Menjadi cukup di dalam pelukmu

Terik menjadi warna langit Malang — yang biasanya sendu, namun bersahabat — kala itu. Sudah hampir sejam menunggu dan beberapa batang rokokputih saya isap sebelum akhirnya kamu datang dengan mata serupa Kotak Pandora itu. Kamu bukanlah keindahan surgawi yang telah banyak dijual kepada dunia, dan juga bukan bagian dari kampanye perihal idealnya sosok perempuan di mata dunia yang semakin menyebalkan. Kamu, dalam segala hal, adalah perempuan yang cukup. Dan “cukup” merupakan kata yang paling pas untuk menggambarkan keistimewaan yang kamu miliki.

Taman itu telah menjadi saksi kecurangan kita untuk kesekian kalinya. Taman itu telah menjadi semacam lubanghitam yang selalu membantu kita berdua kabur dari ruwetnya kehidupan “normal” kita, meski hanya untuk sebentar saja. Menjauhkan kita dari bangsatnya aktivitas masyarakat urban untuk memuaskan kebutuhan yang seolah tidak pernah habis, mempersetankan ajaran peradaban hari ini untuk semakin menghancurkan mimpi dan harapan di dada. Di taman itu, dalam beberapa jam, kita menjadi bagian dari siklus hidup saling memberi dan menerima. Bagi saya: itu sudah cukup.

Saya selalu menikmati setiap obrolan yang sesekali diselingi dengan senyum renyahmu, cubitan genitmu, dan pelukan hangatmu itu — merayakan romantisme kehidupan dalam ketenangan sebagai “kita”. Rasa-rasanya saya sudah tidak membutuhkan apa-apa lagi. Seluruh kecurangan (dan kebahagiaan) yang kita tanam di taman itu sudah mencukupkan hidup saya yang kian banal. Kecurangan dan kebahagiaan yang mampu menampar wajah peradaban dan sistem hidup menumpuk kekayaan yang semakin menggerus hidup saya.

Pada setiap detik yang saya lewati bersamamu di taman itu, saya selalu menatap wajahmu untuk mengingatkan bahwa saya telah kehilangan banyak sekali kata “cukup” dalam proses kemenjadian. Dan di setiap pelukanmu di taman itu, saya menjadi cukup dan merasa utuh sebagai seorang kekasih.

Perempuan di paruh waktu
hatinya teguh ditempa kalut
lelaki di ujung tanduk
harapannya sederhana
sekisah tanpa cerita.

Jika yang tersisa hanya kita berdua…

Lepas dari pelukanmu berarti saya harus kembali ke peradaban yang menyebalkan, kembali menekuni sebuah gerak menuju mati yang sama sekali tidak menarik! {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s