#BanalitasHarian: pesta, musik, buku, dan bola

Beberapa jam yang lalu Juventus kasih lihat penampilan nyaris sempurna sebagai unit kerja yang kompak kala mempecundangi AS Monaco dua gol tanpa balas, saya menulis ini dengan sisa-sisa kebanggaan dan rasa puas. Setelah menderita di 20 menit awal pertandingan — terutama karena pergerakan ciamik pemuda 18 tahun, Kylian Mbappé — Juve mulai bisa untuk tampil tenang dan dewasa. Gol pertama itu datang dengan cara dan proses yang begitu sedap untuk diputar-ulang seharian: satu pergerakan serangan-balik, dua umpan-tumit, dan Gonzalo Higuaín memungkasinya dengan sepakan mematikan. Dan, 30 menit kemudian, Higuaín mengakhiri assist aduhai Dani Alves dengan finishing touch yang sadis untuk menuntaskan misi di Monaco dengan manis. Sayangnya — atau lebih tepat: sialnya — saya menikmati itu semua melalui layanan siaran streaming dengan kualitas tampilan gambar yang cukup buruk dan berjalan tersendat-sendat mirip berkas presentasi Microsoft PowerPoint bos saya yang membosankan. Menonton siaran streaming sepakbola macam itu membikin saya mengingat kata-kata kawan saya, Andre Barahamin: “Ini semua gara-gara sayap kanan lagi nguasain dunia..

Sebelum ini, pada Jumat malam pekan kemarin, saya menonton — kali ini melalui layanan streaming yang lancar — Juventus kesulitan ketika bertandang ke Stadio Atleti Azzurri d’Italia di Kota Bergamo. Atalanta dengan gaya main yang paling enak ditonton (minus konsistensi) di Serie A Italia musim ini berhasil membikin Juve menderita meski pertandingan berakhir dengan skor imbang 2-2. Keesokan harinya, saya menonton Real Madrid menang melawan Valencia padahal saya berharap tim yang diperkuat Cristiano Ronaldo itu kalah. Ya sudahlah, tidak apa-apa.

Bagi saya yang cuma seorang budak kantoran, bukan pekerja buku dan bukan pula pemuda yang hobi menyakiti diri sendiri, rasanya berat untuk menghabiskan buku yang ketika dibaca tidak mampu merangsang perasaan senang yang membuncah dan ikatan emosional yang mendalam. Perasaan senang dalam membaca buku, menurut saya, dapat hadir melalui plot cerita yang membikin penasaran dan memiliki kedekatan personal, humor yang tidak garing, serta gaya bahasa yang unik; sedangkan buku yang tidak menyenangkan biasanya berbentuk macam ini: ditulis dengan rangkaian kata-kata yang terlampau puitis namun receh dan membosankan sehingga tidak pernah mampu mengajak saya sampai ke halaman terakhir. Buku yang membosankan tidak memiliki pengaruh dan tidak bisa memberikan pengalaman orgasmik apa pun ketimbang kumpulan video Radiohead, Rachel Sutanto, dan Daughter.

Baru-baru ini saya menemukan kesenangan itu pada halaman demi halaman di buku Tamasya Bola: Cinta, Gairah, dan Luka dalam Sepakbola tulisan Darmanto Simaepa. Membaca buku ini, saya seperti didongengkan kisah menarik oleh tukang cerita jahanam yang jago melawak dan paham tentang sepakbola. Saya juga menemukan sisi personal Darmanto yang begitu kental dan dekat — baik itu dalam kapasitasnya sebagai peneliti kesepian yang menghabiskan sekitar delapan tahun di Mentawai atau kualitasnya sebagai pesepakbola amatir yang mencapai puncak kariernya di pertandingan-pertandingan antarkampung pada bulan Agustus tiap tahunnya. Buku kumpulan esai ini ditulis Darmanto dengan pilihan kata-kata unik-sedap yang menggugah selera, bukan kumpulan frasa kaku dan seragam khas wartawan bola kebanyakan yang kerap mengingatkan saya pada iklan pendek obat kulit yang diulang sampai tiga kali dalam sekali tayang: bukan cuma membosankan, namun juga bikin eneg dan jengkel setengah mati! Buku ini adalah oase yang hadir di tengah-tengah kepungan tulisan sepakbola berbahasa Indonesia yang menjemukan dan memuakkan.

Sebab sepakbola bagi saya adalah suntikan penenang bagi pesakitan, atau kekasih bagi perindu dendam, atau eskapisme bagi kesumpekan harian, atau ampunan bagi pendosa laknat; sebuah permainan indah yang mengasyikkan. Dan itulah sebabnya sepakbola harus diulas, ditulis, dan diceritakan dengan indah dan asyik-masyuk. Tamasya Bola: Cinta, Gairah, dan Luka dalam Sepakbola penuh dengan cerita-cerita menyenangkan yang membikin saya tidak merasa sia-sia telah mengenal sesuatu bernama buku dalam banalitas hidup harian saya. Menikmati tulisan-tulisan Darmanto ini semacam orgasme di ujung aktivitas seks dengan kekasih: memuaskan dan bikin ketagihan. Buku ini kian membikin saya jatuh cinta kepada sepakbola (dan kekasih saya).

Pekan ini dibuka dengan Hari Raya Proletariat yang selalu dipenuhi dengan perayaan akbar (beserta debat-debat yang mengikuti di belakangnya) oleh kaum pekerja di seluruh penjuru dunia tua yang semakin tidak baik-baik saja ini. Negara dan kapitalisme masih menjalin hubungan laknat untuk mengisap para pekerja dan menindas sub-altern tanpa ampun. Mungkin ada yang salah dengan taktik perlawanan dan strategi perjuangan yang selama ini digunakan, atau mungkin ada penyebab lain yang membikin ketimpangan dan ketidak-adilan itu masih terus-terusan terjadi. Yang jelas adalah jika ingin membangun sebuah dunia yang lebih baik dan lebih layak untuk ditinggali ketimbang dunia tua saat ini agar bisa memproduksi kebahagiaan, maka negara dan kapitalisme harus diserang di bagian yang paling mematikan dan dihancurkan dua-duanya secara bersamaan. Solidaritas untuk mereka yang masih gigih melawan sampai hari ini. Panjang umur perlawanan! Panjang umur anarki!

Ada artikel menarik berlatar-belakang Mayday yang ditulis dengan ringkas, personal, dan penuh emosi di blog INSOMINASI berjudul Besok Adalah Hari Raya. Sementara kanal kabarburuh memublikasi surat terbuka bertajuk Kepada Para Pejabat, Tak Usah Ajari Kami Bagaimana Merayakan May Day yang ditutup dengan permohonan izin dan sarkasme: “… biarkan kami merayakan hari perlawanan kami dengan jalan yang sudah diajarkan sejarah pada kami. Jalan perjuangan, pengorbanan dan demonstrasi. Sementara itu, silahkan kalian pandangi kami dengan kecemasan berlebih dan lutut bergetar.” Lalu situs Sedane menayangkan tanggapannya terkait surat edaran yang menganjurkan agar “kegiatan peringatan Hari Buruh Sedunia dilaksanakan dengan kegiatan positif berupa aksi sosial dan dialog, bukan aksi unjuk rasa” dari Kementerian Ketenagakerjaan Indonesia. Dalam artikel berjudul Utamakan Sopan Santun, Lupakan Penghisapan itu, Tim Redaksi Sedane menyayangkan dan mengkritik usulan Kemennaker RI yang memang konyol dan menyebalkan itu, seolah-olah masalah ketimpangan dan ketidak-adilan di dunia kerja bisa diselesaikan dengan pembagian hadiah, panggung hiburan, kerja bakti, dan aktivitas kegiatan menanam pohon.

Di sela-sela aktivitas membudak harian pada Sabtu kemarin, saya membaca dua syair menarik yang tayang di blog-nya Mbak Ana: Sajak Terkutuk; Mencukupkan Pemuisi dalam Ironi tulisan Pujowrst dan Dea(th), serta Dramaturgi Ambisi dari Pengobral Janji karya pandiga dan Dea(th). Tadi, sewaktu mengakrabi pagi yang malu-malu bersama secangkir kopihitam dan senyum sang kekasih di teras rumahnya, saya menyempatkan diri membaca esai lumayan panjang berjudul Kuasa dan Birahi tulisan Bima Satria Putra yang dipublikasi oleh anarkis.org yang ingin berbagi kegelisahan tentang isu seksualitas, peran gender, hasrat berahi, dan cinta, yang sekarang ini — mencomot kata-kata Bima dalam tulisannya — “dikontrol oleh kuasa (negara), dosa (institusi agama), dan modal (kapitalisme)” dan karena itulah perjuangan untuk “menghancurkan kekuasaan dan meredistribusikannya, seperti diinginkan para anarkis, tidak bisa melepaskan dirinya dari persoalan ini”. Selain itu, ketakutan dan obsesi terhadap kesucian telah dibangun sedemikian rupa sehingga individu menjadi kian berjarak dengan tubuh, menjadi semakin asing dengan tubuhnya sendiri. Dan ketika seseorang telah merasa asing dengan sesuatu yang menjadi hak primordialnya, bagaimana bisa mengharapkan terciptanya revolusi sosial demi kehidupan yang lebih baik dan lebih membahagiakan ketimbang hari ini? Saya jadi teringat film The Dreamers (2003) dan penggalan lirik Don’t Look Back in Anger-nya Oasis: “So I’ll start a revolution from my bed…

Tahun ini, untuk merayakan ulangtahun ke-20 album OK Computer (1997), Radiohead bakal merilis ulang album tersebut dengan judul OKNOTOK 1997 2017 (2017) dalam empat format: vinil, digital, CD, dan boxed edition. Rilisan OKNOTOK 1997 2017 ini berisikan 12 materi asli OK Computer, delapan lagu yang sempat muncul di album B-sides, dan tiga track yang belum pernah dirilis sebelumnya (Man of War, Lift, dan I Promise), yang semuanya di-remastered (saya tidak tahu padanan kata ini dalam bahasa Indonesia) dari versi aslinya.

Karena ikut-ikutan terjebak dalam atmosfer nostalgia untuk meromantisir OK Computer, sembari menunggu OKNOTOK 1997 2017 dilepas di pasaran, saya akhirnya memasang album ketiga Radiohead itu di daftarputar Winamp dan dengan sadar memasrahkan diri untuk kembali terbuai karya seni adiluhung yang memiliki kualitas surealis dan sinematik itu dalam beberapa hari terakhir ini.

Dan untuk melengkapi momen nostalgia dengan tahun 1997, saya juga menyisipkan tiga album rilisan tahun tersebut dalam daftarputar yang saya ambil dari stok mp3 yang ada di laptop butut saya:

— Bob Dylan merilis Time Out of Mind pada tahun 1997 yang kualitasnya nyaris menyamai OK Computer. Time Out of Mind adalah album ensambel dengan musik mengawang dan menenangkan yang berkisar dari rasa trauma terhadap kekacauan masa lalu. Rasa percaya diri dan keberanian Dylan muda sudah lama hilang, digantikan oleh suara yang terdengar lebih tegas sekaligus juga gelisah dan kebingungan. Seperti yang disarankan Dylan dalam lagu Tryin’ to Get to Heaven, ini adalah suara yang sekarang cuma percaya satu hal: “When you think you’ve lost everything, you find out you can lose a little more.

Nimrod-nya Green Day, yang juga dirilis pada tahun 1997, menunggu giliran untuk menebar aroma nostalgianya setelah OK Computer dan Time Out of Mind di daftarputar Winamp saya. Secara retrospektif, Nimrod terdengar enak di kuping karena keragaman dan eksperimen musiknya yang mencampurkan unsur-unsur dari surf rock, ska, punk rock, neo-psychedelic, dan folk di mana lirik-liriknya membahas tentang refleksi pribadi, urusan kebapakan, dan kedewasaan yang dinyanyikan dengan tulus oleh Billie Joe Armstrong. Dan jika menilik perjalanan musiknya sejak merilis Nimrod, Green Day semestinya membikin karya yang kualitas musiknya seperti album ini.

— Lalu ada Dude Ranch, album kedua dari Blink-182 rilis pada 1997, yang ternyata cukup seru ketika disandingkan dengan OK Computer, Time Out of Mind, dan Nimrod. Album Dude Ranch adalah contoh dari pop-punk mentah yang menarik dengan kekasaran suaranya yang cukup menawan. Senang rasanya menikmati rekaman Blink-182 yang masih terdengar kasar, tanpa kilau aneh akibat polesan mixing studio yang berlebihan. Dude Ranch merupakan rekaman musik yang benar-benar jujur dan apa adanya, tidak sombong dan tidak membosankan, hanya menyenangkan dan lumayan membekas di batok kepala: di sini Blink-182 adalah remaja yang menjadi anak-anak penuh keriangan, dan mereka seharusnya tetap seperti itu. Andai saja grup-grup musik pop-punk belakangan ini bisa secara konsisten membikin rekaman seperti Dude Ranch, saya berani jamin bahwa pop-punk tidak bakal berubah menjadi semacam omong kosong. Dengan suara musik yang riang dan kencang, lagu-lagunya menarik, serta lirik yang ditulis dengan baik, Dude Ranch menunjukkan bahwa Blink-182 pada saat itu adalah unit musik remaja yang tidak mengira bakal menjadi kekuatan di blantika musik dan mereka baik-baik saja dengan hal itu, tidak menjadikannya permasalahan rumit. Blink-182 pada saat itu hanya ingin bersenang-senang dan saya menyukainya.

Selain itu, sepekan terakhir ini saya juga mendengarkan album-album rilisan Yes No Wave Music: (1) MUSIC BEYOND NO BORDERS VOL. 3 (Indonesian Netlabel Union) (2010), sebuah album kompilasi yang dirilis dengan tujuan untuk mengenalkan eksistensi netlabel Indonesia kepada publik dan memulai sebuah jaringan kolektif antarnetlabel di Indonesia, berisikan sepuluh lagu yang dicomot dari album-album yang dirilis pada kurun waktu  tahun 2000 sampai 2010; (2) MEGAMIX MILITIA Vol. 1 (2010) yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis tentang otentisitas, orisinalitas, dan kebaruan, serta melakukan eksperimen dan pencarian bentuk-bentuk alternatif produksi budaya, berisikan sepuluh lagu remix/mashup dari Uma Guma, TerbujurKaku, Shorthand Phonetics, JFK, dan Bottlesmoker; dan (3) Jalang (2014) dari Pribumi, tujuh materi yang mengombinasikan larik-larik puisi yang memikat, kuat, jujur, gamblang, dan tidak pretensius dengan musik yang sekadar difungsikan sebagai pengiring manis yang sadar porsi.

Ah iya, pada hari Minggu kemarin saya pergi ke syukuran atau hajatan yang diinisiasi oleh kawan-kawan punk di Malang.

Sebagai manusia keturuan Austronesia yang bertumbuh-kembang di zaman modern dengan budaya teknologi yang serba-instan dan serbacepat, kawan-kawan punk yang berkumpul di Bedengan, Malang, pada hari Minggu (saya selalu ingin bernyanyi Naik Delman setiap menulis kalimat ini, :D) kemarin mungkin saja sudah asing dengan rumah adat, pengayauan, dan ritual menyembah roh-roh nenek moyang yang bersemayam di pepohonan atau batu-batuan. Namun, saya pikir, mereka masih berhak dan sah-sah saja mengklaim diri sebagai pewaris tradisi-tradisi itu karena masih melestarikan salah satu ritual warisan nenek moyang. Dalam tradisi kebudayaan Jawa dikenal selametan, orang-orang Sunda Wiwitan punya seren taon, sementara di Mentawai ada punen. Dan kawan-kawan punk selalu memiliki alasan untuk berpesta, kali ini bertajuk Fuck Your Band Fest. Mungkin aneh dan terkesan memaksa untuk menyandingkan sebuah festival punk dengan tradisi nenek moyang, namun semua itu memiliki benang merah: syukuran, atau perayaan. Setidaknya, itulah yang saya dapati dari Fuck Your Band Fest kemarin.

Mungkin ini tidak ada kaitannya dengan pepatah orang-orang Jawa (“makan gak makan yang penting kumpul”) sebab dalam setiap syukuran dan pesta perayaan apa pun, makanan selalu tersedia melimpah dan minuman meruah. Saya tidak tahu persis konsep dari “tradisi” yang diusung oleh penggagas hajatan Fuck Your Band Fest. Yang saya tahu, dalam acara seperti itu selalu ada sukacita dan keceriaan yang bisa dibagi bersama-sama. Semua berkumpul untuk makan-makan, minum-minum, bersenda-gurau, berjoget, dan berpesta sampai lelah.

Bagi saya, pemuda yang nyaris kalah dihajar rutinitas banal dengan kejam, Fuck Your Band Fest bukan cuma sekadar festival musik agar bisa merasakan kembali atmosfer dan kultur punk yang dulu pernah saya akrabi sekian lama. Bedengan adalah tempat gigs punk paling jauh yang saya kunjungi dalam kurun waktu empat atau lima tahun terakhir. Puluhan (atau ratusan) kilometer di antaranya ada percakapan-percakapan dan suguhan keindahan alam yang jarang sekali saya dapati dalam hidup harian saya di kota. Ketika Yanu Situmorang (kawan yang membonceng saya ke Bedengan) nyerocos tentang teori Bumi datar dan konspirasi-konspirasi jahanam yang mengatur dunia, saya lebih banyak mendengarkan, sementara indra penglihatan saya sibuk mencerna lanskap seksi dari desa-desa yang kami lewati. Dan, tentu saja, perjalanan macam ini punya banyak sekali manfaat. Saya bisa sedikit menjauh dari kepenatan dunia kerja, bisa mengistirahatkan emosi dari tuntutan sang kekasih, atau bisa melarikan diri sejenak dari ruwetnya kehidupan urban. Perjalanan macam ini juga bisa memberi saya rasa nyaman untuk bertemu dengan kawan-kawan lama, berkumpul kembali sebagai sebuah keluarga (apa pun definisi tentang keluarga), sebab sekuat apa pun saya (dan kamu) bersendiri dan mandiri, toh terkadang kolektivitas memang dibutuhkan untuk memberikan rasa nyaman dalam kehidupan di dunia tua yang semakin tidak baik-baik saja ini.

Dalam novelnya yang berjudul Cintaku di Kampus Biru, Ashadi Siregar mengenalkan istilah “buku, pesta, dan cinta” dalam kehidupan (kolektif) mahasiswa di Yogyakarta. Saya tidak tahu apakah kata “cinta” bisa menemukan makna terbaiknya di Fuck Your Band Fest. “Cinta” lebih mirip alegori dalam sahut-menyahut obrolan dan, entah kenapa, sepertinya orang-orang memang menghindari perbincangannya secara terbuka. Namun saya pikir “cinta” dalam pengertian terbaiknya memang bakal selalu ada untuk menyelimuti acara-acara festival punk. Saya bisa merasakan dan menangkap “cinta” dalam tiga hal ini: percakapan-percakapan, lagu-lagu keras dan kencang yang menghentak, dan berbotol-botol arak lokal — tiga hal yang menjadi alasan di balik kehangatan punk.

Syukuran, pesta perayaan, atau hajatan menjadi salah satu medium untuk mengintegrasikan manusia-manusia yang berbeda di mana semua orang berupaya untuk meleburkan diri (meski tidak semuanya berhasil) dalam nuansa kolektif dan atmosfer kebersamaan. Dalam Fuck Your Band Fest: semua menyanyi dan berjoget — meski sebagian dilakukan hanya dalam hati — untuk merayakan sejenak momen kebersamaan, untuk mempersetankan kesunyian dan kesenyapan, untuk melupakan rutinitas harian yang kian banal, untuk melarikan diri sebentar dari kejamnya kenyataan, untuk membikin jeda dan jarak dari masalah yang membebani diri sendiri, untuk bertahan dari segala tekanan dan mencoba menghidupi hidup dengan sesuatu yang lebih menyenangkan dan lebih bermakna. Yang paling penting adalah dalam kebersamaan ini seluruh jiwa dan hasrat yang mengambang di udara dan berasal dari nasib yang berbeda-beda dipertemukan dalam waktu dan ruang yang sama.

Yang terakhir, saya sarankan kamu menonton video Children’s Honest Answers to Life’s Big Questions berdurasi empat menitan yang ditayangkan situs Unlimited dan kamu bakal merasa telah berubah menjadi individu yang semakin membosankan setelah beranjak dewasa, bahwa manusia telah melewatkan banyak hal yang menyenangkan hanya untuk sekadar bertahan hidup dan semakin lupa untuk menghidupi hidup.

Tabik. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s