Kematian dan tuhan yang telah mati

#Untuk V: siapakah yang menentukan jam kematian seseorang, puan?

Mana yang benar: mati yang dibenar-benarkan atau benar-benar mati?

Apakah makhluk yang telah mati memang benar-benar mati? Atau mereka sebenarnya tidak mati, hanya kita yang menganggap mereka mati? Mereka yang mati atau kita yang mati?

Kemeriahan terjadi di taman kehidupan. Mereka bersuka-cita merayakan kematian yang telah mati, dengan burung dandang-haus di atas atap dan perawan-perawan yang membawa cawan suci. Mereka bersorak layaknya malam bersetubuh dengan terang pagi. Kematian menghunuskan belati di dada kiri, nyanyian burung dandang-haus mengiringi kematian yang telah mati.

Bisakah kematian digantikan oleh kematian yang lain? Atau mungkin mereka berdua sebenarnya sama-sama meminum racun kemudian mati sebagai sepasang kekasih?

Malam dan kematian selalu pekat. Serupa warna kebenaran yang selalu saja mati muda, padahal ia adalah berkah di antara sekat yang paling tersirat. Seperti apakah bentuk kebenaran setelah mati? Apakah berbentuk persegi, oval, dusta, bulat, atau serupa kita yang sedang berbicara menuntaskan rindu di dada?

Apakah kematian juga bisa tersesat dalam lupa, bahwa ia telah mati? Atau kematian malah menertawakan kita karena sebenarnya kita-lah yang telah mati? Jadi siapa sebenarnya yang telah mati: kematian atau kita? Jangan-jangan kita adalah kematian itu sendiri.

Kematian (yang telah mati) selalu saja mewujud di dalam batok kepala. Tepat sebelum malam benar-benar mati menjemput pagi. Tertawalah, rayakan kematian agar mereka benar-benar mati tanpa harus dibunuh dengan racun keabadian. Perayaan kematian.

Kematian itu egois dan ia tidak punya tangan! Kita tidak bakal pernah tahu kapan ia akan berkunjung dan mengetuk pintu rumah.

Apakah kematian juga boleh berdoa kepada tuhan? Berharap agar dikuburkan bersama doa-doanya oleh tuhan? Karena tuhan adalah sosok yang maha jenaka maka ia tidak hanya membiarkan doa-doa kematian tetap hidup, tetapi juga menjadikannya sebagai lampu di dalam makam kematian. Kemudian tuhan menaburkan dosa-dosa sebagai pewangi di atas makamnya.

Di balik makamnya, kematian tertawa girang. “Tuhan yang bodoh. Bukan aku yang mati, melainkan kau yang mati!” Kematian bersorak penuh kemenangan.

Kematian mengira tuhan telah mati, tuhan mengira kematian telah mati. Mereka saling mengira hingga keduanya benar-benar mati, pada akhirnya.

Kematian dan tuhan — mereka berdua telah mati. Yang ada hanyalah kita: akhir yang tidak pernah selesai. {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s