Penanda perjumpaan dan luka

Tehmanis dan kopipahit;

dua yang menjadi penanda perjumpaan kita yang sesaat, pelarian sembunyi-sembunyi dari “rutinitas harian menjadi sesuatu bagi orang lain”. Kamu memilih merah-legit, aku hitam-getir. Kamu datang dikawal senja, aku sibuk memereteli nyeri;

tanpa omong kosong yang dipanjang-panjangkan
selain diksi rindu dan teh dan kopi
genggaman tangan yang mengamini hening: “kita”
serta aku yang kesusahan membujuk berahi;

pada jarak yang berhasil dilipat
dan waktu yang berhasil dicurangi
aku tetaplah pecundang bangsat
yang tidak pernah fasih
melucuti kamu, puan, dari ingatan.

Tehmanis dan kopipahit — dua rasa yang berbeda sebagai penanda bahwa kamu dan aku punya luka yang sama tiap kali langit meremang jingga.

Demi semesta,
dan setiap tetes darah dari selaput dara,
serta mani yang muncrat dari batang lingga,
perjumpaan tanpa perpisahan adalah mitos purba
yang terlampau mengada-ada. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s