#BanalitasHarian: remah-remah horor Pilkada Jakarta

Pertengahan pekan kemarin, salah satu kawan saya yang berdomisili di Jakarta mengirimkan pesan singkat yang menyatakan kelegaannya karena Pilkada Jakarta telah rampung. Pilkada Jakarta memang terkesan seperti drama horor yang dimainkan oleh nyaris semua orang. Saya menyamakan “pesta demokrasi” itu layaknya film horor lokal lawas yang ending penyelesaian konfliknya selalu melibatkan simbol-simbol agama. Saya merasa eneg, lebih memilih untuk keluar dari keruwetan linimasa media-sosial yang heboh dengan Pilkada Jakarta dan sengaja tidak ingin terlibat apa-apa tentang itu. Keesokan harinya, kawan saya yang lain mengirimkan pesan WhatsApp bergambar potongan tajuk berita Ahok Tewas di Tangan Anies, saya membalasnya: “Laporkan ke polsek terdekat.

Hasil resmi Pilkada Jakarta rencananya bakal diumumkan oleh KPU pada bulan Mei mendatang, namun hitung-cepat dari berbagai lembaga penghitungan suara melaporkan kekalahan pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat. Bahkan Anies Baswedan telah menyampaikan pidato normatif bahwa ini adalah “kemenangan untuk semua warga Jakarta dan mari bersatu kembali untuk mewujudkan Jakarta yang baik untuk semua”. Saya teringat Presiden Amerika Serikat sekarang, Donald Bebek, er maaf, maksud saya — Donald Trump, yang juga menyampaikan pidato serupa setelah kampanyenya yang rasis, memecah-belah, dan brutal: saatnya bersatu kembali. “Bersatu kembali” dalam bayangan saya adalah tidak akan ada lagi pelabelan kafir dan munafik bagi orang-orang yang terlanjur memilih untuk mendukung pasangan non-muslim. Namun saya tidak bisa membayangkan apakah jenazah orang yang mendukung Ahok bakal disalati atau tidak.

Dalam masa kampanye Pilkada Jakarta pernah ada ancaman melalui ceramah dan bentangan spanduk bahwa orang Islam yang mendukung Ahok tidak bakal disalati ketika dia nantinya mati. Ada masalah serius terkait kampanye macam itu. Jika ancaman dalam kampanye tersebut dilakukan — sebab harga diri setiap orang terletak pada bacotnya yang bisa dipercaya — maka hal itu bakal membikin masyarakat tetap terkoyak dan terpecah belah. Sebaliknya, jika ancaman itu tidak dijalankan maka hal itu bisa menjadi bukti sahih bahwa agama cuma dijadikan alat untuk melakukan intimidasi semata untuk mencapai tujuan dari pihak-pihak tertentu, dan ketika semuanya telah berhasil dicapai maka agama bakal kembali disimpan dan akan digunakan kembali ketika politik membutuhkan intimidasi dan orasi baru untuk mengerahkan massa atas-nama agama. Saya sudah terlampau eneg dengan yang hal-hal macam itu, namun begitulah, para politikus adalah spesies menjijikkan yang bakal melakukan segala cara demi mendapatkan kekuasaan.

Sesudah Pilkada Jakarta yang melelahkan dan menggelikan itu apakah kepala dan hati bisa benar-benar tenteram dan damai? Tentu saja tidak, anak muda. Sehari setelah pelaksanaan Pilkada Jakarta pada pekan kemarin itu kita disuguhi kisah baru yang bikin heboh dan gaduh linimasa media-sosial: investigasi Allan Nairn tentang rencana mengudeta Presiden Joko Widodo melalui kasus penistaan agama yang ditayangkan pertama kali oleh situs The Intercept dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh tirto.id. Dalam hasil investigasinya, Nairn menyebutkan bahwa Ahok hanyalah dalih atau sasaran bayangan, sementara sasaran utamanya adalah Jokowi. Nairn menyisir kaitan antara Trump, Susilo Bambang Yudhoyono, Prabowo Subianto, dan Hary Tanoesoedibjo di balik Aksi Bela Islam, serta menunjukkan keterlibatan para jenderal yang masih aktif, termasuk yang ada di kubu Jokowi, dan yang sudah pensiun untuk mendongkel Jokowi dari kursi kepresidenan.

Markas Besar TNI telah membikin sangkalan terhadap laporan investigasi Nairn dengan menyatakan artikel tersebut sebagai hoax dan melaporkan kedua situs yang menayangkannya ke polisi. Itu adalah respons menggelikan dan reaksi yang mudah sekali ditebak. Karena malas untuk ikut terseret kehebohan media-sosial terkait hal itu, saya lebih memilih untuk mojok dan diam-diam mengunduh film Ada Apa dengan Cinta? 2 (2016) dan menontonnya berdua saja dengan kekasih saya di kamar kos saya yang pengap. Saya tidak bakal menceritakan film itu di sini, sebab kamu mungkin sudah menontonnya dan tahu jalan ceritanya serta saya malas untuk menceritakan film super-receh macam itu. Bagi yang belum menontonnya, kamu bisa baca ulasan saya di sini. Oh iya, untuk kamu yang tidak tahu sosok seperti apa sih Allan Nairn itu, sila dibaca profil Nairn yang ditulis oleh Windu Jusuf di sini.

Pekan kemarin juga ditandai dengan perayaan seremonial (banal) Hari Kartini. Sama seperti yang sudah-sudah atau perayaan-perayaan lainnya, Hari Kartini selalu diwarnai dengan debat usang yang terus-terusan didaur-ulang sedemikian rupa setiap tahunnya. Dan yang paling menyebalkan dari itu semua adalah perayaan Hari Kartini hanya dijadikan momen untuk pamer konde dan kebaya, pengultusan (secara paksa) simbol-simbol Jawa, serta argumen tentang bagaimana perempuan seharusnya bersikap. Dari riuh-rendah media-online, hanya ada sedikit artikel menarik terkait perayaan Hari Kartini yang bisa saya baca pekan kemarin: (1) Menyanjung Semua Tanpa Menjatuhkan Yang Sudah Disanjung yang ditulis oleh Bibay dan tayang di blog Kami Perempoean yang dibuka dengan pengakuan dosa penulisnya untuk kemudian dilanjutkan dengan kemuakannya terhadap glorifikasi perayaan seremonial Hari Kartini; (2) tulisan Fawaz Al Batawy berjudul Sosrokartono Sang Poliglot yang tayang di Boleh Merokok tentang profil kakak kandung Raden Adjeng Kartini “yang membuat Kartini begitu bernas dengan pemikiran dan gagasan-gagasannya tentang emansipasi wanita, tentang pendidikan, tentang kebangsaan, dan berbagai isu yang ia curahkan dalam tulisan”; dan, mungkin yang ini tidak ada sangkut-pautnya dengan Hari Kartini namun tetap menunjukkan kredibilitas perempuan yang patut dsanjung, (3) 10 Iconic Women Who Changed Cinema tulisan Kate Erbland di situs IndieWire yang merangkum sepuluh perempuan luar biasa di dunia perfilman. Selain Hari Kartini, pekan kemarin juga dirayakan Hari Bumi dan ada artikel menarik tulisan Andre Barahamin berjudul Mengapa Hari Bumi Kini Membosankan dan tayang di Kumparan yang ditutup dengan sedap: “Karena kita menolak paham bahwa kerusakan bumi dan krisis iklim adalah persoalan struktural dan bukan aksi-aksi artifisial. Kita menolak tahu karena tidak ingin mengecewakan diri bahwa sebentar lagi bumi akan musnah.

Hari Minggu pagi saya menonton pertandingan sepakbola perempuan antara Orlando Pride vs. Washington Spirit melalui layanan streaming yang berakhir imbang 1-1. Line Jensen bikin gol terlebih dahulu untuk Washington Spirit yang kemudian di samakan oleh Danica Evans. Marta, pemain terbaik dunia sebanyak lima kali asal Brasil, melakoni debut untuk Orlando Pride dan bikin beberapa aksi gemilang. Saya pikir Alex Morgan nantinya bakal menjadi kepingan terakhir yang akan melengkapi gambaran besar Orlando Pride musim ini ketika dia kembali dari masa peminjamannya di Olympique Lyonnais. Sore menjelang petang, saya dan Kang Wahyu Soketz menonton kemenangan Arema FC melawan Bhayangkara FC dengan dua gol tanpa balas lewat Dedik Setiawan dan Esteban Vizcarra, sementara saya menganggap Arema FC bermain terlalu sungkan dan kurang sadis di pertandingan kali ini. Tengah malamnya saya harus misuh-misuh karena layanan streaming yang buruk ketika menonton Juventus meremuk-redamkan Genoa dengan skor 4-0. Dari empat gol Juve yang dibikin oleh Mario Mandžukić, Paulo Dybala, Leonardo Bonucci, dan own-goal Ezequiel Muñoz, saya cuma kebagian tayangan ulangnya saja.

Selain Ada Apa dengan Cinta? 2, saya menonton tiga film penghabisan yang ada di laptop butut saya. Yang pertama adalah film Rumania berjudul California Dreamin’ (2007) karya Cristian Nemescu yang mati karena kecelakaan mobil sebelum proses editing akhir film ini selesai. Ini adalah karya sinema yang keren dan indah tentang warga di sebuah kota kecil bernama Căpâlniţa yang disatukan oleh kondisi harian yang banal dan saya menikmati percakapan halus dan intim di antara mereka. Film ini kerap membikin saya senyum-senyum kecil ketika menontonnya karena berhasil mengingatkan tentang obsesi dan mimpi dan hasrat saya sendiri (yang sebagian besar tidak bisa saya wujudkan), serta rasa frustasi dan kecerobohan saya untuk memperbaiki diri saya sendiri. Ini adalah jenis film bagus yang harus kamu tonton, entah itu bersama sang kekasih atau sendirian.

Film kedua yang saya tonton adalah Black’s Game (2012) bikinan sutradara asal Islandia, Óskar Thór Axelsson, yang dibuka dengan subtitle menarik: “Based on some shit that actually happened.” Film ini berkisah tentang penipuan asuransi, perampokan bank, evolusi perdagangan narkoba (dari yang semula bertaraf lokal menjadi operasi internasional yang lebih terorganisir), dan penangkapan bandar narkoba terbesar dalam sejarah Islandia. Fokus utama filmnya berlangsung dari awal Desember 1999 sampai 1 Januari 2000 dengan berbagai macam pemandangan indah Kota Reykjavík yang melatar-belakangi aktivitas organisasi kejahatan bawah tanah Islandia. Sebagai crime-thriller, film ini tidak kekurangan energi namun plot ceritanya mengendur di second act dan semakin amburadul ketika memasuki bagian klimaksnya. Pada akhirnya, yang paling menarik dari film ini adalah subtitle pembukanya saja.

Summer Games (2012) yang disutradarai Rolando Colla menjadi penutup akhir pekan saya kemarin, bercerita tentang rasa frustasi seorang anak yang terjebak dalam kehidupan pertengkaran orangtua-nya. Si ayah seringkali memukul sang ibu, kadang dilakukan di tempat publik dan ditonton oleh banyak orang. Setelah dilecehkan, sang ibu kabur namun dia selalu kembali lagi. Horor keluarga itu membikin si anak yang berusia 12 tahun tertatik-tatih di ambang menjadi seorang sosiopat. Saya tidak bisa menentukan apa yang lebih traumatis dan membikin frustasi si anak: temperamen ayahnya yang susah dikontrol, atau fakta bahwa ibunya selalu kembali meski telah mengalami pelecehan yang paling buruk. Saya benar-benar tidak suka dan tidak bisa menikmati sebuah film yang menampilkan seorang perempuan diperlakukan kejam (secara fisik dan/atau verbal) dan dia tidak berbuat apa-apa kecuali bertahan dengan penyiksanya. Sialnya, hal itu menjadi bagian utama dalam plot cerita dan film ini tidak menawarkan solusi apa-apa. Film ini seperti ingin bilang bahwa kekerasan dalam rumah tangga merupakan lingkaran setan yang tidak bisa dibongkar: sifat turun-temurun yang ditakdirkan untuk diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sepekan terakhir ini saya nikmati dengan mendengarkan album-album musik macam Happy Coda (2013) dari Frau, Ratimaya (2015) dari Sarasvati, dan Merah (2016) dari Tika and The Dissidents. Frau menyiratkan bahwa dia masih perempuan yang sama ketika dia merilis album debutnya pada tahun 2010 silam, namun kisahnya beranjak maju mengarungi masa depan di album Happy Coda. Dentingan piano, lengkingan suara, dan momen yang selalu pas menjadikan Happy Coda sebagai orkestra apik yang layak untuk diputar berulang-ulang kali. Frau seolah-olah melakukan dekonstruksi pemahaman tentang bagaimana musik seharusnya dinikmati, didistribusikan, dan didokumentasikan. Pertahanan saya runtuh.

Sarasvati membuka Ratimaya dengan harmonisasi nada piano, hentakan drum, dan dentuman bas yang terdengar cukup pas dalam materi berjudul Centhini. Album Ratimaya didominasi dengan suara suling, string, piano, kecapi, dan nada-nada minor yang cocok untuk dijadikan musik pengantar tidur. Track favorit saya di album Ratimaya adalah Apakah Mata Kami Buta.

Merah, menurut saya, adalah album paling politis dari Tika and The Dissidents dan saya merasa berada di tengah-tengah medan perang ketika mendengarkannya. Melalui Merah, Tika and The Dissidents mempertanyakan kebenaran kolektif yang diusung oleh masyarakat yang penuh prasangka dan dogma kolot — entah itu dengan semangat perlawanan yang berapi-api dalam lagu Tubuhku Otoritasku dan Hawaiian Chicken Jam, atau dengan cara yang sensitif dan syahdu seperti dalam materi Unlearn the Fight dan Pukul Rata. Sang vokalis, Kartika Jahja, menulis lirik-liriknya kali ini tanpa tedeng aling-aling, menyerang ketimpangan, kekakuan, dan ketidak-adilan dalam struktur sosial hari ini. Patut mendapat salut.

Selain tiga album itu, daftar putar Winamp juga saya sisipi dengan album post-rock bertajuk Station (2008) dari Russian Circles, kompilasi Music Beyond No Borders Vol. 2 (2008) rilisan Yes No Wave Music yang berisikan campuran dari hibrida musik rock, ketenangan Because, Because (2011) dari There Will Be Fireworks, keberanian Monkey to Millionaire untuk keluar dari zona nyamannya dalam album Inertia (2013), dan album Rajasinga bertajuk III (2016) yang merupakan paket cadas paling sinting dan menyenangkan untuk membunuh malam bersama beberapa botol arak lokal. Cuma di album III kamu bakal mendengarkan raungan distorsi gitar yang mengiringi sekumpulan kalimat parodi dari teks Pancasila yang mahasakti itu.

Saya mendapati cerita menarik yang ditulis oleh Mas Samack di blog pribadinya tentang Bangkai (unit musik bawah tanah kawakan asal Malang) yang melakukan “‘perlawanan’ yang paling sederhana atas kekolotan dan dominasi musik pop arus utama” pada era ‘90an. Di tulisan lain yang berjudul Assemble The Press Kit… Turn That Shit Up!, Mas Samack membahas tentang press kit yang merupakan, mengutip kata-kata Mas Samack, “satu amunisi yang mutlak dimiliki oleh setiap band (baru) ketika mulai terjun ke belantara musik independen yang semakin riuh”. Dari /se·na·rai/, blog yang dikelola Mas Rivanlee, album terbaru Deugalih bertajuk Tanahku Tidak Dijual (2017) diulas dengan begitu sedap dalam artikel Deugalih di Antara Kolonial dan Milenial.

Oh iya, sebagai pemanasan untuk merayakan hari raya proletar pada tanggal 1 Mei besok, kamu bisa membaca artikel berjudul Emak-emak Militan (1): Taktik-taktik Perlawanan Perempuan Pembuat Sepatu Mizuno dan Adidas yang ditayangkan oleh situs Sedane tentang kisah perlawanan para pekerja perempuan yang dizalimi oleh PT Panarub Dwikarya Benoa di Kota Tangerang, Banten. Tulisan itu merupakan bagian pertama dari lima artikel yang merekam salah satu bentuk perjuangan kaum pekerja untuk menuntut hak dan mendapatkan keadilan dari para kapitalis-bau-amis yang selama ini mengisap dan mengeksploitasi tenaga kaum pekerja.

Sementara itu … masih ada sekitar 90an halaman yang harus saya habiskan dari Tamasya Bola: Cinta, Gairah, dan Luka dalam Sepakbola-nya Darmanto Simaepa sebelum April kali ini benar-benar tutup usia. Dan, ah, hampir sebulan ini gigi geraham saya yang sebelah kanan terus-terusan bermasalah.

Sial! {}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s