Agama sebagai alat politik

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta: sepertinya penting bagimu untuk mengetahui bahwa mereka bakal menggunakan segala macam cara untuk menanggalkan logika dan mematikan hati nuranimu demi kekuasaan yang ironisnya bakal menindasmu di kemudian hari.

Rayna, sayang,.

Jika apa yang sedang terjadi di Jakarta akhir-akhir ini mewakili situasi dan kondisi Indonesia, merepresentasikan suasana hati sebagian besar manusia-manusia yang hidup di sini, maka sepertinya kita tidak butuh serangan atau campur-tangan negara-bangsa lainnya untuk menjalani hidup yang semakin sengsara pada waktu yang akan datang. Pilkada Jakarta kemarin harus diselesaikan dalam dua putaran, sebab pada putaran pertama tidak ada pasangan calon yang mendapatkan suara lebih dari 50%. Dengan dua pasangan calon yang bertempur di putaran kedua, masing-masing pendukungnya sibuk berperang kata-kata, saling serang dengan senjata kebencian, dan berlindung di balik tameng agama.

Asal kamu tahu, Ray sayang, bahwa menyingkirkan agama dari ranah politik adalah upaya yang sulit. Bahkan, menurut saya, hal itu lebih sulit untuk dilakukan ketimbang membersihkan kotoran yang menempel di seluruh anggota tubuh sendiri ketika mandi. Ikhlas atau tidak, harus diakui bahwa berbagai macam pesan sosial dan politik juga muncul di dalam teks-teks agama selain pesan-pesan untuk menjaga dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan.

Teks-teks agama mengajarkan bahwa iblis selalu ada di tengah-tengah kehidupan kita dan selalu berupaya untuk menyeret manusia ke neraka yang paling jahanam. Teks-teks agama meminta kita waspada terhadap “yang lain” sebab mereka adalah kaum yang ingin menyesatkan kita dari jalan yang benar. Teks-teks agama menyarankan para jomblo untuk mengawini pasangan yang bagus agamanya, jangan sampai memilih pasangan cuma karena ketampanan atau kecantikan fisiknya saja.

Setiap agama mengajarkan kebenaran mutlak dan absolut versi masing-masing yang tidak mungkin (atau tidak boleh) dikoreksi oleh pihak lain. Setiap pemeluk agama yang mengimani adanya surga dan neraka bakal meyakini bahwa cuma jalan yang dibentangkan agamanya yang sanggup membawa manusia ke Taman Firdaus atau tempat lain macam itu. Rabi Yahudi memberi tahu umatnya bahwa mereka adalah bangsa yang terpilih. Para pengikut sekte Salamullah percaya bahwa Lia Eden adalah kebenaran sejati dan satu-satunya jalan menuju kebahagiaan abadi. Kaum muslim mengimani bahwa satu-satunya agama yang diberkati tuhan adalah Islam dan kelak mereka adalah penghuni kavling surga yang sebenarnya. Para pengikut Kristus meyakini bahwa Yesus merupakan satu-satunya jalan terang untuk sampai ke kerajaan surga dan menikmati kebahagiaan abadi di akhirat. Ajaran Hindu menawarkan jalan yang bakal membawa manusia ke Swarga Loka. Sementara Buddha mengajarkan jalan menuju kekosongan abadi, menuju nirwana.

Agama-agama besar itu pun bukan merupakan entitas tunggal, Ray. Dari setiap agama selalu ada sekte-sekte atau rumpun-rumpun atau denominasi yang lebih kecil dengan penghayatan dan praktik keyakinan yang lebih spesifik. Dan tiap sekte atau rumpun itu juga bakal mengimani bahwa ajaran mereka-lah yang paling benar. Tribalisme macam ini, asal kamu tahu Ray, merupakan salah satu insting terkuat yang menentukan dan mengendalikan perilaku manusia. Hal itu melindungi manusia dan memberikan perasaan damai. Namun, pada saat yang bersamaan, hal itu bisa menghadirkan ancaman — terutama ketika manusia berada dalam kondisi yang melumpuhkan logika dan hati nurani. Dan sekarang ini Jakarta sedang mengalami situasi seperti itu. Pemilihan kepala daerah, sebuah prosedur dalam sistem demokrasi untuk menentukan kepala administrasi pemerintahan, mendadak berubah menjadi ajang perjuangan mencari pemimpin agama.

Slogan-slogan dan jargon-jargon keagamaan diobral di sana-sini. Para demagog dan juru kampanye berdiri di atas panggung, memegang mikrofon, dan meneriakkan apa yang harus dilakukan oleh banyak orang sampai ludahnya kering. Kumpulan massa dimobilisasi untuk turun ke jalanan melawan dajal, untuk menghujat lawan yang dikonstruksikan sebagai musuh agama dan menyingkirkannya ke neraka yang paling jahanam. Para politikus menyukai hal-hal semacam itu, Ray: membungkus syahwat politik dan nafsu berkuasa dengan teks-teks agama, mengipasi bara fanatisme, dan mengacaukan emosi publik dengan berbagai macam sentimen keagamaan.

Rayna sayang. Agama adalah salah satu alat politik yang sangat efektif untuk meraih dukungan massa. Selain terbukti mujarab untuk menarik hati orang-orang saleh, agama juga ampuh untuk merayu para bajingan. Tidak peduli bagaimana mereka menjalani rutinitas harian, para bajingan merupakan golongan yang juga mudah terpikat ketika disuguhkan isu-isu agama. Jangan pernah menganggap remeh sekumpulan bajingan, sebab pemilu adalah persoalan mendapatkan suara yang lebih banyak. Dalam keadaan berimbang, suara dari seorang bajingan sudah cukup untuk membikin perbedaan — apalagi lebih dari 27 suara.

Jakarta hari ini sungguh menyedihkan (dan mengerikan). Baru kali ini, dalam suasana pemilihan kepala daerah, ada bentangan spanduk dan ceramah yang mengancam tidak menyalatkan jenazah. Belum lagi anjuran untuk membunuh yang dinyanyikan dalam pawai obor menyambut bulan suci Ramadan oleh anak-anak kecil. Lantas publik diminta untuk memaklumi horor itu sebagai ekspresi warga. Ancaman macam itu, entah dilakukan atau tidak, memiliki daya rusak yang sama besarnya dengan air yang merembes di atap rumah. Pada awalnya cuma menimbulkan bekas kecil, namun jika dibiarkan maka lama-kelamaan air yang merembes itu bakal memunculkan jamur, melapukkan kosen, dan akhirnya menyebabkan kerusakan yang cukup parah pada rumah. Para politikus buruk yang rakus kekuasaan di luar sana tidak memedulikan hal seperti itu, Ray. Mereka menikmati pertengkaran dan perpecahan. Mereka bakal menggerakkan massa untuk bertarung melawan sesamanya. Mereka bakal melakukan apa saja untuk menghantam dan membenamkan pihak lawan.

Dan mereka bakal menghasut publik bahwa ini adalah perang suci melawan musuh agama. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s