Kebebalan orang-orang dewasa

#Untuk Rayna Primastiti Rahajeng Bagusta: sebab dunia hari ini semakin tidak baik-baik saja — tetaplah menjadi gadis kecil nakal yang punya hati sekuat jati dan isi kepala yang tidak lupa berotasi.

Rayna, sayang,.

Alkisah pada suatu ketika di bulan Mei 1212 ada seorang anak gembala berusia sekitar 12 tahun bernama Stephan of Cloyes muncul di Saint-Denis, Prancis, untuk menghadap Raja Philip II of France di istana dengan tujuan memberikan secarik surat untuk sang raja yang, menurut pengakuannya, diantarkan sendiri oleh Yesus ketika dia sedang menggembalakan ternak-ternaknya. Dalam surat yang dibawa Stephan itu terdapat titah Yesus yang memintanya pergi ke Yerusalem untuk memimpin pasukan Perang Salib karena orang-orang dewasa telah gagal menyelesaikan urusan mereka. Raja Philip II of France tidak memedulikan ucapan Stephan.

Namun, Ray, Stephan yang gairahnya sudah meluap setelah bertemu dengan lelaki misterius di padang rumput gembalaan itu kemudian mendaku diri sebagai pemimpin perang suci yang bakal membawa kejayaan bagi agama yang dianutnya. Stephan kemudian mulai berkhotbah dari satu tempat ke tempat lain dan, seiring dengan berjalannya waktu, para pengikutnya terus bertambah banyak. Semua pengikut Stephan adalah anak-anak yang berusia di bawah 12 tahun.

Singkat cerita, dengan pasukan berjumlah 30.000 anak, Stephan memimpin perjalanan penuh kesengsaraan ke Yerusalem, sebuah kota suci yang letaknya jauh di seberang lautan — di belahan timur Bumi. Sepanjang perjalanan yang menyusahkan itu Stephan terus-menerus berkhotbah kepada pengikutnya bahwa air laut bakal membelah persis sama dengan keajaiban yang pernah dialami oleh rombongan Nabi Musa dan semua itu bakal memuluskan jalan bagi mereka semua. Di puncak musim panas yang menyengat, Stephan dan pasukannya tiba di tepi Laut Mediterania, namun air laut tidak membelah ketika mereka tiba di sana. Setelah menunggu selama beberapa hari dalam kondisi kelaparan dan dehidrasi parah, serta air laut yang tidak kunjung membelah, sejumlah anak merasa dikibuli dan mulai menangis, beberapa di antaranya memilih kembali pulang untuk kemudian menjadi compang-camping di jalanan. Meski begitu, sebagian besar pasukan Stephan bertahan di tepi Laut Mediterania hingga akhirnya datang dua saudagar kaya menawarkan kapal-kapalnya untuk mengangkut mereka.

Begitulah, Ray, mereka pun berlayar sebagai pasukan anak-anak Perang Salib dengan membawa niat suci dan mulia untuk membebaskan Yerusalem dan mengajak orang-orang Islam masuk Kristen dengan cara damai. Namun pasukan anak-anak ini tidak pernah sampai ke Yerusalem: sebagian dari mereka mati karena kapalnya karam di dasar laut, sebagian lainnya memilih mati dengan menenggelamkan diri di laut, sementara sisanya dijual sebagai budak di Tunisia oleh dua saudagar yang memberi mereka kapal tumpangan.

Kisah di atas lebih dikenal dengan nama Children’s Crusade. Kebenaran dari kisah itu masih harus diteliti dan dikaji-ulang, Ray. Beberapa sejarawan menganggap bahwa pasukan anak-anak di bawah komando Stephan itu bukanlah bagian dari Perang Salib meskipun mereka juga mengucapkan sumpah yang sama seperti yang diucapkan oleh para tentara salib. Perbedaannya adalah pasukan anak-anak itu tidak bergerak berdasarkan perintah Paus.

Saya menjadikan Children’s Crusade sebagai pembuka tulisan untukmu ini, Ray, karena saya pengin menyampaikan bahwa orang-orang dewasa memang kerap tidak tahu diri, menjijikkan, dan bebal. Orang-orang dewasa gemar membikin masalah dan, brengseknya, mereka bakal seenak udel melibatkan anak-anak manis sepertimu, Ray sayang, untuk menyelesaikan permasalahan yang mereka bikin sebelumnya. Dunia saat ini masih berputar dengan plot cerita yang masih tetap sama seperti itu sampai sekarang, Ray.

Beberapa hari yang lalu ada kejadian di Jakarta yang membikin saya ngeri, marah, dan jengkel secara bersamaan Ray. Sekumpulan anak dimobilisasi untuk berpawai menyambut kedatangan bulan suci Ramadan dengan mengenakan baju putih, dengan membawa obor di tangan, dan dengan nyanyian riang-gembira yang diiringi bunyi tetabuhan. Mereka, secara kompak, bernyanyi: “Bunuh, bunuh, bunuh si Ahok! Bunuh si Ahok sekarang juga!” Mereka menyanyikan seruan bengis yang penuh kebencian itu dalam melodi lagu anak-anak Menanam Jagung di Kebun Kita. Sistem kerja tubuh dan otak saya langsung buntu sewaktu menonton video itu, Ray. Saya geram karena orang-orang dewasa masih saja bebal, melakukan segala macam cara — termasuk meminjam mulut lugu anak-anak untuk meneriakkan kekejian, kebengisan, dan kebencian. Jahanam! Gendeng!

Apa yang terjadi di pawai obor itu adalah peristiwa yang harus direspons dengan serius. Itu bukan persoalan sepele. Anak-anak yang melakukan pawai obor itu telah menyarankan (atau memerintahkan) sebuah pembunuhan. Apakah para orangtua mereka memang menginginkan anak-anak itu mengembangkan sifat bengis dan menjadi mesin pembunuh nantinya? Entahlah, siapa yang tahu. Yang saya tahu, perintah untuk melakukan pembunuhan kepada siapa pun adalah perintah paling buruk yang bisa diucapkan oleh mulut anak-anak. Beberapa orang boleh-boleh saja menganggap bahwa perintah itu hanyalah seruan anak-anak yang belum cukup umur dan belum memahami apa-apa yang mereka ocehkan. Saya juga ingin berpikir seperti itu, Ray, dan meyakini bahwa nyanyian di pawai obor itu cuma omong kosong orang-orang dewasa frustasi yang disalurkan melalui mulut anak-anak. Saya ingin percaya bahwa sekumpulan anak itu hanya sekadar berteriak asal-asalan, meski kemungkinan seperti itu sangat tipis. Anak-anak yang berpawai obor itu mencontoh perangai bebal milik orang-orang dewasa beberapa waktu lalu menjelang Pilkada Jakarta. Orang-orang dewasa yang bebal dan gila adalah seburuk-buruknya teladan bagi anak-anak. Saya geram menyaksikan hal-hal seperti itu masih saja terus-terusan terjadi di sini.

Pilkada Jakarta sudah kelar dan Ahok telah kalah, namun kegilaan masih tetap berlanjut. Orang-orang dewasa masih terus berteriak menyebarkan aroma kebencian dan permusuhan, dan saya merasa ngeri dengan pesan yang bersembunyi di balik seruan itu: bahwa mereka — orang-orang dewasa yang bebal itu — sudah menyiapkan kader kebencian sejak dini, bahwa mereka mampu membikin anak-anak yang lugu dan manis menjadi monster bengis dan kejam, bahwa mereka bakal melakukan apa saja demi sebuah tujuan yang mengerikan.

Rayna, kesayangan. Sebagai manusia (yang semoga saja tetap) waras, saya tidak memiliki keinginan untuk mengubahmu menjadi mesin pembunuh konyol suatu hari nanti. Sebagai manusia (yang semoga saja tetap) waras, saya tidak bakal mengizinkan kamu berpawai dan menyanyikan seruan bengis seperti itu. Sebagai manusia (yang semoga saja tetap) waras, saya lebih suka kamu membaca buku di mana pun, saya lebih suka kamu berkebun di teras depan rumah, saya lebih suka kamu bermain layang-layang atau bermain bola dengan kawan-kawanmu di tanah lapang.

Sebentar lagi bakal ada perayaan mempertemukan rindu dan menuntaskan janji, Ray! Tunggu saja… {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s