengsek, senja sudah hilang entah ke mana dilibas kelamnya mendung langit utara. Saya mempercepat langkah.

Langit utara sempurna gelap ketika saya tiba di teras rumahmu. Perjalanan yang selalu rutin saya ulang setiap lima atau enam bulan sekali sejak 2010 silam ini menemui klimaksnya. Tidak boleh ada lelah di depanmu, prinsip yang kerap membikin saya tersiksa sendiri. Kamu, dengan segala kecantikan dan keteduhanmu, tidak memiliki hak untuk mengetahui lelahnya tubuh saya dalam segala upaya untuk mempertemukan rindu.

Secangkir kopihitam sudah dingin di atas meja. Kamu tahu bagaimana caranya melewati perlintasan waktu untuk menunggu saya. Semuanya harus sempurna, katamu. Demi pertemuan colongan macam ini, semua memang harus sempurna betina. Hasrat yang meluap-luap, secangkir kophitam yang tidak pernah pas takarannya, dan dialog usang untuk menjaga harapan agar tetap hidup. Membikin hal lainnya serasa tidak pantas untuk dikhawatirkan saat kedua mata rindu kita bertemu saling menelanjangi diri masing-masing. Sementara hujan kembali turun di luar sana.

Setelah beberapa kali menikmati momen ejakulasi, saya beranjak menuju kamar mandi. Membersihkan sisa-sisa rindu yang masih menempel di tubuh. Kamu menggerutu, berharap bisa menyapa matahari bersama saya esok pagi, sembari memeriksa pesan yang masuk di ponsel-cerdasmu. Kenapa tidak lari saja dari rutinitas harian yang mengekang kita, tanyamu.

Tahukah kamu, puan betina sayang? Pikiran seperti itu masih belum bisa hilang sepenuhnya dari batok kepala saya. Kabur dari segala hal yang membikin hubungan kita menjadi serumit sekarang. Menggunakan jasa Dr. Howard Mierzwiak dalam film Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004) untuk menghapus segala ingatan tentang hidup kecuali kenangan dan perasaan cinta kita lalu meminjam “pintu-ke-mana-saja” milik Doraemon untuk pergi menuju dunia entah-berantah meninggalkan apa-apa yang membuat kita menderita.  Percayalah, pikiran seperti itu masih memenuhi kepala saya hingga saat ini. Sebuah kemungkinan yang belum berani saya upayakan untuk mewujud nyata.

Namun kita adalah dua manusia yang ada di Bumi. Kita menapaki jejak hidup yang tidak semudah dalam pikiran Doraemon dan kisah-kisah romansa Hollywood. Segala cobaan hidup harus diselesaikan dengan cara-cara logika yang ada di Bumi. Ruang ketidak-mungkinan yang digelisahkan oleh sepasang kekasih macam kita. Jejaknya dimulai jauh sebelum Paris memberanikan diri menculik Helen dari Sparta. Kisah kita bukanlah dongeng macam itu. Meski sebenarnya saya ingin kita bertemu dalam cerita-cerita dongeng saja, yang selalu berakhir dengan bahagia.

Sampai jumpa lima bulan ke depan — semoga tidak hujan dan kamu masih bisa bertahan dalam penantian yang membosankan. Semoga saja kamu masih bisa tegak berdiri meski mendengar kabar bahwa saya telah mati suatu hari nanti.

Kesayangan, demi apa pun, jangan pernah padam. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s