Kita yang kekal dalam ketiadaan

Pagi masih berkisah tentang rindu yang belum tuntas. Malam masih bercerita tentang dendam yang harus dibalas. Dan, pada satu masa, izinkan saya kecupkan hasrat kita pada keteduhan mata di wajah senja milikmu.

* * * * *

Saya mengumpulkan kembali sisa-sisa berkah semesta yang tercecer di pelataran depan rumah. Jangan pernah bertanya apa yang saya tanam dalam saku celana. Saya adalah apa-apa yang bisa diraba dan sama sekali tidak terasa.

Kamu menenun kembali benang-benang harapan agar tidak tereduksi menjadi nyanyian luka. Bersama arus warna-warni yang berkilauan di langit paling utara. Kamu adalah apa-apa yang bisa dirasa dan sama sekali tidak teraba.

Kita terus menyeret impian, menaruhnya ke dalam cawan yang telah penuh dengan kerinduan. Kita adalah seonggok daging dan segumpal darah, menyatu dalam perjalanan menuju satu-satunya kepastian: kematian. Kita pun berdamai dengan ketiadaan. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s