Misalkan cerita adalah secangkir kopihitam

/1/

Secangkir kopihitam kadangkala bicara terlampau banyak.

Cairan hitam pekat itu seolah memiliki rahasia mendalam yang mengendap di dasar sebuah cangkir. Segala kesedihan, juga kenangan-kenangan yang kelewat pahit atau terlalu manis, peristiwa demi peristiwa yang datang dan pergi, melebur larut menjadi satu serupa hitamnya bubuk kopi dalam seduhan air panas dengan latar belakang asap rokokputih yang melayang-layang memenuhi setiap jengkal ruang. Saya suka menghirup aromanya, menyeruput satu-dua teguk, kemudian menatapnya lekat-lekat hingga ia mendingin. Entahlah, saya tidak mengerti kenapa saya suka melakukannya. Sekarang bukan hanya lambung saya yang memeluk perih.

/2/

Secangkir kopihitam kadangkala bicara terlampau banyak.

Saya mendengus. Sebuah nama sengaja saya biarkan menyerupa bayangan wajah mengokupasi isi kepala. Andai saja waktu lebih lentur. Andai saja waktu bisa diputar-ulang atau ditarik-ulur. Saya kembali menatap cairan hitam pekat itu, yang kini tersisa separuh dalam cangkir, mengenang sebuah pertemuan yang menjadi awal dari segala kisah kemenjadian hari ini. Tentu saja, bagaimana saya bisa melupakan pertemuan itu, kesederhanaan itu? Pada mulanya adalah kopi dalam gelas plastik, pada satu siang yang semakin terik. Lalu saya membiarkan kamu melangkah masuk ke dunia entah-berantah. Saya suka caramu mengakhiri setiap percakapan dengan senyum kecil di pojokan bibir mungilmu. Saya suka sorot kedua matamu yang teduh, lesung di kedua pipimu, dan sepasang gigi drakula yang sesekali menyembul keluar ketika kamu tertawa. Seraut wajah yang ekspresif. Kombinasi yang melengkapi substansi dari sebuah eksistensi keindahan surgawi.

/3/

Secangkir kopihitam kadangkala bicara terlampau banyak.

Ah, andai saja saya bisa menahan diri. Tentunya kisah ini tidak pernah ada, bukan? Sebuah cerita yang selalu tersesat dalam romansa picisan berjudul “Kita”. Tidak ada satu pun bait yang mesti disesalkan. Cinta, layaknya gerimis: terkadang datang tidak terduga di siang yang cerah, dan ketika reda, selalu meninggalkan kenangan yang meruap bersama aroma tanah.

/4/

Secangkir kopihitam kadangkala bicara terlampau banyak.

Dari awal, semestinya saya sudah tahu bakal begini jadinya. Seharusnya saya bisa menduga kisah ini akan berujung seperti apa. Namun cinta memang mudah berkobar dari hal-hal sepele, seperti halnya amarah dan rasa benci. Lantas siapa yang layak disalahkan jika saya dan kamu begitu gampang saling jatuh dalam pelukan masing-masing pada pandangan pertama dan memilih untuk melanjutkan kesederhanaan itu? Tidak ada yang salah, tak ada yang benar. Diamini dan dinikmati saja, katamu.

/5/

Secangkir kopihitam kadangkala bicara terlampau banyak.

Saya masih menatap cairan hitam pekat yang tinggal separuh. Kebahagiaan, kesedihan, dan kerinduan telah menyatu sempurna di dalam cangkir. Jika sudah demikian, saya kerap menjadi lebih melankolis dan sentimentil. Bayangan wajah yang senantiasa pucat itu begitu nyata menampak di dalam batok kepala. Sebelum akhirnya ia mulai meleleh dan menetes satu demi satu menuju rebah di pundak kiri. Rindu. Saya menggerutu namun sia-sia menyingkirkanmu dari dalam sini. Rindu. Benar-benar sia-sia.

/6/

Secangkir kopihitam kadangkala bicara terlampau banyak.

Saya meraih telinga cangkir kopihitam di atas meja. Layaknya Sisifos, saya terus-menerus mendorong rindu ke puncak jantung dan kemudian harus melihat rindu itu menggelinding lagi ke dasar jantung, lalu saya dorong kembali rindu itu ke atas, lagi dan lagi. Seperti Sisifos yang bahagia, sebagaimana dilihat kembali oleh Albert Camus dalam esainya yang berjudul The Myth of Sisyphus, saya yang menjalani hukuman paling membosankan dan menyedihkan itu pada akhirnya menciptakan pertalian antara diri sendiri dan rindu. Saya memilih untuk menolak terhinakan dan menganggap pilihan mendorong rindu sebagai bagian tak terpisahkan dari takdir yang saya tulis (dan coba saya penuhi) sendiri. Bahwa saya lebih kuat dan lebih keras dari rindu tersebut. Bayangkan saya yang berbahagia, yang secara radikal menjadikan rindu sebagai media untuk mempersetankan dan merendahkan siapa-siapa yang menyumpah-serapahi kita dengan kutukan dan hukuman. Menjadi tragis tanpa kesedihan!

/7/

Secangkir kopihitam kadangkala bicara terlampau banyak.

Aroma kopihitam nyaris seperti kumpulan cerita yang egois. Ia berhasrat merayakan alur sendiri tanpa tafsir. Ia membeberkan sukacita sekaligus tragika seolah tidak ada yang perlu dirisaukan. Apakah nanti bakal ada yang sesenggukan tersedu sedih, atau malah tersenyum menawan lantas gembira cekakakan? Peduli setan!

/8/

Secangkir kopihitam kadangkala bicara terlampau banyak.

Aroma kopihitam terus melaju dengan ritmenya sendiri demi mencipta cerita-cerita yang lebih liar. Kebahagiaan dan kesedihan saling bercecabang seperti pohon-pohon di lembah kasih milik Aphrodite. Ia merupakan gambaran bagi rasa keukeh dan keinginan mengelak dari kehendak untuk dipahami; terus membikin jarak dari peluang untuk ditebak.

/9/

Secangkir kopihitam kadangkala bicara terlampau banyak.

Aroma pahit kopihitam dapat menjalin letusan tertentu ketika ia sampai, untuk pertama kalinya, di pangkal tenggorokan. Merangsang ragam kenangan tentang senja yang terpendam bersama debunya masing-masing untuk menyeruak — dalam letupan-letupan kecil atau ledakan-ledakan besar — sekaligus menyalakan kembali dendam yang sempat padam di batok kepala. Menjelma sesuatu serupa rangkaian kata-kata yang mengental di dalam jantung dan pikiran.

/10/

Secangkir kopihitam kadangkala bicara terlampau banyak.

Sementara itu, cangkir yang tergeletak kosong sebab ditinggal kopi adalah cerita yang belum selesai yang selalu ditunggu-tunggu kelanjutan kisah beserta kejutannya. Mirip rindu yang selalu penasaran dan menolak untuk diajak beradaptasi dengan Sabtu. Saya menghela nafas panjang. Berharap dada lebih longgar, seperti cangkir yang ada di hadapan saya sekarang ini.

/11/

Secangkir kopihitam kadangkala bicara terlampau banyak.

Betapa beruntung dan bahagianya penyesap kopihitam — dan rindu — yang cerdik menyatakan diri dengan uap. Ketika kopihitam diseduh, sebatang rokokputih pun segera menghidupkan diri. Pada momen-momen seperti itu, cerita “Kita” bakal selalu terperangkap dalam asap. Mengabadi.

/12/

Secangkir kopihitam kadangkala bicara terlampau banyak.

Ini benar adanya. Kopihitam yang membangunkan saya di pagihari adalah kopihitam yang sama, yang tidak jua membikin saya segera tidur di malamhari. Saya masih bisa merasakan detak jantungmu sejelas saya merasakan gaduh di dalam sini; dan saya tahu, perpisahan hanyalah sebuah ilusi.

/13/

Iya puan betina sayang, secangkir kopihitam kadangkala memang bicara terlampau banyak: tentang kupu-kupu, tentang senja, tentang rindu; tentang kamu!

Ah, andai saja… selalu andai saja… {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s