Kita bertemu pada waktu yang absurd

#Untuk D.

Kita bertemu pada waktu yang absurd,
dan (anggap saja) itu adalah sengsaraku.

Betapa syairku pengin mengembara di lekuk tubuhmu
namun lidahku kelu memanjat namamu
tanganku lunglai untuk merapal aksaramu
sebagai harap dalam keresahan
selalu nikmat menikmati waktu dengan sisa senyummu
sebab “kita” bukanlah milik kamu dan aku.

Kita bertemu pada waktu yang absurd,
dan (biar saja) itu menjadi deritaku.

Terbanglah,
pergilah,
sampai apa-apa di sekitarku gagap menunjukkanmu padaku
meski namamu membungkus erat diriku
aku tidak ingin menemukan apa pun di situ.

Pergilah,
terbanglah,
agar ada luka yang bisa kupelajari dan kupelihara
dan, di masa yang jauh setelah ini, kamu bakal tahu
betapa kasih sayangku kepada luka itu
telah menihilkan batas-batas kesadaranku. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s